Sunday, December 8, 2019
Depan > Kesehatan > Persagi Gelar Seminar Peningkatan Kompetensi Ahli Gizi Untuk Turunkan Angka Stunting

Persagi Gelar Seminar Peningkatan Kompetensi Ahli Gizi Untuk Turunkan Angka Stunting

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kabupaten Probolinggo, Sabtu (2/3/2019) menggelar seminar dengan tema “Peningkatan Kompetensi Ahli Gizi Guna Menurunkan Angka Stunting di Kabupaten Probolinggo” di Hotel Alliya Kraksaan.

Kegiatan yang diikuti oleh 60 orang pengurus Persagi Kabupaten Probolinggo ini dihadiri oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo Sri Patmiati dan segenap jajaran pengurus organisasi profesi kesehatan yang ada di Kabupaten Probolinggo.

Sebagai narasumber hadir Ketua DPD persagi Provinsi Jawa Timur Agus Sri Wardoyo, SKM, MM dengan materi Keorganisasian Persagi dan Dr. Andriyanto, SH, M.Kes dengan materi Meningkatkan Kompetensi Ahli Gizi Guna Menurunkan Angka Stunting yang ada di Kabupaten Probolinggo.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo Sri Patmiati menyampaikan masalah kesehatan yang ada di Kabupaten Probolinggo. Meliputi AKI (Angka Kematian Ibu), AKB (Angka Kematian Bayi) dan Stunting.

“Tiga masalah tersebut sangat berkaitan dengan profesi ahli gizi. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kompetensi dari ahli gizi yang ada di Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.

Sementara Ketua Persagi Kabupaten Probolinggo Sri Astutik mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi tenaga gizi yang ada di Kabupaten Probolinggo dalam menyelesaikan masalah gizi yang ada serta meningkatkan pengetahuan kepada peserta seminar tentang bagaimana caranya menurunkan angka stunting di Kabupaten Probolinggo.

“Selain itu, seminar ini juga untuk menumbuhkan rasa memiliki keorganisasian Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Cabang Kabupaten Probolinggo,” katanya.

Menurut Sri Astutik, kekurangan gizi yang terjadi pada masa janin dan anak usia dini akan berdampak pada perkembangan otak dan rendahnya kemampuan kognitif yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dan keberhasilan pendidikan. Karena itu peranan gizi terutama 1000 HPK sangat penting dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

“Berbagai masalah gizi akan mempengaruhi kualitas hidup generasi mendatang dan menjadi beban negara akibat besarnya nilai ekonomi yang harus dikeluarkan sebagai dampak masalah kesehatan yang ditimbulkan. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor yang menghambat peluang Indonesia untuk menjadi negara maju,” jelasnya.

Sri Astutik menambahkan berbagai permasalahan gizi saat ini baik gizi kurang termasuk stunting dan gizi lebih, terjadi hampir di seluruh strata ekonomi masyarakat baik di pedesaan maupun perkotaan.

“Hal ini menunjukkan bahwa yang mendasari terjadinya masalah gizi tersebut bukan hanya kemiskinan, namun juga kurangnya pengetahuan masyarakat akan pola hidup sehat dan pemenuhan gizi yang optimal. Oleh karena itu peningkatan kompetensi petugas harus lebih ditingkatkan lagi terutama untuk tenaga gizi,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini Sri Astutik mengharapkan para pengurus dan anggota Persagi Kabupaten Probolinggo mengerti dan memahami akan pentingnya kompetensi seorang ahli gizi serta mengerti dan memahami akan pentingnya bagaimana caranya menurunkan angka stunting di Kabupaten Probolinggo.

“Yang paling penting lagi, dapat menumbuhkan rasa memiliki keorganisasian Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Cabang Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal