Tuesday, October 19, 2021
Depan > Kesehatan > Kuatkan Kapasitas Kader Jumantik

Kuatkan Kapasitas Kader Jumantik

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan penguatan kapasitas kader jumantik (juru pemantau jentik) di ruang pertemuan Tengger Kantor Bupati Probolinggo, Rabu (4/3/2020).

Kegiatan ini diikuti oleh Kader Jumantik Puskesmas se-Kabupaten Probolinggo. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi tentang situasi kasus DBD di Kabupaten Probolinggo, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) DBD dari narasumber Dinkes Kabupaten Probolinggo, Dinkes Provinsi Jawa Timur serta Pengelola Program DBD Dinkes Kabupaten Probolinggo.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Veronica mengungkapkan kegiatan ini bertujuan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular DBD di Kabupaten Probolinggo. “Selain itu, untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk di Kabupaten Probolinggo serta penguatan kapasitas kader jumantik,” ungkapnya.

Menurut Dewi, di Kabupaten Probolinggo angka kasus DBD mulai meningkat. Hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain datangnya musim hujan secara terus menerus di bulan Nopember sampai Pebruari. Tahun 2016 angka kejadian DBD sebanyak 481 kasus dengan kematian 10 orang, tahun 2017 sebanyak 241 kasus dengan kematian 4 (empat) orang, tahun 2018 sebanyak 80 kasus dengan kematian 4 (emapat) orang, tahun 2019 sebanyak 440 kasus dengan kematian 5 (lima) orang dan tahun ini sampai Pebruari sebanyak 101 kasus tanpa kematian akibat DBD.

“Hal ini perlu diadakan kegiatan penguatan kapasitas kader jumantik secara serentak di Kabupaten Probolinggo oleh semua lapisan masyarakat sampai musim hujan reda atau sampai memasuki musim kemarau sehingga penderita DBD semakin berkurang dan tidak ada lagi kematian akibat DBD,” jelasnya.

Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Liliek Ekowati mengatakan Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Jumlah kasus yang dilaporkan cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas.

“Kerugian sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian anggota keluarga dan berkurangnya usia harapan penduduk. Dampak ekonomi langsung pada penderita DBD adalah biaya pengobatan. Sedangkan dampak ekonomi tidak langsung adalah kehilangan waktu kerja, waktu sekolah dan biaya lain yang dikeluarkan selain untuk pengobatan seperti transportasi dan akomodasi selama perawatan penderita,” katanya.

Menurut Liliek, penyakit DBD sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung meningkat jumlah pasien serta semakin luas penyebarannya. Hal ini karena masih tersebarnya nyamuk Aedes Aegypti (penular penyakit DBD) di seluruh pelosok tanah air, kecuali pada daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.

“Penyakit DBD terutama menyerang anak-anak, namun dalam beberapa tahun terakhir cenderung semakin banyak dilaporkan kasus DBD pada orang dewasa. Penyakit ini ditandai dengan panas tinggi mendadak disertai kebocoran plasma dan pendarahan, dapat mengakibatkan kematian serta menimbulkan wabah,” jelasnya.

Liliek menerangkan untuk memberantas penyakit ini diperlukan pembinaan peran serta masyarakat yang terus menerus dalam memberantas nyamuk penularnya dengan cara 3 M Plus meliputi Menguras Tempat Penampungan Air (TPA), Menutup TPA dan Mengubur/menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan, plus cara lainnya dengan menanam tanaman yang dapat mengusir nyamuk di sekitar rumah/bangunan, memelihara ikan pemakan jentik pada tempat penampungan air yang sulit dikuras dan memasang ovitrap/laritrap/penangkap nyamuk di dalam maupun di luar rumah/bangunan.

“Cara pencegahan tersebut juga dikenal dengan istilah PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Upaya memotivasi masyarakat untuk melaksanakan 3M Plus secara terus menerus telah dan akan dilakukan Pemerintah melalui kerja sama lintas program dan lintas sektoral termasuk tokoh masyarakat dan swasta. Namun demikian penyakit ini masih terus endemis dan angka kesakitan cenderung meningkat di berbagai daerah. Oleh karena itu upaya untuk membatasi angka kematian penyakit ini sangat penting,” pungkasnya. (wan)