Thursday, October 8, 2026
Depan > Kemasyarakatan > Titik Realitas Ajak Pemuda Kabupaten Probolinggo Bangun Budaya Literasi dan Berpikir Kritis

Titik Realitas Ajak Pemuda Kabupaten Probolinggo Bangun Budaya Literasi dan Berpikir Kritis

KRAKSAAN – Komunitas Titik Realitas mengajak para pemuda untuk membangun budaya literasi dan mengasah kemampuan berpikir kritis melalui podcast yang disiarkan di LPPL Radio Bromo FM, Sabtu (1/8/2026). Podcast tersebut dipandu oleh penyiar Shasa dengan menghadirkan Founder Titik Realitas Ahmad Ali dan Ahmad Sofyan di Studio LPPL Radio Bromo FM di Jalan Raya Rengganis Nomor 1 Lantai Dasar Gedung Islamic Center Kraksaan.

Founder Titik Realitas Ahmad Ali mengisahkan komunitas tersebut berawal dari obrolan sederhana di meja-meja kopi. Saat itu, lima mahasiswa asal Kabupaten Probolinggo yang pulang dari perantauan sering berkumpul untuk berdiskusi mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, literasi hingga perkembangan pola pikir generasi muda.

Dari diskusi yang berlangsung secara rutin itulah muncul gagasan untuk membentuk sebuah komunitas yang dapat menjadi ruang belajar dan bertukar ide bagi masyarakat, khususnya para pemuda.

Ali mengatakan, Komunitas Titik Realitas resmi berdiri pada tahun 2025. Pada awal perjalanannya, kegiatan komunitas hanya berupa diskusi kecil di warung kopi dan kafe yang diikuti oleh orang-orang terdekat. Setelah berjalan sekitar lima bulan, mereka menyadari bahwa ruang diskusi tersebut belum mampu menjangkau lebih banyak kalangan.

“Dari situ kami sadar bahwa komunitas tidak bisa hanya menunggu orang datang, tetapi harus menjemput bola. Karena itu kami mulai memanfaatkan media sosial, khususnya Instagram, sebagai media syiar literasi agar semakin banyak anak muda yang memiliki keresahan yang sama bisa bergabung dan berkembang bersama,” jelasnya.

Founder Titik Realitas Ahmad Ali dan Ahmad Sofyan saat berada di Studio LPPL Radio Bromo FM. (Foto : Kominfo/Bromo FM)

Ia menambahkan, salah satu langkah awal yang dilakukan adalah mengajak anggota membaca novel sebagai pintu masuk membangun kebiasaan berpikir kritis. Berbagai karakter dan sudut pandang dalam karya sastra mampu memperluas wawasan serta melatih kemampuan menganalisis persoalan kehidupan.

Sementara Ahmad Sofyan mengatakan setiap pertemuan komunitas selalu mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pada pekan pertama, misalnya diskusi mengangkat tema cinta dan perjuangan para pahlawan dalam meraih kemerdekaan sebagai bahan refleksi bagi generasi muda.

Menurut Sofyan, tidak ada persyaratan khusus untuk bergabung dengan Titik Realitas. Siapa pun dapat menjadi bagian dari komunitas ini dengan memiliki komitmen untuk istiqomah dalam kebiasaan baik, mampu beradaptasi dengan lingkungan, memiliki kemauan untuk berdiskusi serta aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan gagasan positif. “Kami ingin ruang ini menjadi tempat tumbuhnya pemuda yang tidak hanya aktif berdiskusi, tetapi juga mampu membawa perubahan nyata di lingkungannya,” ujarnya.

Melalui komunitas tersebut, Titik Realitas ingin menciptakan generasi baru yang memiliki kesadaran tinggi terhadap pentingnya literasi dan pengembangan pola pikir demi masa depan yang lebih baik.

Sofyan mengajak para pemuda untuk tidak takut memulai langkah kecil. “Kuatkan rasa percaya diri dan bangun pola pikir kritis. Dari sanalah kita bisa menciptakan realitas yang lebih baik bagi bangsa dan negara,” pungkasnya. ***

Penulis : Dewi Siti Nur Aisyah
Editor : Tim Bromo Info