Depan > Kemasyarakatan > Desiminasi dan Sekolah Lapang Budidaya Udang Vanamei Sistem BUMI KRAKSAAN

Desiminasi dan Sekolah Lapang Budidaya Udang Vanamei Sistem BUMI KRAKSAAN

Reporter : Syamsul Akbar
DRINGU – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Probolinggo menggelar desiminasi dan sekolah lapang budidaya udang vanamei dengan sistem Budidaya Udang vannaMeI Kolam bundaR menggunAKan raS di media Air laut buatAN (BUMI KRAKSAAN) di ruang pertemuan UPT Pengembangan Budidaya Air Tawar/Payau Desa Pabean Kecamatan Dringu, Selasa (2/11/2021).

Kegiatan yang dibuka oleh Kepala Diskan Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi ini diikuti oleh 30 orang peserta yang berasal dari Kecamatan Maron, Sumberasih, Leces, Gending, Kraksaan, Paiton, Pajarakan dan Dringu.

Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari Tim Inovasi BUMI KRAKSAAN. Yakni, Asmiyati Kurnianingsih dengan materi cara pembuatan air laut buatan untuk kegiatan budidaya udang vanamei sistem BUMI KRAKSAAN, Sigit Pujotomo dengan materi cara pembuat RAS (Recirculating Aquaculture System) dan Dery Firmansyah dengan materi cara pembuatan fermentasi.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya Diskan Kabupaten Probolinggo Wahid Noor Azis mengungkapkan kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan arahan dan praktek langsung di lapangan bagaimana cara melakukan kegiatan budidaya udang vannamei sistem BUMI KRAKSAAN sesuai dengan SOP yang diterapkan. Sehingga masyarakat pembudidaya paham dan mengerti tata cara kegiatan budidaya udang vannamei sistem BUMI KRAKSAAN.

“Diharapkan mereka yang mengikuti pelatihan bisa menerapkan metode ini di rumah mereka masing-masing. Sehingga yang akan mereka lakukan sesuai dengan SOP yang sudah kita berikan,” ujarnya.

Sementara Kepala Diskan Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi mengatakan udang itu memang rasanya nikmat dan banyak khasiatnya. Udang itu merupakan komoditas unggulan nasional dan prioritas untuk ekspor.

“Udang bisa dibudidaya dimana saja termasuk di kolam terpal. Sekarang ini sudah banyak yang dicoba di tepi laut tidak lagi menggunakan tanah tapi terpal, baik kolam bundar maupun yang lainnya. Tidak ada lagi tambak yang intensif dengan luas satu hektar. Sekarang susut, cukup ada yang ukuran setengah hektar atau seperempat hektar,” katanya.

Menurut Dedy, sekarang tidak ada lagi yang berbicara udang vanamei di pinggir laut karena sudah bisa dibawa ke darat. Dulu biasanya berfikir jika udang vanamei tidak bisa diaplikasikan di darat.

“Saat ini udang sudah bisa dibudidaya di darat, tetapi tetap dengan salinitas air laut melalui BUMI KRAKSAAN. Dengan sistem ini, kita membuat mediannya itu sama dengan habibat aslinya sehingga bisa krasan dan tumbuh dengan baik,” jelasnya.

Dedy menegaskan memelihara ikan dan udang itu sama dengan memelihara airnya. Inilah prinsipnya dan tidak boleh dilupakan. Dari memelihara air, nanti bisa diliat media dan kandungan oksigen yang terlarut di dalam airnya. Kalau cuma memelihara iseng-iseng saja, standar kehidupan tanpa alat satu meter kubik kalau memelihara udang sebanyak 10 ekor dan harus mempunyai salinitas.

“Prinsip udang vanamei dengan sistem BUMI KRAKSAAN ini bisa dibawa kemana saja sampai ketinggian 500 dpl. Suhu juga harus diperhatikan dengan suhu minimal 20 derajat dan suhu di air sekitar 28-30 derajat. Dengan BUMI KRAKSAAN, udang jangan khawatir tidak laku. Pangsa pasar dari udang vanamei ini sangat terbuka lebar. Oleh karena itu manfaatkan peluang pasar ini dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya. (wan)