Sunday, October 25, 2020
Depan > Informasi Layak Anak > Sinergikan Diklat Dasar Guru PAUD Lokus Stunting Secara Daring

Sinergikan Diklat Dasar Guru PAUD Lokus Stunting Secara Daring

Reporter : Syamsul Akbar
KOTAANYAR – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo segera sinergikan pendidikan dan pelatihan (diklat) dasar guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) lokus stunting secara daring yang akan ditindaklanjuti dengan desa.

Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi (rakor) antra Dispendik Kabupaten Probolinggo dengan Camat Kotaanyar Teguh Prihantoro, Kamis (24/9/2020). “Saya berpesan program ini perlu tindaklanjut support Tenaga Ahli (TA) kepada kepala desa, pendamping dan bendahara desa,” katanya.

Tetapi Teguh menegaskan bahwa komunikasi dan koordinasi dengan desa saat ini tidaklah semudah pada saat sebelum pandemic COVID-19. Sehingga masih belum bisa memastikan semua desa respon dan support terhadap kegiatan diklat tersebut, karena desa luar biasa sibuk dan fokus pada pemberian bantuan.

“Akan tetapi saya akan komunikasikan bersama TA, pendamping desa, penilik, Himpaudi dan lainnya. Yang penting bisa saling komunikasi dan koordinasi agar lancar dan sukses,” jelasnya.

Sementara Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi melalui Kasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan PAUD, PNF Massajo mengungkapkan peran guru PAUD dalam penyelenggaraan layanan pendidikan bagi anak usia dini sangat penting dan strategis turut serta dalam percepatan penurunan stunting. “Peserta didik dan orang tuanya memiliki kedekatan emosional dan kepercayaan yang tinggi menitipkan putra-putrinya kepada lembaga PAUD,” ungkapnya.

Namun demikian jelas Massajo, mayoritas sasaran layanan pada usia 3-6 tahun. Sementara kerawanan anak stunting adalah usia Baduta atau lebih dikenal 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).

“Berdasarkan regulasi dan juknis (petunjuk teknis) layanan pendidikan anak usia dini yang tepat usia 0-2 tahun adalah Pos PAUD sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendibud) RI Nomor 83 Tahun 2013 dengan pendekatan pola asuh, kegiatan parenting dan bermain dalam 1 pekan selama 120 menit (2 jam),” jelasnya.

Tingkat kerawanan pengasuhan dan pola bermain usia 1000 HPK sangat tinggi karena dipengaruhi beberapa faktor diantaranya latar belakang pendidikan orang yang masih rendah, kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan atau bahkan terpuruk karena pandemi COVID-19 seperti saat ini yang berlangsung mulai Maret hingga saat ini dan belum bisa diprediksi kapan berakhirnya.

“Disamping masih rendahnya PHBS terlebih lagi saat pandemi saat ini dengan pengetatan protokol kesehatan bila tidak disiplin minimal 3 M meliputi memakai masker, mencuci tangan dengan air bersih dan mengalir serta menjaga jarak aman 1-2 meter,” terangnya.

Massajo menerangkan regulasi, support dan penganggarannya dari pusat pada beberapa kementerian dilakukan dalam rangka menyukseskan program percepatan penurunan stunting hingga 14 % di tahun 2024 sesuai hasil webinar sosialisasi nasional percepatan penurunan stunting oleh Sekretariat Wakil Presiden bersama di ruang meeting Bappeda Kabupaten Probolinggo pada 23 September 2020.

“Melalui kerja sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Dirjen GTK PAUD dan Dikdasmen menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru PAUD sensitif gizi melalui Diklat Dasar Guru PAUD lokus stunting dengan Dana Desa,” tegasnya.

Dengan diterbitkannya regulasi, juknis dan pedum (pedoman umum) mulai dari pusat hingga Perbup (Peraturan Bupati), rembuk stunting dan lain-lain, dukungan penyelenggaraan peningkatan kompetensi guru PAUD sensitif gizi melalui daring dari OPD (Organisasi Perangkat Daerah), Camat dan desa lancar, sukses dan bermanfaat. (wan)

cww trust seal