Sunday, January 23, 2022
Depan > Informasi Layak Anak > Dispendik Lakukan PTM Terbatas 50 Persen Peserta Didik

Dispendik Lakukan PTM Terbatas 50 Persen Peserta Didik

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo tetap melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Pelaksanaan PTM terbatas ini mengacu kepada regulasi Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri (Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri) Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19.

Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi mengatakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas dilaksanakan 100 persen. Dalam artian seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Probolinggo sudah melaksanakan PTM terbatas.

“Hanya saja pembelajaran tatap muka terbatas ini tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Salah satunya adalah 50 persen peserta didik melaksanakan pembelajaran secara tatap muka dan 50 persen lagi daring,” katanya.

Menurut Rozi, PTM terbatas ini dilakukan secara bergantian (shift learning) dengan durasi pembelajaran untuk jenjang SMP dan SD kelas III-IV selama 8 Jam Pelajaran (JP) atau 4 jam. Sementara untuk SD kelas I dan II JP menyesuaikan selama 3 jam. Sedangkan untuk jenjang PAUD selama 2 jam dengan prosentase sama 50 persen.

“Untuk PTM terbatas ini dilakukan dengan shift learning secara selang seling setiap harinya. Artinya untuk 50 persen peserta didik ini dilakukan selama 3 hari dalam seminggu. Shift learning tidak boleh dilakukan secara bergantian dalam sehari,” tegasnya.

Rozi mengaku sangat mendukung program vaksinasi anak usia 6 hingga 11 tahun. Sebab vaksinasi ini menjadi suatu kebutuhan hari ini dalam rangka meningkatkan imunitas tubuh anak-anak.

“Vaksinasi anak usia 6 hingga 11 tahun ini akan kita dorong bagi seluruh peserta didik di Kabupaten Probolinggo. Ini dilakukan dalam rangka untuk menyongsong pada proses pembelajaran 100 persen peserta didik hadir di ruang kelas,” jelasnya.

Oleh karena itu Rozi menghimbau kepada seluruh kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan termasuk kepada seluruh masyarakat, orang tua dan wali dari peserta didik untuk mendorong dan mendukung putra putrinya melaksanakan vaksinasi atau vaksin anak usia 6 hingga 11 tahun.

“Tetapi jika tidak mau divaksin bukan berarti tidak boleh ikut proses pembelajaran tatap muka. Karena memang ada anak-anak yang tidak bisa divaksin karena alas an-alasan medis. Tentu hal itu harus kita pahami bersama. Mari bersama-sama sukseskan pelaksanaan vaksinasi anak usia 6 hingga 11 tahun di Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (wan)