Wednesday, June 19, 2024
Depan > Pemerintahan > Inspektorat Lakukan Refleksi Makna Hari Santri Nasional 2022

Inspektorat Lakukan Refleksi Makna Hari Santri Nasional 2022

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dalam rangka untuk menyambut Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2022, Inspektorat Kabupaten Probolinggo melakukan refleksi makna HSN dengan mengundang Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Masrur Nashor yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Ikhsan Desa Kerpangan Kecamatan Leces, Kamis (20/10/2022).

Refleksi makna HSN tahun 2022 ini diikuti oleh seluruh para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Inspektorat Kabupaten Probolinggo. Mereka mengikuti refleksi tersebut dengan mengenakan busana muslim dan sarungan.

“Untuk memperingati Hari Santri Nasional tahun 2022 ini Inspektorat Kabupaten Probolinggo mengundang seorang kiai dari pengurus NU yang betul-betul mempunyai komitmen dalam rangka untuk mempertahankan kedaulatan NKRI,” kata Inspektur Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo melalui Inspektur Pembantu Bidang Ekonomi Herman Hidayat.

Dengan refleksi makna HSN ini Herman mengaku bahwa Inspektorat menginginkan agar generasi muda ini tahu bagaimana peran para santri dan para kiai yang mungkin bisa dilihat dalam penampilan perilaku yang sangat sederhana, tetapi memiliki pemikiran yang cukup luas dalam rangka untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

“Selain itu, para kiai dan para santri dibawah komando Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang waktu itu ingin Indonesia ini setelah merdeka akan menjadi negara yang berdaulat. Oleh karena itu kemudian mengeluarkan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Kemudian dilanjutkan puncaknya pada tanggal 10 Nopember 1945,” jelasnya.

Herman menerangkan kegiatan ini sangat penting supaya para generasi muda penerus bangsa, khususnya ASN di lingkungan Inspektorat Kabupaten Probolinggo betul-betul memahami tentang mengapa Hari Santri Nasional itu harus diperingati setiap tanggal 22 Oktober.

“Refleksi makna Hari Santri Nasional ini bertujuan agar kita bisa menjadi seorang ASN dan warga Negara Indonesia, supaya tidak melupakan sejarah. Pertama, sejarah perjuangan para kiai dan para santri dalam usaha untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia yang sudah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Kedua, makna dari perjuangan para ulama dan kiai tetap bisa menjadi pendorong bagi ASN untuk berjuang dalam rangka meningkatkan kemajuan masyarakat di Kabupaten Probolinggo,” terangnya.

Menurut Herman, perjuangan resolusi jihad yang diserukan itu mempunyai makna yang cukup besar jika diimplementasikan pada masa kini atau disaat kekinian di tahun-tahun sekarang. Yang jelas perjuangan jihad waktu itu untuk memperjuangkan dan mempertahanakan kedaulatan NKRI.

“Inspektorat tentu juga mengambil pelajaran dari situ, bagaimana memperjuangkan dalam rangka untuk mencapai target dan sasaran Inspektorat dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan yang lebih bersih dan akuntabel,” tegasnya.

Herman menegaskan ini sebuah perjuangan karena tantangannya yang masih banyak sehingga semua masih berjuang. Tentunya perjuangan itu dilakukan melalui berbagai metode. Misalkan salah satunya bagaimana mengimplementasikan reformasi birokrasi di dalam tata kelola pemerintahan, mengimplementasikan zona integritas dalam peningkatan pelayanan masyarakat maupun didalam mengimplementasikan tata kelola yang menjadi fokus Monitoring Centre for Prevention Komisi Pemberantasan Korupsi (MCP KPK).

“Ada 8 (delapan) area yang menjadi MCP KPK yang harus diperjuangkan dengan mengambil pelajaran dari peringatan Hari Santri Nasional. Hal ini untuk didorong terus oleh Inspektorat agar tata kelola pemerintahan di Kabupaten Probolinggo menjadi semakin baik dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ungkapnya.

Dari refleksi makna HSN ini tegas Herman, Inspektorat terus meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, kualitas kesejahteraan masyarakat dan kualitas pendidikan. Kalau semua OPD penyelenggara pemerintahan terus meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan dan meningkatkan pelayanan mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa, maka persoalan Indek Pembangunan Manusia yang menjadi gambaran kualitas dari Sumber Daya Manusia di Kabupaten Probolinggo itu terus semakin lebih meningkat.

“Saya kira itu makna yang kita ambil dari refleksi makna Hari Santri Nasional ini bisa memberikan gambaran kepada ASN khususnya di Inspektorat tentang latar belakang sejarahnya dan bagaimana para kiai dan santri yang berjuang sebagai salah satu anak bangsa untuk memajukan atau mempertahankan kedaulatan RI itu harus terus dikobarkan pada saat Indonesia sekarang walaupun sudah berkembang dan menjadi negara yang sudah semakin maju,” pungkasnya. (wan)