Sunday, December 15, 2019
Depan > Pendidikan > Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Monitoring Bersama Sekolah Mitra INOVASI

Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Monitoring Bersama Sekolah Mitra INOVASI

Reporter : Syamsul Akbar
PAITON – Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, para pemangku pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Agama (Kemenag) dan The Australian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Kedutaan Besar Australia melakukan monitoring bersama mitra Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di Kabupaten Probolinggo, Rabu dan Kamis (7-8/8/2019).

Tim Monitoring Bersama ini mengunjungi 2 (dua) kecamatan di Kabupaten Probolinggo. Yakni, Kecamatan Paiton yang telah melaksanakan rintisan program literasi dan Kecamatan Sukapura yang telah melaksanakan rintisan program kelas rangkap (multigrade). Di Kecamatan Sukapura, tim mengunjungi SDN Sukapura III untuk melihat implementasi program kelas rangkap. Kemudian dilanjutkan ke SDN Ngadisari II untuk melihat kegiatan KKG (Kelompok Kerja Guru) kelas rangkap di Kecamatan Sukapura.

Sementara di Kecamatan Paiton, tim mengunjungi MI Raudlatul Munadhirin dan SDN Sukodadi I untuk melihat secara langsung implementasi program literasi dan kegiatan KKG di kedua sekolah tersebut.

Kegiatan monitoring bersama ini bertujuan agar para pemangku kepentingan dapat melihat dan memantau secara langsung, memberikan masukan, perbaikan dan penguatan terhadap implementasi dan penyebarluasan hasil rintisan Program INOVASI di Kabupaten Probolinggo.

Direktur Program INOVASI Mark Heyward mengatakan potensi praktik menjanjikan yang sudah dilakukan oleh Kabupaten Probolinggo merupakan contoh praktik menjanjikan yang sangat layak diadopsi tidak hanya untuk skala kabupaten/kota, namun juga skala nasional. “Kami berharap hasil monitoring bersama yang dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan dapat memberikan hasil yang positif dan dapat menjadi contoh untuk wilayah lainnya,” terangnya.

Sementara Emma Blanch, Second Secretary dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta mengungkapkan Pemerintah Australia dan Indonesia telah bekerja bersama selama lebih dari 10 tahun untuk memperkuat sistem pendidikan di Indonesia dan INOVASI adalah contoh terbaru dari kemitraan tersebut.

“Kegiatan program rintisan INOVASI di Jawa Timur mencari tahu apa yang berhasil dan tidak berhasil untuk meningkatkan pengajaran dan pembelajaran di sekolah. Memperkuat hasil pembelajaran literasi dan numerasi di ruang kelas dan menangani masalah-masalah utama seperti pembelajaran kelas rangkap, dapat berkontribusi untuk membangun sumber daya manusia Indonesia untuk masa depan,” ujarnya.

Ferry Yulmarino, Kasubit Peningkatan Kompetensi dan Kualifikasi di Direktorat Jenderal Pembinaan Tenaga Kependidikan Kemendikbud RI menyampaikan bahwa program INOVASI berupa literasi di Kabupaten Probolinggo sudah berjalan. Diharapkan ke depan bukan hanya literasi dan multigrade saja tetapi hal-hal lain yang sifatnya perbaikan dalam rangka perbaikan kualitas pendidikan.

“Program tersebut harus bisa berjalan juga melalui program KKG. Dimana KKG ini merupakan sarana dimana program-program yang sifatnya literasi bisa didiskusikan untuk perbaikan. Sebenarnya program-program INOVASI ini merupakan program yang sifatnya hanya memicu agar bisa semangat lagi,” katanya.

Menurut Ferry, pihaknya menginginkan agar semua guru yang ada di daerah bisa bangun dari tidurnya dan berlari untuk mengejar ketertinggalan. Karena nanti pada saat mendapatkan bonus demografi anak-anak yang sekarang ini masih SD bisa memasuki usia produktif. Saat ini mereka menjadi aset penting dan dilatih sejak SD agar kualitasnya bagus sehingga pada saat tahun 2045 di Indonesia emas mereka menjadi orang-orang yang produktif.

“Mungkin sebagian dari mereka akan ada yang menjadi tenaga ahli atau Presiden. Mereka calon pemimpin masa depan yang kualitasnya baik dan kita bagikan dengan pendidikan penguatan karakter. Kalau mereka sudah bagus kualitasnya dan karakternya bagus sehingga masalah-masalah seperti korupsi dan segala macam itu bisa dihilangkan,” tegasnya.

Ferry menambahkan literasi ini salah satunya adalah untuk memberi kemampuan kepada mereka dalam hal bisa membaca bukan sekedar menyebutkan tapi bisa memahami isi bacaan. Biasanya nalarnya literasi itu sebenarnya jadi kalau mereka paham apa yang dibaca bukan sekedar menyebutkan, tetapi memahami cara berpikirnya itu sistematis. Dengan cara berpikir sistematis nanti akan kelihatan di pelajaran-pelajaran seperti Matematika.

“Ke depan akan terlihat perbedaan antara sekolah yang menerapkan program INOVASI dengan yang lain. Tetapi harapannya sekolah mitra INOVASI bisa menularkan ilmunya kepada sekolah yang tidak ikut program INOVASI,” tambahnya.

Sedangkan Sekretaris Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi mengungkapkan bahwa pihaknysa sangat terbantu dengan adanya program INOVASI berupa kelas rangkap (multigrade) dan literasi di Kabupaten Probolinggo. Dengan adanya program tersebut, mau tidak mau guru harus berbagi informasi dan pengalaman sehingga bisa menularkan pengalamannya kepada guru yang lain yang pada ujung-ujungnya KKG bisa lebih aktif.

“PR (Pekerjaan Rumah) saat ini adalah program INOVASI ini tidak akan terus dan akan berhenti. Oleh karena itu kami akan melakukan replikasi program INOVASI tersebut. Pada tahun 2019 dan 2020 kami sudah menyiapkan anggaran replikasi baik literasi maupun multigrade. Namun begitu tentu yang lebih utama menjadi kesadaran guru dan kepala sekolah bagaimana program INOVASI ini berlanjut di satuan pendidikan. Artinya guru jangan selalu menunggu tetapi harus menjemput bola,” katanya.

Menurut Rozi, yang menjadi pembeda pilot project literasi dan multigrade dengan sekolah lain adalah inovasi yang dilakukan oleh guru. Tentunya hal ini harus terus dilanjutkan. “Kami punya tantangan lebih besar berkaitan dengan keterbatasan jumlah guru. Multigrade menjadi salah satu solusi, meskipun hal itu masih belum mampu mengatasi keterbatasan guru secara keseluruhan,” jelasnya.

Rozi menambahkan terkait dengan peran KKG yang merupakan media yang sangat strategis dalam peningkatan kompetensi guru. Karena melalui KKG nanti pengawas dan kepala sekolah bisa melakukan supervise. Nanti supervisi pengawas dan kepala sekolah tidak hanya di satuan pendidikan tetapi dalam forum KKG sehingga KKG itu hidup dan aktif.

“KKG hidup bukan kepentingan siapa tetapi untuk guru itu sendiri dan ini yang harus dipahami. Hasil dari KKG dan pelaksanaan pembelajaran yang bermutu adalah hasil Ujian Nasional dan UASBN, walaupun itu bukan satu-satunya. Sebab iman taqwa itu yang harus diutamakan. Sehingga nanti balance antara karakter dan ilmu pengetahuannya. Menjadi PR kami bagaimana menjadikan KKG sebuah media strategis demi peningkatan mutu dan kompetensi guru. Dengan guru bermutu maka proses pendidikan dan standar kelulusan juga akan bermutu,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal