Depan > Kemasyarakatan > Pemkab Lakukan Pemeriksaan Post Mortem Hewan Kurban 1443 H

Pemkab Lakukan Pemeriksaan Post Mortem Hewan Kurban 1443 H

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Pertanian (Diperta) melakukan pengawasan, pendataan dan pemeriksaan post mortem hewan kurban pada hari raya Idul Adha 1443 Hijriyah, Minggu (10/7/2022).

Kegiatan ini melibatkan 13 dokter hewan dan 66 paramedik veteriner se-Kabupaten Probolinggo. Serta, petugas teknis 24 kecamatan, Koordinator Wilayah se-Kabupaten Probolinggo dan Petugas Teknis RPH se-Kabupaten Probolinggo.

Dasar hukum kegiatan ini Undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan juncto UU Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 Tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan serta Permentan Nomor 114 Tahun 2014 Tentang Pemotongan Hewan Kurban.

Selanjutnya, Surat Edaran Menteri Pertanian Nomor 03/SE/PK.300/M/5/2022 Tentang Pelaksanaan Kurban dan Pemotonan Hewan dalam Situasi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (Foot and Mouth Disease), Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/362/KPTS/013/2022 Tentang Status Keadaan Darurat Bencana Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (Foot and Mouth Disease) serta Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor : 32 Tahun 2022 Tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban Saat Kondisi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku.

Medik Veteriner Muda Diperta Kabupaten Probolinggo drh. Nikolas Nuryulianto mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan penjaminan pangan asal hewan kurban yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).

“Selain itu, untuk melakukan pengawasan, pendataan dan pemeriksaan post mortem hewan kurban pada hari raya Idul Adha 1443 Hijriyah di wilayah Kabupaten Probolinggo,” katanya.

Menurut Niko, berdasarkan data yang diperoleh dari petugas peternakan yang ada di lapangan untuk sementara ini terdapat 738 ekor ternak kurban yang dipotong terdiri dari 138 ekor sapi, 444 ekor domba dan 156 ekor kambing. Total pemotongan ternak ini masih akan terus direkap sampai hari tasyrik.

“Pada tanggal 10 Juli 2022 ini baru ditemukan 1 (satu) cacing hati pada sapi dan kita sarankan supaya hatinya tidak dikonsumsi. Jadi hati yang rusak kalau bisa dibakar atau dipendam serta jangan dibuang sembarangan,” jelasnya.

Niko menjelaskan jika dibuang sembarangan cacing hati ini telur-telurnya akan menempel pada rumput dan dimakan lagi oleh sapi. Jadi penanganannya misalkan ada hati yang rusak karena mengandung cacing hati pada sapi lebih baik hatinya itu dipendam saja boleh dibakar agar telur-telurnya mati.

“Harapannya ke depannya para petani peternak itu setiap 6 bulan sekali rutin memberikan obat cacing pada sapi, kambing dan domba supaya bisa mengendalikan parasit di tubuhnya. Itu himbauan kepada para peternak sapi, kambing dan domba supaya tidak ada cacing hati lagi,” terangnya.

Lebih lanjut Niko menerangkan bahwa di masyarakat memang masih ada yang membungkus daging kurbannya yang menjadi satu dengan tulang, daging dan jeroan. Sudah disarankan agar tulang, daging dan jeroan dibungkus dengan wadah yang berbeda.

“Ada juga jeroan yang sudah direbus di luar RPH (Rumah Potong Hewan) di Kecamata Paiton. Setelah jeroan direbus baru dibagikan kepada masyarakat. Memang kita sarankan kepada semua pemotongan di luar RPH supaya jeroannya direbus. Kalau di RPH itu sudah biasa direbus jeroannya supaya tidak menularkan virus ke tempat yang lain,” tegasnya.

Niko meminta agar ke depannya masyarakat selalu menjaga higiena sanitasi. Intinya daging sapi, domba dan kambing walaupun ada virus PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) masih bisa dikonsumsi asalkan di masak dengan benar di air mendidih selama 30 menit. Jangan khawatir dan takut untuk memakan daging sapi walaupun sekarang ini banyak virus PMK asalkan dimasak dengan benar.

“Bahkan menurut dokter dari IPB, dibuat satepun aman untuk dikonsumsi karena pemanasannya diatas 70 derajat celcius. Apalagi dagingnya dipotong kecil-kecil. Seperti susu yang dimasak diatas 70 derajat celcius. Perlu digarisbawahi virus PMK tidak menular kepada manusia asalkan produk hewannya dimasak dengan benar dan tidak makan secara mentah,” pungkasnya. (wan)