Monday, November 18, 2019
Depan > Kemasyarakatan > Pemkab Gelar Sosialisasi Pembauran Kebangsaan

Pemkab Gelar Sosialisasi Pembauran Kebangsaan

Reporter : Syamsul Akbar
SUKAPURA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) memberikan sosialisasi pembauran kebangsaan di Hotel Sukapura Permai Kecamatan Sukapura, Sabtu (22/6/2019).

Kegiatan ini diikuti oleh 80 orang yang merupakan tokoh masyarakat adat dan etnis dari unsur masyarakat Tengger, Jawa, Madura dan Arab yang ada di wilayah Kecamatan Sukapura. Sebagai narasumber hadir Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Probolinggo KH. Idrus Ali.

Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Integrasi Bangsa Bakesbangpol Kabupaten Probolinggo Hariyanto mengatakan kegiatan ini dimaksudkan menyegarkan kembali pemahaman masyarakat Indonesia secara luas tentang wawasan nusantara di tengah suasana perubahan sosial yang mendasar.

“Tujuannya adalah untuk membangkitkan rasa dan semangat kebangsaan di kalangan masyarakat bangsa Indonesia demi mendorong terwujudnya kehidupan yang harmonis dengan menciptakan suasana keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” katanya.

Menurut Hariyanto, wawasan kebangsaan dari aspek sosial dan budaya dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pembinaan moral dan akhlak serta kerukunan hidup umat beragama merupakan syarat utama dalam mengatasi permasalahan bangsa yang sedemikian rupa dan kompleks.

“Setidaknya wawasan kebangsaan ini mampu memberikan arti penting peran moral dan akhlak dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara sehingga dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam wadah NKRI,” jelasnya.

Sementara Kepala Bakesbangpol Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto menyampaikan pemeliharaan kerukunan umat beragama merupakan upaya bersama umat beragama dan pemerintah di bidang pelayanan, pengaturan dan pemberdayaan umat beragama.

“Indikator toleransi itu dapat dilakukan dengan saling menerima keberadaan umat beragama lain, mengerti kebutuhan beragama lain, percaya dan tidak saling mencurigai antar sesama umat, ada kemauan untuk tumbuh dan berkembang bersama, rela berkorban untuk kebaikan bersama serta mengedepankan nilai-nilai ajaran universal agama (kejujuran, kedamaian, menghormati, taat pada pimpinan/pemerintah,” ungkapnya.

Menurut Ugas, toleransi berasal dari bahasa latin tolerare artinya menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Sikap toleran tidak berarti membenarkan pandangan yang dibiarkan itu, tetapi mengakui kebebasan serta hak-hak asasi para penganutnya.

“Potensi kerukunan di Jawa Timur khususnya Kabupaten Probolinggo karena dominasi etnis Jawa dan Madura, kuat tradisi keislaman, posisi pondok pesantren, peranan kiai sebagai rujukan sosial, budaya dialog antar pemuka agama, peranan kelompok perempuan, banyak lembaga kerukunan serta kearifan lokal,” tegasnya.

Ugas menambahkan menumbuhkan toleransi dapat dilakukan dengan mengenali kenyataan yang berbeda-beda, memahami kenyataan yang berbeda-beda, berinteraksi dengan pihak-pihak yang beragam serta keteladanan.

“Agama yang ideal adalah humanis, positif, beradab dan inklusif yang dapat memainkan peranan penting dalam upaya membangun budaya toleran dan santun di tengah masyarakat di pasca tradisional dan modernitas global. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menumbuh kembangkan dan memperkuat rasa persatuan antar golongan khususnya di wilayah Kecamatan Sukapura yang notabene banyak etnis yang mendiaminya,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal