Thursday, February 29, 2024
Depan > Kemasyarakatan > Putus Penyebaran PMK, Jaga Higiene Sanitasi dan Penyemprotan Disinfektan

Putus Penyebaran PMK, Jaga Higiene Sanitasi dan Penyemprotan Disinfektan

Reporter : Syamsul Akbar
DRINGU – Penyebaran wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Probolinggo sangat cepat sampai 100 persen. Oleh karena itu, tidak semua orang boleh keluar masuk kandang dan tidak diperkenankan sapi dibawa keliling.

“Penyebarannya sampai 100 persen dan angka kesakitannya sampai 90-95 persen. Kesakitan itu tidak bisa makan dan tidak bisa berdiri. Sedangkan angka kematiannya itu bisa mencapai 1 hingga 5 persen,” kata Medik Veteriner Muda Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo drh. Nikolas Nuryulianto.

Untuk mencegah penyebaran wabah PMK semakin meluas jelas Niko, semua harus bersama-sama berupaya menghindari penularan PMK lebih meluas dengan jalan menjaga higiene sanitasi dan penyemprotan disinfektan.

“Jika hanya satu orang satu dalam daerah saja keluar ke tempat lain dan yang lainnya tidak melakukan higiene sanitasi dan penyemprotan disinfektan, maka hasilnya tidak maksimal. Makanya edukasi berupa pemberian informasi dan komunikasi kepada masyarakat harus disampaikan bahwa bukan hanya satu hingga dua orang ternaknya yang sakit saja yang melakukan higiene sanitasi dan penyemprotan, tapi semua daeah harus melakukan higiene sanitasi penyemprotan,” jelasnya.

Niko meminta masyarakat agar tidak pernah bosan dan tidak henti-hentinya melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan sekitar kandang, peralatan maupun peternak itu sendiri.

“Bahkan tamu yang akan masuk ke kandang juga harus disemprot. Tidak hanya itu, peternak yang sedang mencari pakan setelah pulang disemprot karena virus ini bisa menular melalui udara mana saja. Mkanya kalau mau keluar semport dan mau masuk juga disemprot,” terangnya.

Menurut Niko, untuk PMK penanganannya hampir sama dengan Covid-19. Tetapi PMK malah lebih kompleks lagi karena yang harus disemprot dengan disinfektan itu bukan hanya kandangnya saja, tetapi juga sarana dan prasarananya, ternaknya serta orang yang keluar masuk kandang.

“Jadi dalam penanganan wabah PMK ini banyak yang harus disemprot mulai dari kandang, ternak, peralatan hingga orangnya sendiri. Orang yang keluar masuk kandang harus menjaga higiene santasi dan penyemprotan disinfektan,” ujarnya.

Niko menerangkan menjaga hygiene sanitasi dan penyemprotan disinfektan ini perlu terus dilakukan sambil menunggu datangnya vaksin serotype O yang didatangkan dari Prancis. Sebab setelah dilakukan uji terhadap sampel yang ditemukan di Jawa Timur maupun daerah lain di Indonesia ternyata serotipe virusnya itu adalah O.

“Di dunia ini ada 7 serotipe dan sebetulnya kalau cuma ada satu serotipe itu akan lebih memudahkan pada saat pelaksanaan vaksin. Sebab jika serotipenya tidak sama maka tentunya akan merepotkan mau divaksin yang mana. Alhamdulillah serotipe virus PMK yang ada di Indonesia ini hanya satu yaitu serotipe O, makanya yang digunakan adalah vaksin serotipe O,” tegasnya.

Oleh karena itu Niko mengharapkan kepada peternak untuk tetap sabar dan tidak terpancing oleh isu-isu yang kurang baik yang ada di masyarakat. Terlebih menganggap PMK sudah biasa dan sudah ada sejak dahulu.

“Berikan kesempatan pemerintah untuk menangani virus PMK yang ada di masyarakat dengan baik dan benar sesuai dengan SOP protokol kesehatan PMK. Untuk cairan disinfektannya sama seperti yang dipakai dalam penanganan Covid-19. Informasi ini penting disampaikan kepada masyarakat agar virusnya tidak tambah menyebar lebih luas,” pungkasnya. (wan)