Friday, November 15, 2019
Depan > Kemasyarakatan > Sambang Makam Bujuk Rangkaian Prosesi Selamatan Desa Krejengan

Sambang Makam Bujuk Rangkaian Prosesi Selamatan Desa Krejengan

Reporter : Hendra Trisianto
KREJENGAN – Tradisi selamatan desa atau Kadisah merupakan adat dan tradisi budaya yang umum dilaksanakan oleh sebagian besar pemerintahan desa di wilayah Kabupaten Probolinggo.

Pada umumnya Kadisah selalu dikaitkan dengan sebuah ikhtiar dan pengharapan masyarakat desa kepada Allah SWT melalui ungkapan rasa syukur dan doa bersama yang dipanjatkan oleh segenap warga masyarakat. Dengan harapan agar supaya sebuah desa itu senantiasa dalam kondisi aman, tenteram, makmur atau toto tentrem gemah ripah loh jinawi.

Di beberapa tempat tata cara dan pelaksanaannya memiliki ragam dan keunikannya tersendiri. Hal ini tentunya sesuai dengan kebiasaan yang telah diwariskan oleh para leluhur secara turun temurun sebelumnya.

Seperti pada Kadisah Desa Krejengan yang sudah lima tahun terakhir selalu digelar dengan sangat meriah. Dari sekian banyak rangkaian prosesi maupun ritual yang dilaksanakan, ada satu acara yang tidak banyak diketahui warga masyarakat yakni “Sambang Makam Bujuk”.

Bujuk adalah sebuah terminologi bagi orang-orang yang ditokohkan pada suatu wilayah atas jasa-jasanya dalam bidang keagamaan maupun bidang lainnya yang dianggap memiliki sejarah penting bagi keberadaan dan asal usul desa tersebut.

Kepala Desa Krejengan Nurul Huda mengemukakan bahwa menurut riwayat yang dipercaya secara turun-temurun, Desa Krejengan sendiri memiliki 12 Bujuk dimana merekalah yang berjasa pada awal terbentuknya Desa Krejengan. Oleh sebab itu selama menjabat Kepala Desa pihaknya tetap mempertahankan tradisi sambang makam Bujuk di setiap pelaksanaan Kadisah.

“Beliau para Bujuk Desa Krejengan bernama Demang Aris, Kyai Aji, Gondo Pati, Ronggo Pati, Onggo Pati, Diyah, Aser, Karminah, Midah, Meras, Bunder dan Kemuning. Kebetulan makam Bujuk yang paling dekat adalah di belakang kantor kami, dekat dengan pemakaman umum” papar Nurul Huda.

Nurul Huda menjelaskan, sambang makam bujuk ini dilakukan setiap selesai kirab jodang dan gunungan. Seluruh perangkat Desa Krejengan saling berbagi tugas untuk menyambangi makam sekaligus mendoakan para arwah Bujuk.

“Desa Krejengan Berbudaya, melaksanakan Kadisah dan menghargai para Bujuk adalah salah satu cara kami untuk mensyukuri segala berkah Allah SWT di desa kami serta mempertahankan budaya dan tradisi agar kami tidak lupa asal usul kami,” tandasnya.(dra)

cww trust seal