DRINGU – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo memperkuat kesiapsiagaan satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam menghadapi risiko bencana. Langkah tersebut dilakukan melalui pendampingan pelaksanaan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang melibatkan pengelola dan pengawas PAUD dari sejumlah kecamatan.
Pendampingan yang berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia melalui Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini tersebut berlangsung selama dua hari, Selasa-Rabu (6-7/10/2026) di Aula TK Negeri Pembina Dringu.
Mengangkat tema “PAUD Tangguh, Anak Selamat, Generasi Kuat”, kegiatan tersebut diikuti 25 peserta yang terdiri dari Pengawas TK, Penilik PAUD, Kepala TK, Kepala KB dan Kepala TP dari Kecamatan Kraksaan, Sukapura, Krejengan, Besuk, Dringu, Sumber, Sumberasih dan Tongas.
Pendampingan diarahkan untuk mendukung pemulihan pembelajaran di satuan PAUD, menjaga keberlangsungan layanan pendidikan yang kondusif setelah terjadi bencana serta memperkuat kapasitas pendidik agar mampu memberikan layanan pendidikan yang aman, nyaman dan berkelanjutan.

Selama kegiatan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai penyusunan rencana kegiatan satuan PAUD pada masa darurat serta simulasi penerapan kegiatan pembelajaran dalam kondisi darurat.
Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono mengatakan penerapan SPAB penting diperkuat di tingkat PAUD karena anak usia dini merupakan kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih ketika terjadi bencana. “Kenapa SPAB harus masuk ke PAUD? Karena Kabupaten Probolinggo adalah kabupaten yang indah tapi rawan,” katanya.
Menurutnya, wilayah Kabupaten Probolinggo menghadapi berbagai potensi risiko, mulai dari aktivitas gunung berapi Bromo dan Semeru yang dapat menimbulkan abu vulkanik, banjir dan banjir lahar dingin, gempa bumi, angin kencang hingga kekeringan di wilayah utara.
“Di tengah kondisi tersebut, anak usia 0-6 tahun menjadi kelompok yang rentan karena belum memiliki kemampuan untuk menyelamatkan dirinya secara mandiri. Maka, Satuan PAUD tidak boleh hanya mengajarkan baca tulis hitung. PAUD harus menjadi Tempat Paling Aman Kedua setelah Rumah,” tegasnya.

Hary menjelaskan, penerapan SPAB mencakup tiga pilar utama. Pilar pertama adalah fasilitas satuan pendidikan yang aman. Hal tersebut tidak berarti sekolah harus memiliki bangunan mewah, tetapi memastikan lingkungan belajar tidak menimbulkan risiko bagi anak.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain penataan meubelair agar tidak mudah roboh, rak yang tidak terlalu tinggi, keamanan kaca, jalur evakuasi yang mudah dipahami anak serta titik kumpul yang aman.
“Sarana pendukung seperti Alat Pemadam Api Ringan (APAR), Perlengkapan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), peluit dan tas siaga bencana juga perlu tersedia di setiap kelas,” jelasnya.
Pilar kedua berkaitan dengan manajemen bencana di sekolah. Satuan PAUD didorong memiliki tim siaga bencana yang melibatkan orang tua, Standar Operasional Prosedur (SOP) evakuasi yang menggunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami anak serta peta ancaman sederhana yang dapat dibuat bersama guru dan anak. “Dokumen penting sekolah juga perlu disiapkan dalam kondisi yang aman dan mudah dibawa ketika terjadi keadaan darurat,” lanjutnya.

Lebih lanjut Hary menyebutkan pilar ketiga menekankan pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana. Pendekatan kepada anak usia dini harus dilakukan dengan cara yang tidak menimbulkan ketakutan.
“Pengenalan kesiapsiagaan dapat dilakukan melalui lagu, tepuk siaga, dongeng maupun permainan. Simulasi evakuasi juga dapat dilakukan secara berkala dengan durasi singkat dan dikemas seperti aktivitas bermain. Keterlibatan orang tua juga penting agar kebiasaan kesiapsiagaan yang dibangun di sekolah dapat diterapkan pula di lingkungan keluarga,” terangnya.
Hary meminta Bidang Pembinaan PAUD dan PNF menindaklanjuti pendampingan tersebut dengan membangun contoh satuan pendidikan yang mampu menerapkan SPAB secara optimal. “Pastikan setelah pendampingan ini, minimal 1 PAUD per kecamatan menjadi PAUD Model SPAB,” pesannya.
Ia juga mendorong integrasi RPPH SPAB ke dalam Komunitas Belajar (Kombel) Kepala Satuan PAUD serta memasukkan data SPAB dalam pemenuhan indikator PAUD Holistik Integratif (PAUD HI). Bagi pendidik PAUD, kesiapsiagaan tidak harus diajarkan melalui penjelasan panjang kepada anak.

“Hal yang lebih penting adalah kesiapan guru dalam menghadapi situasi darurat. Anak PAUD tidak butuh ceramah panjang tentang bencana. Mereka butuh guru yang tenang, sigap dan sudah menyiapkan semuanya,” ujarnya.
Hary menambahkan kesiapan satuan PAUD dalam menghadapi bencana merupakan bagian dari upaya memberikan perlindungan kepada anak sekaligus menjaga agar proses pendidikan tetap dapat berlangsung dalam kondisi darurat. “Guru siaga, anak selamat. PAUD tangguh, Probolinggo kuat,” pungkasnya. ***
Penulis : Syamsul Akbar
Editor : Tim Bromo Info
