Thursday, October 8, 2026
Depan > Pendidikan > Disdikdaya Kabupaten Probolinggo dan UNY Gelar Workshop Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Tengger

Disdikdaya Kabupaten Probolinggo dan UNY Gelar Workshop Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Tengger

SUKAPURA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar workshop dan pendampingan pembelajaran berbasis kearifan lokal di SMP Negeri 1 Sukapura, Rabu (3/6/2026).

Kegiatan yang merupakan rangkaian program Yadnya Kasada tersebut diikuti oleh seluruh kepala sekolah dan perwakilan guru jenjang SD serta SMP se-Kecamatan Sukapura. Workshop menghadirkan narasumber Prof. Dr. Sugeng Bayu Wahyono, M.Si dari Departemen Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan UNY serta Kepala Bidang Kebudayaan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Akh. Arief Hermawan CM.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Akh. Arief Hermawan mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal, khususnya budaya masyarakat Tengger melalui dunia pendidikan.

“Workshop dan pendampingan pembelajaran berbasis kearifan lokal ini merupakan rangkaian dari kegiatan Yadnya Kasada yang kami laksanakan bersama Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan ini sebagai langkah memperkuat implementasi budaya lokal dalam proses pembelajaran,” katanya.

Menurut Arief, pendidikan memiliki peran strategis dalam proses pemajuan kebudayaan karena sekolah menjadi ruang yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda sejak dini.

“Kegiatan ini adalah upaya kita untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan, khususnya budaya Tengger kepada generasi muda melalui dunia pendidikan. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menegaskan bahwa salah satu strategi pemajuan kebudayaan dilakukan melalui jalur pendidikan,” jelasnya.

Disdikdaya Kabupaten Probolinggo berkolaborasi dengan UNY menggelar workshop dan pendampingan pembelajaran berbasis kearifan lokal. (Foto : Disdikdaya)

Arief berharap para guru dapat mengintegrasikan berbagai nilai, tradisi, bahasa, seni dan kearifan lokal masyarakat Tengger ke dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki pemahaman dan kebanggaan terhadap identitas budayanya.

“Melalui workshop dan pendampingan ini kami ingin para pendidik mampu mengembangkan pembelajaran yang kontekstual, dekat dengan kehidupan peserta didik dan berakar pada budaya daerahnya sendiri. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab komunitas budaya, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan di sekolah,” pungkasnya. ***

Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info