Wednesday, October 27, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Pelaku Usaha Mikro Sektor Perikanan/Peternakan Dilatih Vocational

Pelaku Usaha Mikro Sektor Perikanan/Peternakan Dilatih Vocational

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Sebanyak 30 pelaku usaha mikro sektor perikanan/peternakan mendapatkan pelatihan vocational dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia, Jum’at hingga Minggu (17-19/9/2021) di Bromo Park Hotel Probolinggo.

Selama 3 (tiga) hari, puluhan pelaku usaha mikro sektor perikanan/peternakan ini mendapatkan materi strategi dan kebijakan pengembangan koperasi dan UMKM dari Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo Anung Widiarto, perkoperasian dari Kepala Bidang Kelembagaan Koperasi Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo Siti Khoiriyah dan pengolahan lele dari Nur Hasanah.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo Anung Widiarto menyampaikan memasuki tahun kedua pandemi Covid-19, kondisi disruptif ini terus berpengaruh pada kondisi sosial ekonomi masyarakat. “Dampak negatif tidak hanya memukul sektor kesehatan, namun berbagai sektor perekonomian khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM),” katanya.

Menurut Anung, kunci sukses UMKM ada pada kekuatan branding (citra) UMKM itu sendiri. UMKM harus membangun citra positif melalui proses upgrading quality dengan memperkuat personal branding (SDM), legality branding (legalitas) dan product branding (produk). Yang terbagi menjadi 3 (tiga) aspek utama yaitu organisasi, usaha dan permodalan. UMKM akan sukses dan berhasil jika aspek tersebut sehat serta berkualitas,” jelasnya.

“Untuk itu UMKM harus bangkit bersama dan terus berkarya serta mampu menjadi agen percepatan pemulihan ekonomi berbasis ekonomi rakyat, sebagai entitas bisnis yang inovatif, tangguh, mandiri dan berdaya saing,” jelasnya.

Anung menegaskan di tengah badai pandemi tantangan revolusi industri 4.0, pelaku UMKM harus inovatif dan adaptif serta mampu terus menjadi pilar perekonomian nasional, untuk mewujudkan serta sebagai entitas bisnis yang sehat, tangguh, mandiri, kekinian dan berdaya saing.

“Pelaku UMKM harus benar-benar out off the box (keluar dari kebiasaan), adaptif terhadap perubahan dan terus meningkatkan ketangguhan di tengah pandemi dan terus memperkuat daya saing di tengah persaingan global revolusi industri 4.0 dan mewujudkan usaha mikro Kabupaten Probolinggo naik kelas,” tegasnya.

Sementara Kepala Bidang Pelatihan dan Pendampingan SDM Usaha Mikro Deputi Pengembangan Kapasitas Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM RI Aby Aldrin Bahrony mengatakan sektor rill UMKM di Indonesia berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal serta nasional, menciptakan peluang lapangan kerja melalui wirausaha dan berkontribusi dalam kinerja ekspor.

“Potensi usaha mikro sangat besar, namun perlu adanya peningkatan daya saing agar usaha mikro bisa mencapai output potensial dalam mendukung perekonomian nasional. Terlebih dengan adanya tantangan globalisasi di era industri 4.0 ditandai dengan munculnya berbagai jenis teknologi-teknologi baru,” ujarnya.

Menurut Aby Aldrin Bahrony, revolusi industri 4.0 merupakan era industri yang memungkinkan seluruh entitas di dalamnya untuk saling berkomunikasi kapan saja secara real time dengan memanfaatkan teknologi internet. Kemudahan ini mendorong tercapainya kreasi nilai baru.

“Kondisi pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak tahun 2020 semakin membuat kondisi pelaku usaha mikro terpuruk dan secara langsung hal tersebut ikut berdampak negatif terhadap ekonomi makro di Indonesia sehingga perlu kebijakan responsif yang mendukung pemulihan ekonomi nasional,” jelasnya.

Kalau bicara lele jelas Aby Aldrin Bahrony, sejumlah negara telah menjadi tujuan ekspor ikan lele dari Indonesia. Negara tersebut antara lain Thailand, Uni Eropa, Inggris, Korea Selatan dan Arab Saudi.

Sektor perikanan memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional. Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa. Sudah waktunya petani bisa menaikkan nilai perikanan, khususnya pasca panen. Tuntutannya adalah petani harus berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru,” terangnya.

Aby Aldrin Bahrony menjelaskan hasil panen lele diusahakan juga agar mempunyai nilai tambah ekonomis. Hasil panen lele tidak hanya dijual berupa lele segar untuk konsumsi, namun sudah berkembang dengan berbagai bentuk olahan lain.

“Banyak diversifikasi produk baik produk food frozen maupun produk makanan kering yang bisa dilakukan antara lain nugget lele, kaki naga, bakso ikan lele, stick lele, keripik kulit lele, keripik sirip lele, kerupuk lele, tahu bakso lele dan lele bumbu yang siap digoreng. Setelah melakukan diversifikasi produk maka selanjutnya harus memperluas jangkauan pemasaran,” tegasnya.

Melalui pelatihan vocational bagi usaha mikro di Kabupaten Probolinggo ini diharapkan akan mendapatkan tambahan pengetahuan dibidang olahan ikan lele sehingga dapat menjadi bekal untuk memasuki pasar industri 4.0.

“Oleh karena itu, diharapkan para peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan baik sampai selesai agar bisa mendapatkan manfaat ilmu pengetahuan sekaligus menjalin kolaborasi antar sesama pelaku usaha mikro sehingga hal tersebut bisa membawa kebanggaan nama Kabupaten Probolinggo dan Indonesia lebih dikenal tidak hanya di domestik tetapi juga di pasar internasional,” pungkasnya. (wan)