Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dalam rangka meningkatkan profesionalitas guru pada Implementasi Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo menggelar bimbingan teknis (bimtek) peningkatan kompetensi guru jenjang SMP di aula Ki Hajar Dewantara Disdikdaya Kabupaten Probolinggo.
Kegiatan ini diikuti oleh 80 orang peserta berasal dari unsur guru/pendidik jenjang SMP baik dari negeri maupun swasta. Diutamakan yang menangani urusan kurikulum dan memahami tentang Implementasi Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar terdiri dari 74 orang guru SMP negeri dan 6 orang guru SMP swasta.
Puluhan peserta ini dibagi dalam 2 (dua) kelompok yang masing-masing selama 3 (tiga) hari. Kelompok 1 dilaksanakan mulai Senin hingga Rabu (3-5/10/2022) dan Kelompok 2 dilaksanakan mulai Selasa hingga Kamis (4-6/10/2022) dengan metode In-On-In. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi, Senin (3/10/2022).
Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Yunita Nur Laili mengungkapkan kegiatan ini bertujuan meningkatkan profesionalitas guru untuk terus berkarya dan berinovasi menghasilkan praktik baik dalam pembelajaran serta meningkatkan kompetensi guru tentang Merdeka Belajar melalui Platform Merdeka Mengajar.
“Selain itu meningkatkan kompetensi guru dalam menjalankan Platform Merdeka Mengajar yang baik dan benar. Sekaligus meningkatkan kompetensi sosial guru dengan semangat kolaborasi dan saling berbagi dalam implementasi Kurikulum Merdeka,” ujarnya.
Sementara Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi mengatakan kebijakan cita-cita dari Merdeka Belajar adalah untuk mewujudkan pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas ini memastikan peserta didik mengalami kemajuan belajar sehingga lebih kompeten dan berkarakter.
“Indikator dari berkualitas itu harus memenuhi minimal 8 Standart Nasional Pendidikan. Fokusnya kepada pengembangan kompetensi dasar dan karakter,” katanya.
Menurut Rozi, kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) ini harus seiring dan sejalan dengan visi dan misi dari Kabupaten Probolinggo. .
“Visi kedua dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo adalah mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan menurunkan angka kemiskinan. Hal itu sudah sejalan dengan program pemerintah melalui program Merdeka Belajar,” jelasnya.
Rozi menjelaskan indikator keberhasilan dari pembangunan manusia itu adalah Indek Pembagunan Manusia (IPM). Dimana IPM itu ada 3 (tiga) indikator meliputi pendidikan, kesehatan dan daya beli. “Keberhasilan pembangunan bidang pendidikan indikatornya adalah indek pendidikan yang angkanya masih 0,55 atau rendah,” terangnya.
Lebih lanjut Rozi menerangkan ukuran indikator pendidikan itu ada 2 meliputi rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah. Harapan lama sekolah masyarakat adalah 12,36 tahun. Artinya masyarakat Kabupaten Probolinggo lama sekolahnya 12,36 tahun itu baru lulus SMA atau semester 1 Perguruan yang dihitung mulai usia 7 tahun atau masuk SD.
“Sementara rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas se-Kabupaten Probolinggo adalah 6,12 tahun. Artinya baru lulus SD. Indek pendidikan rendah karena harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah masih rendah,” ujarnya.
Rozi menambahkan 8 standart nasional pendidikan itu outputnya adalah capaian hasil belajar yang bisa dicapai melalui proses mutu dan relevansi pembelajaran dengan input kompetensi dan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan .
“Kehadiran guru secara fisik dan psikis dituntut selain mampu mendidik, juga harus bisa membimbing dan membersamai murid. Guru juga harus aktif di MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) dan komunitas belajar,” pungkasnya. (wan)
