Sunday, May 19, 2024
Depan > Pendidikan > INOVASI Luncurkan Film Dokumenter ‘Niti Kaweruh’ dan Buku Penggerak Perubahan

INOVASI Luncurkan Film Dokumenter ‘Niti Kaweruh’ dan Buku Penggerak Perubahan

PROBOLINGGO – Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), kemitraan pendidikan antara Australia-Indonesia, meluncurkan Film Dokumenter “Niti Kaweruh – Menggapai Harapan di Lereng Bromo” dan Buku “Penggerak Perubahan: Kisah Inspiratif Transformasi Pembelajaran Indonesia”. Acara peluncuran ini merupakan bagian dari kegiatan Kunjungan Pemantauan Bersama Implementasi Program INOVASI di Jawa Timur. Pemantauan ini dilaksanakan pada 3-4 Oktober 2023 di Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Probolinggo.

“Kami melibatkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Agama (Kemenag), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Kedutaan Besar Australia untuk melihat langsung proses transformasi pembelajaran di Sidoarjo dan Probolinggo,” terang Erix Hutasoit, Communication Manager INOVASI saat diwawancara di MINU K.H. Mukmin, Sidoarjo.

Erix mengatakan buku “Penggerak Perubahan” merekam kisah 100 orang tokoh penggerak transformasi pembelajaran di empat provinsi mitra INOVASI di Indonesia, yaitu Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Utara. Tokoh-tokoh yang ditulis dalam ini berasal dari berbagai latar bekalang. Kebanyakan dari mereka merupakan orang-orang sederhana seperti kepala sekolah, pengawas, guru, pengurus organisasi keagamaan dan komunitas. Mereka bekerja dalam senyap untuk meningkatkan keterampilan literasi, numerasi, dan karakter.

“Kami mengumpulkan kisah-kisah ini selama berbulan-bulan. Kami pergi ke desa-desa, pegunungan, pesisir, dan daerah-daerah terpencil untuk menemui orang-orang hebat ini. Kami sangat bangga bisa membawa pengalaman hebat para penggerak perubahan ini kepada publik,” tambahnya.

Salah satu penggerak perubahan yang ikut ditulis dalam buku ini adalah Misbahuddin, Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdatul Ulama (NU) Sidoarjo. Misbahuddin berhasil mentransformasikan ratusan madrasah di bawah LP Ma’arif menjadi lebih bermutu. Dalam perjalanannya, dia melahirkan berbagai program, termasuk sekolah unggulan dan buku panduan pembentukan karakter. Di tangan Misbahuddin, ratusan madrasah berkembang menjadi lebih bermutu.

Buku “Penggerak Perubahan: Kisah Inspiratif Transformasi Pembelajaran Indonesia ” dapat diakses gratis melalui tautan https://bit.ly/Buku Penggerak Perubahan.

Di hari yang sama, INOVASI juga meluncurkan film dokumenter “Niti Kaweruh.” Dalam pengantarnya pada screening di Pendopo Prasaja Ngesti Wibawa, Yunda Nabila, Communication Officer INOVASI mengatakan bahwa film dokumenter “Niti Kaweruh” merupakan film produksi INOVASI bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo. Film berdurasi 34 menit ini menceritakan upaya Desa Sariwani dan Pemkab Probolinggo mengatasi masalah kekurangan guru dan siswa.

Yunda mengatakan di balik keindahan alam dan suburnya tanah di puncak Gunung Bromo, masyarakat Desa Sariwani harus menghadapi tantangan pendidikan yang pelik. Terletak di daerah terpencil, membuat akses menuju ke desa yang didominasi Suku Tengger ini menjadi sulit. Tidak banyak guru yang mau mengajar di sekolah terpencil ini.

Di sisi lain, jumlah anak yang bersekolah di sini semakin hari semakin sedikit. Pertumbuhan populasi yang melambat dan keenganan orangtua untuk menyekolahkan anaknya, membuat sekolah di puncak Gunung Bromo menjadi ‘sekolah kecil’.

“Jika dibiarkan terus menerus, anak-anak suku Tengger di Desa Sariwani terancam hilang dari proses pembelajaran. Itu sama artinya, anak-anak ini akan kehilangan masa depan,” tambah Yunda.

Masyarakat Desa Sariwani dan pemerintah daerah menjawab tantangan ini dengan menerapkan pembelajaran kelas rangkap (multi-grade). Melalui pendekatan ini, keterbatasan guru dan siswa bisa diatasi. Penerapakan pembelajaran kelas rangkap, memungkinkan guru memberikan pembelajaran yang lebih terfokus pada kebutuhan siswa. Sebuah pendekatan pembelajaran yang lebih beorientasi menolong siswa, daripada sekadar menuntaskan materi belajar. Seiring waktu pendekatan kelas rangkap ternyata sesuai dengan Kurikulum Merdeka.

Aspek sinematografi yang indah dibalut cerita humanis yang menyentuh, membuat “Niti Kaweruh” sukses memikat banyak pihak. Dr. Drs. Rachmadi Widdiharto, M.A., Direktur Guru Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbudristek RI, sangat terkesan dengan keberhasilan pelaksanaan metode kelas rangkap di Kabupaten Probolinggo.

“Inilah wujud bagaimana mentransformasi pendidikan dengan memperhatikan kearifan lokal, sangat tampak kuat sekali dari film yang diputar tadi,” ungkap Rachmadi.

Bagaimana orang tua yang dulu menjemput anaknya di sekolah untuk diajak ke pasar atau ladang, kini mendorong anak-anaknya untuk bersekolah hingga ke tingkat yang lebih atas. Terutama dengan adanya kebijakan di Desa Ngadisari yang digagas oleh kepala desa setempat. Kebijakan itu adalah anak muda tidak boleh menikah kalau belum mengantongi ijazah kelulusan SMA atau mengikuti Paket C.

Selanjutnya, Rachmadi menekankan agar program bersama INOVASI ini agar bisa dilanjutkan oleh para fasilitator daerah untuk menguatkan ekosistem perbaikan kualitas pendidikan di Pemkab Probolinggo.

Plh. Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo Heri Sulistyanto mengatakan, Pemkab Probolinggo berkomitmen akan terus menerapkan program ini di masa mendatang. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan keaktifan siswa hadir di sekolah, Pemkab Probolinggo juga membuat program “Ayo Kembali ke Sekolah”.

“Melalui program ini, kami berharap tidak lagi ada anak-anak yang tidak datang ke sekolah atau tidak berkeinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi,” jelas Heri.

Pemkab menjalin kerja sama dengan para stakeholders, institusi keagamaan, dan masyarakat untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Beberapa minggu lalu, Pemkab Probolinggo juga melantik kepala sekolah baru untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut di 352 sekolah.

Ditambahkan Dwijoko Nurjayadi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, program kelas rangkap (multigrade) untuk sekolah kecil di Pemkab Probolinggo diselenggarakan karena rasio guru dengan siswa di sekolah kecil sangat tidak ideal dan tidak efisien.

“Jumlah siswa yang kecil mengurangi motivasi belajar, tapi para guru ini sangat hebat. Mereka kreatif sekali menggabungkan antara dua mata pelajaran untuk dua jenjang kelas sekaligus,” tegas Dwijoko.

Film Dokumenter “Niti Kaweruh” dan Buku “Penggerak Perubahan” diluncurkan dalam Kunjungan Pemantauan Bersama Implementasi Program INOVASI di Jawa Timur. Kunjungan ini melibatkan Kemendikbudristek, Kemenag, Bappenas, dan Kedutaan Besar Australia. Kunjungan ini bertujuan melihat keberhasilan proses transformasi pembelajaran di sektor pendidikan dasar.

Film ini bisa ditonton pada tautan https://bit.ly/LaunchingNitiKaweruh.(*)