Depan > Kesehatan > Dinkes Gelar Investigasi dan Audit Kasus KIPI

Dinkes Gelar Investigasi dan Audit Kasus KIPI

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar investigasi dan audit kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) di Ombas Café Probolinggo, Rabu hingga Jum’at (16-18/11/2022).

Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinkes Kabupaten Probolinggo Mujoko ini diikuti oleh 66 orang yang terdiri dari 33 orang dokter puskesmas dan 33 Koordinator Imunisasi Puskesmas se-Kabupaten Probolinggo.

Selama kegiatan mereka mendapatkan materi kasus-kasus KIPI dari paparan puskesmas serta pencegahan dan penanggulangan KIPI oleh narasumber terdiri dari dr. Catur Prangga Wadana, Sp.A, M.Kes, dr. Made Suderata, Sp. A dan dr. Muhammad Reza, M.Biomed, Sp.A (K).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk melakukan investigasi dan audit kasus KIPI yang terjadi.

“Selain itu, memberikan informasi tentang tata laksana kasus KIPI serta meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta dalam pencegahan dan penanggulangan KIPI pada program inmunisasi,” ungkapnya.

Sekretaris Dinkes Kabupaten Probolinggo Mujoko mengatakan imunisasi merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya penyakit menular dengan memberikan perlindungan kepada individu dan komunitas dari Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

“Imunisasi yang diwajibkan kepada seseorang sebagai bagian dari masyarakat dalam rangka melindungi yang bersangkutan dan masyarakat sekitarnya dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” katanya.

Mujoko menjelaskan imunisasi rutin terdiri dari imunisasi dasar dan lanjutan. Imunisasi dasar pada bayi meliputi Hepatitis B, BCG, Polio Tetes (OPV), DPT-HB-Hib, IPV, Campak/MR. Imunisasi lanjutan antara lain baduta, BIAS dan WUS. Imunisasi anak bawah dua tahun diberikan DPT-HB-Hib, Campak/MR. Imunisasi anak sekolah diberikan Campak/MR, DT, Td. Sedangkan imunisasi pada WUS yaitu diberikan Td.

“Perubahan konsep yang sebelumnya IDL (Imunisasi Dasar Lengkap) menjadi IRL (Imunisasi Rutin Lengkap). Imunisasi lengkap adalah keadaan jika seorang anak memperoleh imunisasi rutin secara lengkap mulai dari IDL pada usia 0-11 bulan, imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib dan Campak Rubela pada usia 18 bulan, imunisasi lanjutan Campak Rubela dan DT pada kelas 1 SD/MI, imunisasi Td pada kelas 2 dan 5 SD/MI dan imunisasi HPV pada anak perempuan kelas 5 dan 6 SD/MI,” jelasnya.

Selain rutin juga jelas Mujoko, ada imunisasi tambahan yang saat ini dilaksanakan yaitu vaksinasi Covid-19 dengan sasaran imunisasi usia 6 tahun ke atas. Rentang sasaran yang luas akan memberikan jumlah suntikan yang banyak. Seiring dengan cakupan imunisasi yang tinggi maka penggunaan vaksin juga meningkat dan sebagai akibatnya kejadian berupa reaksi simpang yang diduga berhubungan dengan imunisasi juga meningkat.

“Keberhasilan imunisasi akan diikuti dengan pemakaian vaksin dalam dosis besar. Namun, pada perjalanan program imunisasi akan memacu proses maturasi persepsi masyarakat sehubungan dengan efek samping vaksin yang mungkin timbul sehingga berakibat munculnya kembali penyakit dalam bentuk kejadian luar biasa (KLB),” terangnya.

Mujoko menegaskan perlu upaya yang maksimal dalam mengelola KIPI sehingga timbul kembali kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi dan tujuan imunisasi berupa eradikasi, eliminasi dan reduksi PD3I akan bisa dicapai. Jenis dan pelaporan KIPI dibedakan atas KIPI serius dan Non Serius.

“KIPI serius (Serious Adverse Event/SAE) atau KIPI berat adalah setiap kejadian medis setelah imunisasi yang menyebabkan rawat inap, kecacatan, dan kematian serta yang menimbulkan keresahan di masyarakat. KIPI non serius atau KIPI ringan adalah kejadian medis yang terjadi setelah imunisasi dan tidak menimbulkan risiko potensial pada kesehatan si penerima,” ujarnya.

Lebih lanjut Mujoko menambahkan tujuan utama pemantauan KIPI adalah untuk mendeteksi dini, merespon KIPI dengan cepat dan tepat, mengurangi dampak negatif imunisasi terhadap kesehatan individu dan terhadap imunisasi. Hal ini merupakan indikator kualitas program.

“Bagian yang terpenting dalam pemantauan KIPI adalah menyediakan informasi KIPI secara lengkap agar dapat dengan cepat dinilai dan dianalisis untuk mengidentifikasi dan merespon suatu masalah. Respon merupakan suatu aspek tindak lanjut yang penting dalam pemantauan KIPI,” pungkasnya. (wan)