Thursday, October 8, 2026
Depan > Kesehatan > Kemenhaj Kabupaten Probolinggo Tekankan Istitaah Jadi Kunci Kesiapan Jamaah Haji

Kemenhaj Kabupaten Probolinggo Tekankan Istitaah Jadi Kunci Kesiapan Jamaah Haji

KRAKSAAN – Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Probolinggo menekankan pentingnya pemahaman dan pemenuhan istitaah bagi calon jamaah haji sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji.

Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Probolinggo Moh. Barzan saat menghadiri kegiatan evaluasi pelaksanaan haji 2026 menuju perbaikan yang digelar di Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Senin (31/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Barzan hadir sebagai salah satu narasumber dan memberikan pemaparan terkait istitaah atau kemampuan seseorang dalam melaksanakan ibadah haji.

Menurutnya, istitaah merupakan salah satu syarat penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi kesehatan, tetapi mencakup sejumlah aspek lainnya.

“Karena syarat haji itu harus istitaah. Artinya mampu melaksanakan haji. Kemampuan itu setidak-tidaknya mencakup empat kategori,” katanya.

Ia menjelaskan, kategori pertama adalah kemampuan dari sisi kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Kondisi fisik dan mental jamaah menjadi faktor penting karena rangkaian ibadah haji membutuhkan stamina yang cukup.

“Kategori kedua adalah kemampuan secara finansial. Jamaah harus memiliki kemampuan pembiayaan yang diperlukan untuk melaksanakan perjalanan dan ibadah haji,” jelasnya.

Selanjutnya, istitaah juga mencakup faktor keamanan. Jamaah harus berada dalam kondisi aman selama perjalanan, ketika berada di Tanah Suci hingga kembali ke Tanah Air. Selain itu, ketersediaan transportasi yang mendukung mobilitas jamaah dari satu lokasi ke lokasi lainnya juga menjadi bagian dari kemampuan tersebut.

“Yang ketiga mampu dalam artian aman. Aman dalam perjalanan, kemudian di Tanah Haram sampai pulang itu aman. Yang berikutnya adalah adanya transportasi yang bisa mengangkut jamaah ke tujuan, baik Makkah maupun Madinah,” terangnya.

Barzan juga menjelaskan kemampuan kesehatan jamaah dapat dikategorikan ke dalam empat kondisi. Pertama, jamaah yang memenuhi persyaratan istitaah kesehatan. Kedua, jamaah yang memenuhi persyaratan istitaah tetapi membutuhkan pendampingan.

Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Probolinggo Moh. Barzan dalam kegiatan evaluasi pelaksanaan ibadah haji tahun 2026. (Foto : Kemenhaj)

“Kategori ketiga adalah jamaah yang untuk sementara waktu belum memenuhi persyaratan istitaah. Sedangkan kategori keempat adalah jamaah yang secara permanen tidak memenuhi persyaratan istitaah,” tegasnya.

Dalam evaluasi pelaksanaan haji 2026, Barzan juga menyoroti sejumlah situasi yang dinilai dapat menguras tenaga jamaah bahkan sebelum keberangkatan. Salah satunya adalah aktivitas jamaah menjelang keberangkatan. Banyak jamaah masih disibukkan dengan menyiapkan bekal dan menerima tamu hingga larut malam.

“Menjelang keberangkatan, jamaah haji disibukkan dengan persiapan bekal dan menerima tamu. Padahal dari keberangkatan di rumah menuju titik pemberangkatan, kemudian ke Miniatur Ka’bah dan asrama haji, itu sudah memerlukan tenaga karena banyak rangkaian kegiatan yang harus dilakukan,” ujarnya.

Menurut Barzan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena stamina jamaah harus dipersiapkan sejak sebelum keberangkatan.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak memaksakan diri mengejar terlalu banyak ibadah sunnah ketika berada di Makkah dan Madinah. “Aktivitas ibadah yang berlebihan tanpa memperhatikan kondisi tubuh dapat berdampak terhadap kesehatan jamaah,” lanjutnya.

Selain itu, faktor stres, kesulitan makan serta kurangnya kemampuan mengatur waktu juga menjadi persoalan yang perlu dievaluasi. “Banyak jamaah mengejar ibadah sunnah di Makkah dan Madinah sehingga lupa akan kesehatannya. Terlalu banyak mengejar ibadah sunnah, kemudian karena stres juga sampai lupa dan susah makan. Termasuk manajemen waktu yang kurang diatur,” urainya.

Di sisi lain, Barzan menyampaikan bahwa penyelenggaraan haji Indonesia pada 2026 mencatat capaian positif dari sisi kepuasan pelayanan jamaah. Indeks Kepuasan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI) disebut mencapai 91,45 persen dan mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Alhamdulillah, indeks kepuasan jamaah haji Indonesia tahun 2026 mencapai 91,45 persen. Ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan patut kita syukuri,” katanya.

Meski demikian, Barzan menilai masih terdapat sejumlah tantangan yang harus menjadi perhatian dalam penyelenggaraan haji. Di antaranya tingginya jumlah jamaah lanjut usia dan jamaah dengan risiko kesehatan tinggi serta angka kematian yang masih menjadi perhatian.

“Besarnya jumlah jamaah haji Indonesia juga membuat pengelolaan pelayanan membutuhkan sistem dan pengawasan yang kompleks. Dengan kuota nasional lebih dari 220 ribu jamaah, penyelenggaraan haji membutuhkan koordinasi besar dari berbagai pihak,” tambahnya.

Kegiatan evaluasi tersebut diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri dari dokter dan tenaga medis. Forum tersebut menjadi ruang evaluasi bersama untuk memperkuat pelayanan dan perlindungan kesehatan jamaah pada penyelenggaraan haji berikutnya. ***

Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info