Thursday, October 8, 2026
Depan > Kemasyarakatan > Emposan Tikus Murah Jadi Solusi Petani Kecamatan Banyuanyar Amankan Panen di Lahan Pertanian

Emposan Tikus Murah Jadi Solusi Petani Kecamatan Banyuanyar Amankan Panen di Lahan Pertanian

BANYUANYAR – Hama tikus masih menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberhasilan sektor pertanian. Serangan yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan tanaman hingga gagal panen, terutama pada komoditas padi, jagung dan tebu. Untuk mengatasi persoalan tersebut, petani di Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo mulai mengembangkan metode pengendalian hama yang murah, mudah dibuat dan efektif melalui penggunaan emposan tikus.

Tim petani organik Kecamatan Banyuanyar bersama petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Banyuanyar mengikuti pelatihan pembuatan emposan tikus yang didampingi Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan dari Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya, Kamis (11/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor BPP Banyuanyar tersebut diikuti sekitar 14 peserta dan bertujuan untuk memberikan alternatif pengendalian hama yang lebih hemat biaya sekaligus ramah terhadap tanaman budidaya.

POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati mengatakan emposan tikus merupakan metode pengendalian yang bekerja langsung di dalam sarang tikus melalui sistem fumigasi atau pengasapan.

POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati menjelaskan teknis serangan tikus dan teknis pengendaliannya. (Foto : POPT Perkebunan)

Menurutnya, metode ini lebih efektif dibandingkan mengejar tikus di permukaan lahan karena asap yang dihasilkan dapat menjangkau seluruh lorong sarang yang berada di bawah tanah.

“Prinsipnya bukan mengejar tikus di permukaan, tetapi membasmi di sarangnya. Emposan bekerja dengan menghasilkan asap yang menyebar ke seluruh liang tikus sehingga mampu menjangkau bagian sarang yang tidak terlihat dari permukaan,” katanya.

Ika menerangkan bahan yang digunakan untuk membuat emposan relatif mudah diperoleh dan memiliki biaya yang cukup terjangkau. Untuk menghasilkan sekitar 200 batang emposan, petani hanya memerlukan setengah kilogram arang batok kelapa, satu kilogram bubuk belerang, satu kilogram kalium nitrat (KNO3) dan 200 gram soda kue.

Seluruh bahan tersebut dicampur hingga merata, kemudian dimasukkan ke dalam selongsong yang dibuat dari kertas bekas. Salah satu ujung selongsong ditutup, sementara ujung lainnya dibuat menyerupai sumbu yang akan dibakar saat aplikasi di lapangan. “Komposisi bahan ini menghasilkan pembakaran yang stabil dan asap yang pekat sehingga mampu menembus seluruh cabang sarang tikus,” jelasnya.

Koordinator BPP Banyuanyar mendampingi dan memberi arahan kepada petani. (Foto : POPT Perkebunan)

Menurut Ika, masing-masing bahan memiliki fungsi yang berbeda. Arang berfungsi sebagai bahan bakar utama yang menjaga bara tetap menyala. Belerang menjadi bahan aktif yang menghasilkan asap, sedangkan KNO3 berperan sebagai pengoksidasi agar proses pembakaran berlangsung stabil. Sementara soda kue berfungsi mengendalikan laju pembakaran agar tidak terlalu cepat.

“Dalam penerapannya, petani harus terlebih dahulu menemukan lubang aktif tikus. Lubang aktif biasanya ditandai dengan adanya jejak kaki baru, tanah yang masih gembur di sekitar mulut lubang atau bekas gigitan pada tanaman,” terangnya.

Setelah lubang ditemukan, emposan yang telah dinyalakan dimasukkan ke dalam sarang. Seluruh lubang lain yang mengeluarkan asap kemudian ditutup rapat menggunakan tanah atau lumpur agar tikus tidak memiliki jalan keluar.

“Asap yang masuk ke dalam sarang akan bekerja sebagai racun pernapasan bagi tikus. Karena itu petani juga harus menggunakan masker dan menjaga jarak aman selama proses pembakaran berlangsung,” lanjutnya.

Proses peracikan emposan tikus oleh petani didampingi POPT Perkebunan dan PPL Banyuanyar. (Foto : POPT Perkebunan)

Ika menambahkan efektivitas pengendalian akan semakin tinggi apabila dilakukan secara serempak oleh petani dalam satu hamparan lahan. Jika hanya dilakukan sebagian petani, tikus berpotensi berpindah ke lahan lain sehingga pengendalian menjadi kurang maksimal.

“Selain efektif menekan populasi tikus, metode emposan juga memiliki sejumlah keunggulan lain. Penggunaannya tidak merusak pematang sawah, tidak mengganggu pertumbuhan tanaman dan dapat diterapkan kapan saja saat tanda-tanda serangan mulai muncul,” tegasnya.

Pengendalian menggunakan emposan juga dianjurkan dipadukan dengan metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT) lainnya seperti sanitasi lahan, pengelolaan habitat dan kegiatan gropyokan tikus secara bersama-sama.

POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati menjelaskan teknis perilaku tikus dan cara pengendaliannya. (Foto : POPT Perkebunan)

Sementara Koordinator BPP Banyuanyar Inayah Fatmawati berharap pelatihan tersebut dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi petani dalam menghadapi ancaman serangan tikus yang kerap menimbulkan kerugian besar. Emposan tikus dapat menjadi solusi alternatif yang mudah diterapkan oleh petani dengan biaya yang relatif rendah.

“Melalui pelatihan ini kami berharap petani memiliki pilihan pengendalian hama yang praktis, murah dan efektif. Dengan demikian tanaman dapat tumbuh optimal dan risiko gagal panen akibat serangan tikus dapat ditekan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan salah seorang peserta pelatihan, Samsul Sanhaji. Ia menilai inovasi sederhana tersebut sangat bermanfaat bagi petani karena memberikan solusi nyata yang dapat diterapkan langsung di lapangan.

POPT Perkebunan dan PPL Banyuanyar foto bersama petani dengan hasil praktik emposan tikus. (Foto : POPT Perkebunan)

“Cara pembuatannya cukup mudah dan bahan-bahannya juga tidak sulit didapat. Kami berharap metode ini bisa membantu petani mengurangi kerugian akibat serangan tikus,” ungkapnya.

Dengan biaya produksi yang rendah dan efektivitas yang cukup tinggi, emposan tikus kini mulai dilirik sebagai salah satu solusi pengendalian hama yang ekonomis. Melalui inovasi sederhana ini, petani diharapkan dapat menjaga produktivitas pertanian sekaligus menekan biaya usaha tani sehingga hasil panen tetap aman dan menguntungkan. ***

Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info