Tuesday, May 21, 2024
Depan > Kemasyarakatan > Ada Ritual Megeng di Tengger, Wisata Bromo Dibatasi

Ada Ritual Megeng di Tengger, Wisata Bromo Dibatasi

Reporter : Hendra Trisianto
SUKAPURA – Warga Tengger Bromo akan menggelar ritual Megeng Wulan Kapitu. Oleh karena itu, kawasan wisata Gunung Bromo akan dibatasi agar kearifan lokal tersebut berjalan dengan khidmat.

Sekretaris Paruman Dukun Pandita Kawasan Tengger Bambang Suprapto mengatakan pembatasan itu sesuai dengan Keputusan Paruman Dukun Pandita Kawasan Tengger dalam musyawarah pada Minggu (22/11/2022). Hal tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 277/Pemb/PDP-Tengger/XI/2022.

Pembukaan Wulan Kapitu dimulai pada Jum’at (23/12/ 2022) pukul 18.00 WIB sampai dengan hari Sabtu (24/12/2022) pukul 18.00 WIB. Sedangkan penutupan Wulan Kapitu jatuh pada Sabtu (21/1/2023) mulai pukul 18.00 WIB sampai dengan Minggu (22/1/2023) pukul 18.00 WIB.

“Awal bulan dan akhir bulan, kita laksanakan Tapabrata antara itu ya mutih. Karena ada Tapabrata seperti Nyepi, maka harus steril dari kendaraan bermotor,” ucap Sekretaris Paruman Dukun Pandita Kawasan Tengger Bambang Suprapto, Selasa (6/12/2022).

Karenanya, kunjungan wisata pada pembukaan dan penutupan Wulan Kapitu dibatasi. Untuk kendaraan bermotor pengunjung dari arah Kabupaten Probolinggo dibatasi sampai di Cemara Lawang. Untuk pengunjung dari arah Kabupaten Pasuruan dibatasi sampai di Pakis Binjil. Sementara dari arah Kabupaten Malang dan Lumajang, kendaraan bermotor dibatasi di Jemplang.

Untuk spot wisata yang tidak dapat dikunjungi dengan kendaraan bermotor di antaranya Gunung Bromo, Laut Pasir, Savana dan Mentigen. “Selama pembukaan dan penutupan Wulan Kapitu tersebut, akan ada batasan bagi pengunjung atau wisatawan Gunung Bromo. Wisata tetap dibuka, tapi tidak boleh menggunakan kendaraan bermotor. Ya jalan kaki atau berkuda,” lanjutnya.

Ada beberapa spot wisata di Gunung Bromo yang masih bisa dikunjungi dengan kendaraan bermotor. Seperti Gunung Penanjakan, Bukit Kedaluh dan Bukit Cinta. “Itu karena berada di luar batasan yang ditetapkan Paruman Dukun Pandita Kawasan Tengger,” lanjutnya.

Wulan Kapitu atau bulan ketujuh dalam Kalender Suku Tengger, oleh sesepuh atau tokoh masyarakat dianggap sebagai bulan yang disucikan. Pada bulan ini, masyarakat Suku Tengger melaksanakan laku puasa mutih selama satu bulan penuh. Yakni hanya akan mengkonsumsi makanan seperti air mineral, nasi putih, tanpa adanya bahan bumbu penyedap rasa.

“Ritual itu dilakukan untuk menahan perilaku atau sifat keduniawian dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan,” tambah Ketua PHDI Kabupaten Probolinggo itu.

Sementara Camat Sukapura, Bambang Julius Wijanarko berharap, wisatawan yang berkunjung selama Wulan Kapitu menghargai kearifan lokal tersebut. Jika berkunjung ke Bromo, diminta untuk mematuhi aturan yang ditetapkan. Baik oleh aturan adat maupun dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS).

“Silahkan berkunjung dan berwisata di Bromo, nikmati keindahannya. Tapi jangan lupakan ketentuan yang ditetapkan, hormati kearifan lokal dan budaya masyarakat Tengger,” ucapnya.

Secara terpisah, Kepala Sub Bagian Data, Evaluasi dan Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau BB TNBTS Sarif Hidayat membenarkan adanya surat edaran tersebut. “Terkait kebijakan, akan diinformasikan oleh TNBTS pada kesempatan berikutnya,” katanya.

Pada pembukaan dan penutupan Wulan Kapitu tahun lalu, TNBTS juga menerapkan pembatasan bagi pengunjung Gunung Bromo. Wilayah yang jadi Kawasan Strategis Pariwisata Nasional atau KSPN itu tetap terbuka untuk wisatawan. Hanya wilayah yang bisa dikunjungi wisatawan dibatasi. (dra)