PROBOLINGGO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo mulai memperkuat strategi pengembangan gula aren sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Upaya tersebut dilakukan melalui program Communal Branding Palm Sugar yang menggabungkan penguatan mutu, identitas produk, kelembagaan hingga perluasan pasar.
Strategi itu dibahas dalam rapat koordinasi (rakor) program communal branding komoditas palm sugar (gula aren) tahun 2026 yang digelar Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan yang digelar di ruang rapat Kantor DKUPP Kabupaten Probolinggo ini dihadiri oleh Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto, Pengembang Kewirausahaan Ahli Muda Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur Dhonna Widya Poernamasari serta Tenaga Ahli Program Communal Branding Palm Sugar Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur Rahmad Cahyadi.
Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto mengatakan gula aren memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Potensi tersebut tidak cukup hanya ditingkatkan dari sisi produksi, tetapi harus diikuti pembenahan kualitas dan pemasaran.
“Gula aren merupakan salah satu komoditas potensial yang dapat kita kembangkan menjadi produk unggulan Kabupaten Probolinggo. Karena itu, pengembangannya tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga kualitas, nilai tambah, daya saing dan perluasan akses pasar,” katanya.
Sugeng menjelaskan, Kabupaten Probolinggo mempunyai sumber daya alam, wilayah produksi serta pelaku UMKM yang dapat menjadi fondasi pengembangan komoditas gula aren. “Potensi tersebut perlu dikelola secara terpadu agar produk yang dihasilkan mempunyai karakter dan posisi yang lebih kuat di pasar,” lanjutnya.
Menurut Sugeng, communal branding tidak boleh dipahami hanya sebagai upaya membuat logo atau desain kemasan yang digunakan bersama. Program tersebut harus membangun ekosistem usaha yang mencakup standar mutu, identitas produk, kelembagaan, nilai tambah dan jaringan pemasaran.
“Communal branding bukan sekadar membuat logo atau kemasan bersama, tetapi membangun ekosistem komoditas gula aren yang memiliki standar kualitas, identitas, kelembagaan, nilai tambah dan akses pasar yang kuat,” tegasnya.
Sugeng menerangkan penguatan kualitas akan dilakukan melalui penyamaan standar produksi, penerapan proses yang higienis, pembenahan kemasan serta pemenuhan ketentuan keamanan pangan. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan aspek legalitas, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal dan aturan pelabelan.
“Pengembangan produk juga diarahkan agar tidak berhenti pada gula aren cetak. Kami mendorong diversifikasi dalam bentuk gula aren bubuk dan gula semut yang mempunyai peluang pasar lebih luas,” terangnya.
Sugeng menilai keberhasilan program tersebut membutuhkan kerja sama banyak pihak. Pemerintah, petani, pengrajin, UMKM, koperasi, perguruan tinggi, perbankan, dunia usaha dan pelaku pariwisata perlu membangun ekosistem yang saling mendukung.
“Harapannya, gula aren tidak hanya menjadi komoditas lokal, tetapi berkembang menjadi produk unggulan Kabupaten Probolinggo yang berdaya saing, memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” tambahnya.

Sementara Pengembang Kewirausahaan Ahli Muda Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur Dhonna Widya Poernamasari menyampaikan konsep communal branding dapat menjadi instrumen untuk memperkuat posisi gula aren Kabupaten Probolinggo.
“Gula aren Kabupaten Probolinggo memiliki potensi untuk diangkat melalui communal branding, sehingga identitas produk menjadi lebih kuat, kualitas lebih terjaga dan akses pasar dapat diperluas,” ujarnya.
Salah satu potensi yang menjadi perhatian berada di Desa Kalianan Kecamatan Krucil. Petani gula aren di wilayah tersebut mampu memanjat sekitar 20 hingga 45 pohon dalam sehari. Ketinggian pohon rata-rata mencapai 25 meter, sementara produksi nira berada pada kisaran 10 hingga 30 liter per hari untuk setiap tangkai.
“Meski memiliki potensi, pengembangan gula aren masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya keterbatasan modal, kapasitas sumber daya manusia, produksi gula cair, standardisasi produk serta pemenuhan perizinan,” terangnya.
Dhonna menerangkan melalui merek komunal, pelaku usaha diharapkan memiliki standar mutu yang lebih seragam dan posisi tawar yang lebih baik. Sistem tersebut juga diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan petani terhadap tengkulak.
“Pengembangan pasar akan diarahkan pada skema business to business (B2B) maupun business to consumer (B2C). Penguatan koperasi, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), business plan, diversifikasi produk dan strategi merek menjadi bagian dari proses tersebut,” tegasnya.
Sedangkan Tenaga Ahli Program Communal Branding Palm Sugar Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur Rahmad Cahyadi menjelaskan, merk komunal memiliki perbedaan mendasar dengan merek individual. Merk tersebut digunakan secara kolektif oleh sejumlah pelaku usaha dalam satu kawasan dengan standar dan identitas yang disepakati bersama.
“Merek komunal menjadi milik bersama yang digunakan oleh banyak pihak dalam satu kawasan. Tujuannya menyatukan kekuatan di bawah satu nama, satu standar mutu dan satu identitas agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ungkapnya.
Dalam rancangan ekosistem usaha, terdapat dua koperasi yang disiapkan dengan fungsi berbeda. Koperasi Pelita Argopuro di Kecamatan Krucil diarahkan sebagai koperasi pemasaran atau market integrator. Sementara Koperasi Desa Merah Putih Segaran di Desa Segaran Kecamatan Tiris diarahkan menjalankan fungsi koperasi produsen atau industri sebagai aggregator-integrator.
“Pengembangan produk gula aren perlu mengikuti kebutuhan pasar, sehingga gula aren tidak hanya dijual dalam bentuk konvensional, tetapi dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk dan kemasan yang memiliki nilai tambah,” jelasnya.
Tahap berikutnya adalah menentukan identitas merek bersama. Penguatan identitas harus berjalan seiring dengan peningkatan mutu dan tata kelola. Dengan begitu, communal branding tidak berhenti sebagai identitas visual, tetapi menjadi strategi untuk membangun daya saing produk secara berkelanjutan.
“Intinya, potensi gula aren Kabupaten Probolinggo perlu dibangun dengan identitas bersama, standar mutu dan pengelolaan yang kuat agar dapat berkembang menjadi produk unggulan daerah,” pungkasnya. ***
Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info
