Wednesday, November 20, 2019
Depan > Informasi Layak Anak > Tampilkan Karya Batik dan Rajut, Siswa Difabel Demonstrasikan Mencanting

Tampilkan Karya Batik dan Rajut, Siswa Difabel Demonstrasikan Mencanting

Reporter : Hendra Trisianto
KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Car Free Day (CFD) atau hari bebas kendaraan bermotor terus memfasilitasi tumbuhnya aneka potensi ekonomi kreatif, kreatifitas dan inovasi masyarakat di bidang seni, budaya, olahraga dan kegiatan sosial.

Pada pelaksanaan CFD ketiga kalinya ini diantara deretan ratusan stand produk UKM dan IKM masyarakat Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan tersebut, ada satu stand yang menarik untuk dikunjungi yakni stand produk para penyandang difabel.

Sedikitnya enam orang penyandang difabel yang bertugas menjaga stand tersebut. Tiga orang penyandang tuna rungu dan tiga orang lainnya adalah penyandang tuna daksa. Tidak hanya piawai memasarkan produk andalan mereka, namun kali ini mereka juga mendemonstrasikan nyanting, salah satu proses penting dalam pembutan batik tulis.

“Sebelumnya mereka telah mengikuti program CSR PT PJB UP Paiton berlatih membatik di galeri batik tulis Ronggomukti selama 25 hari. Alhamdulillah mereka kini telah mampu membuat karya batik tulis, seluruh display produk disini adalah milik mereka mulai dari seni rajut sampai kain dan pigora berhias kain batik,” ungkap Mahrus Ali, owner galeri batik tulis Ronggomukti saat mendampingi kelompok difabel.

Mahrus menerangkan bahwa sebenarnya para penyandang difabel ini memiliki tingkat kecerdasan dan jiwa seni yang tinggi, sehingga tidak menyulitkan pihaknya pada saat memberikan pelatihan. Bahkan kata Mahrus pada praktek cantingan pertama ada beberapa diantara mereka yang langsung bisa dan seolah-olah sudah terbiasa mencanting.

“Atas kemampuan itu saya sangat yakin mereka juga bisa mewarnai perbatikan di Kabupaten Probolinggo, dalam waktu dekat kami akan ajak mereka ke Asosiasi Pengrajin Batik Bordir dan Asesoris (APBBA) Kabupaten Probolinggo sehingga nantinya mereka lebih berperan lagi di kancah Kabupaten Probolinggo, luar daerah dan kalau bisa Internasional,” tandasnya.

Sementara Fini Rahmi Alfiani, selaku guru keterampilan di SLB Negeri Kraksaan mengaku sangat bersyukur atas perhatian dari Pemkab Probolinggo maupun stakeholder untuk turut memberikan bekal hidup kepada para penyandang difabel melalui pelatihan-pelatihan yang sangat berguna.

Fini menyebutkan bahkan perhatian ini juga diberikan sampai mereka telah mampu menghasilkan karya, dengan cara menghargai hasil karya seni mereka dengan cara ikut membeli. “Karena dibalik kekurangan fisik, ternyata mereka memiliki sense of art yang tinggi dan belum tentu orang normal bisa menghasilkan karya seni seperti yang mereka hasilkan ini,” kata Fini.

“Kami berharap mereka bisa lebih mandiri melalui ilmu batik dan rajutnya dan serta bisa membagi ilmu yang sudah mereka dapatkan ini dengan teman-teman dikalangan mereka. Permasalahan utama mereka saat terjun ke tengah masyarakat adalah kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. Kami harap permasalahan tersebut bisa sedikit terselesaikan dengan program semacam ini,” imbuhnya.(dra)

cww trust seal