Friday, November 22, 2019
Depan > Kemasyarakatan > UKM Dua Putri Sholehah, Inisiator Makanan Olahan Berbahan Dasar Bawang Merah

UKM Dua Putri Sholehah, Inisiator Makanan Olahan Berbahan Dasar Bawang Merah

Reporter : Hendra Trisianto
DRINGU – Kabupaten Probolinggo kini tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil bawang merah saja, namun juga dikenal sebagai inisiator dan creator makanan olahan berbahan dasar bawang merah yang dipelopori oleh UKM Dua Putri Sholehah Desa Tegalrejo Kecamatan Dringu.

Adanya peluang dan pangsa pasar produk olahan bawang merah yang masih sangat terbuka lebar baik untuk skala ekspor maupun pasar lokal ini ternyata banyak menarik pihak-pihak dari luar Kabupaten Probolinggo untuk berkunjung dan belajar secara langsung teknik pembuatannya.

Hal ini diakui oleh Nurul Khotimah, Ketua UKM Dua Putri Sholehah sekaligus owner berbagai jenis produk UKM cemilan berbahan baku bawang merah dengan merk dagang ‘Hunay’. Selama tiga tahun terakhir rumah produksi bawang goreng Hunay miliknya sering kali menerima kunjungan belajar dari luar daerah, baik kelompok atau secara individu maupun kunjungan yang bersifat kedinasan dari luar Provinsi Jawa Timur.

“Alhamdulillah bawang merah menjadi ikonik bagi daerah kita. Sampai saat ini Kabupaten Probolinggo berada di urutan paling atas sebagai daerah penghasil produk makanan olahan bawang merah. Kami harap diversifikasi produk ini bisa dikembangkan lebih luas lagi, tidak hanya dari kami saja,” ungkap Nurul Khotimah saat menerima kunjungan belajar Kelompok Tani (Poktan) Desa Jagapati Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung Provinsi Bali, Senin (17/6/2019) pagi di rumah produksi Hunay miliknya.

Ibu dua orang anak ini dengan sangat terbuka dan senang hati menunjukkan dapur produksinya. Satu persatu proses pengolahan camilan dan produk bawang goreng diterangkannya, mulai pemilihan kualitas bahan baku, proses kupas kulit, penggorengan, sampai packing dan displaynya.

“Masing-masing manusia mempunyai takaran rejekinya sendiri. Kami tidak pernah khawatir akan tersaingi, justru dengan berbagi ilmu seperti ini selain membawa berkah tersendiri juga akan memacu kita untuk lebih giat lagi berkreasi lagi,” tandasnya.

Total 30 orang yang berkunjung saat itu ternyata tidak hanya dari kalangan petani saja, namun juga ada yang kesehariannya sebagai pemasok makanan kecil hasil olahan seperti kacang, kelapa dan pisang di toko-toko camilan yang banyak tersebar di Bali.

Menurut keterangan Sutarga (40), salah satu peserta yang saat itu membeli cukup banyak varian produk Hunay mengatakan bahwa produk olahan bawang merah sangatlah digemari di Bali. Kesempatan ini dia manfaatkan untuk berburu varian produk yang memungkinkan untuk dipasarkan di Bali.

“Saya coba ambil beberapa sampel camilan dengan harga dasar reseller, untuk kemudian kami pasarkan di toko toko langganan kami. Sampai saat ini pasokan camilan bawang merah masih sangat kurang. Sebab itu jika ini mengena di pasaran nanti akan berlanjut,” jelasnya.

Sementara itu Parwata, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung selaku ketua rombongan menuturkan, kunjungannya kali ini memang tidak hanya untuk belajar teknis budidaya tanaman bawang merah saja tetapi juga ingin mengadopsi terobosan UKM Dua Putri Sholehah dalam meningkatkan nilai jual bawang merah melalui produk olahan makanan ringan.

“Nantinya kami juga akan meniru Kabupaten Probolinggo, awalnya kami akan fokus bergerak pada teknis budidaya sebagai pasokan kebutuhan lokal, kemudian ke tingkat selanjutnya yaitu pengolahan bawang merah sebagai kuliner,” tandasnya.(dra)

cww trust seal