Saturday, April 13, 2024
Depan > Kemasyarakatan > Pertahankan Karakter Warna, Desainer Andi Sugix Minta Pembatik Harus Ikuti Trend Pasar

Pertahankan Karakter Warna, Desainer Andi Sugix Minta Pembatik Harus Ikuti Trend Pasar

Reporter : Hendra Trisianto
MALANG – Berawal dari kesempatan menjadi juri peragaan busana, sekaligus untuk mendukung promosi batik dan bordir di Kabupaten Probolinggo beberapa waktu lalu, Andi Sugix desainer ternama asal Malang mengaku mulai terpikat pesona batik pandalungan khas Kabupaten Probolinggo.

Ketertarikannya itu semakin kuat saat dipercaya membuat sebuah desain gaun malam berbahan batik pandalungan. Gaun ini untuk dikenakan Ketua Dekranasda Kabupaten Probolinggo pada sebuah even yang digelar Provinsi Jawa Timur di Surabaya.

Kolaborasi Andi Sugix dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo pun berlanjut. Kali ini dengan melibatkan lebih banyak karya batik UMKM yang tergabung dalam APBBA Kabupaten Probolinggo. Sembilan karya batik terpilih untuk tampil pada even Malang Fashion Week (MFW) 2023, Sabtu (4/11/2023) di Mall Sarinah Malang.

“Pada MFW 2023 ini saya membawakan Batik Pandalungan Kabupaten Probolinggo. Awalnya saya buat sketsanya dulu dan Alhamdulillah disetujui oleh Ibu Erik selaku Pembina UMKM Batik Kabupaten Probolinggo,” jelas Andi mengawali cerita.

Untuk mengeksplor lebih jauh karakter batik pandalungan, pada even MFW ini Andi membawakan desain gaun malam yang berkesan etnik glamor. Singkatnya ia ingin menunjukkan bahwa batik juga bisa dipakai pada busana premium, tidak melulu untuk kemeja atau bawahan saja.

“Total ada 9 desain dari UMKM yang berbeda yang kali ini diperagakan. Satu desain gaun malam untuk dikenakan Ibu Ketua Dekranasda dan 8 lainnya diperagakan oleh model profesional,” terangnya.

Sebagai desainer yang telah belasan tahun aktif mengikuti trend fashion, Andi memberikan kiat cerdas agar batik pandalungan lebih cepat dikenal dan digemari. Diantaranya agar para pembatik tidak terlalu menerapkan idealisnya pada rangkaian karya batiknya.

Komposisi filosofi atau narasi yang biasanya melekat pada batik tulis pandalungan itu menurut Andi tidak harus monoton atau pure diterapkan 100 persen pada sehelai batik. Bisa hanya cukup highlight atau percikan – percikan abstrak saja namun dengan eksen yang kuat dan cantik.

Sedangkan pada warna, Andi menyarankan jangan terlalu yang sesuai dengan selera atau kesukaan pebatiknya saja, tapi harus berani mengaplikasi trend warna yang sedang diminati pasar saat ini. “Pada dasarnya kita semua adalah pebisnis, jadi tidak bisa terlalu idealis. Intinya jika batik pandalungan ingin masuk pasar internasional, maka ikuti trennya,” ulasnya.

“Pertahankan karakter warna yang sudah dimiliki saat ini, karena ini adalah identitas yang membedakan ciri khas batik satu sama lain,” imbuhnya.

Sementara terpisah, Ketua APBBA Kabupaten Probolinggo Mahrus Ali menyampaikan banyak terimakasih kepada Pemkab Probolinggo dalam hal ini DKUPP (Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian) bersama mitra strategis Bank Jatim Cabang Kraksaan yang selalu supporting para UMKM batik Kabupaten Probolinggo untuk terus maju dan berkembang.

Memperhatikan saran dan kiat-kiat dari Andi Sugix tentang perkembangan tren batik dan selera konsumen yang semakin bervariasi, Mahrus bersama UMKM batik lainnya juga mulai bisa menangkap apa yang diinginkan oleh pasar.

“Saat ini kami sudah bisa membuat warna soft dan motif abstrak. Ke depannya kami akan lebih memperhatikan tren pasar, jika dibutuhkan warna dan motif soft kami akan membuatnya atau bahkan kombinasi warna soft dengan warna tajam ciri khas batik pandalungan Insya Allah kami siap,” pungkasnya.(dra)