KRAKSAAN – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Probolinggo menggelar uji kompetensi (ujikom) mandiri bagi peserta pelatihan kerja kejuruan las SMAW 3G, kejuruan teknisi AC residential dan kejuruan pemasangan instalasi listrik bangunan sederhana di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Probolinggo, Selasa (23/6/2026). Kegiatan ini menjadi ujikom mandiri pertama yang diselenggarakan Disnaker Kabupaten Probolinggo sebagai upaya meningkatkan kualitas dan daya saing tenaga kerja.
Uji kompetensi ini mencakup tiga tahap meliputi ujian tertulis sekitar satu jam, ujian praktek sekitar 1,5 jam dan wawancara yang berkaitan dengan materi yang telah diterima selama pelatihan maupun praktik yang telah dilakukan peserta. Uji kompetensi ini dipandu oleh Asesor dari LSP BLKI Singosari Malang.
Faktor utama yang menjadi dasar penilaian dalam uji kompetensi tersebut meliputi sikap (attitude), pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Dari ketiga aspek tersebut, sikap menjadi faktor yang mendapat perhatian paling besar dalam proses penilaian.

Kepala Disnaker Kabupaten Probolinggo Saniwar melalui Kepala Bidang Pelatihan Kerja dan Produktivitas Erna Sayuti mengatakan uji kompetensi ini bertujuan agar peserta yang dinyatakan lulus mendapatkan sertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Sertifikat ini menjadi bukti kompetensi yang diakui secara nasional sehingga memiliki nilai tambah ketika melamar pekerjaan. Perusahaan tentu akan lebih melirik tenaga kerja yang sudah memiliki sertifikat kompetensi BNSP,” katanya.
Menurut Erna, peserta pelatihan kompetensi yang mengikuti uji kompetensi yang dinyatakan lulus akan mendapatkan dua sertifikat. Yakni, sertifikat pelatihan dari Disnaker Kabupaten Probolinggo dan sertifikat kompetensi dari BNSP yang berlaku secara nasional.

“Sertifikasi BNSP tidak mudah diperoleh karena peserta harus melalui tahapan ujian teori dan praktik. Penilaian dilakukan oleh asesor independen sehingga hasil kelulusan murni berdasarkan kemampuan peserta,” jelasnya.
Erna menerangkan dalam uji kompetensi ini peserta harus membuktikan bahwa mereka tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan secara praktik sesuai bidangnya. “Kelulusan sepenuhnya menjadi kewenangan penguji independen dan tidak bisa dipengaruhi oleh pihak mana pun,” tegasnya.
Lebih lanjut Erna menambahkan kebutuhan tenaga kerja terampil, khususnya di bidang pengelasan saat ini cukup tinggi. Bahkan sebelum pelatihan berakhir, sejumlah perusahaan sudah menanyakan ketersediaan lulusan jurusan las.

“Kami meyakini peserta yang telah memiliki sertifikat BNSP akan lebih mudah dilirik perusahaan-perusahaan skala nasional. Harapannya lulusan pelatihan ini tidak hanya bekerja di Kabupaten Probolinggo, tetapi juga mampu bersaing dan memperoleh pekerjaan di luar daerah karena sertifikat yang dimiliki berlaku secara nasional,” pungkasnya. ***
Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info
