Tuesday, September 29, 2020
Depan > Informasi Layak Anak > Pandemi COVID-19, Dispendik Terapkan Tiga Strategi Pembelajaran

Pandemi COVID-19, Dispendik Terapkan Tiga Strategi Pembelajaran

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dalam situasi masa pandemi COVID-19 ini, proses pembelajaran kepada anak didik harus dilakukan secara fleksibel. Orientasinya tidak lagi melihat hasil belajarnya, tetapi lebih fokus kepada bagaimana proses pembelajaran berjalan dengan baik.

“Tentu kita harus fleksibel menyikapi kondisi masa pandemi COVID-19 ini. Meskipun demikian, proses pembelajaran harus terus diberikan dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan peserta didik,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi.

Oleh karena itulah, Dispendik Kabupaten Probolinggo mengeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada seluruh kepala satuan pendidikan mulai dari PAUD, SD dan SMP di Kabupaten Probolinggo terkait dengan panduan pelaksanaan pembelajaran di tengah pandemi COVID-19.

“Proses pembelajaran di tengah pandemi COVID-19 ini bisa dilakukan dengan tiga strategi. Yakni, online atau daring (dalam jaringan), offline atau luring (luar jaringan) dan blended learning atau pembelajaran campuran antara online dan offline,” jelasnya.

Menurut Rozi, pembelajaran online ini hanya bisa dilakukan bagi guru dan peserta didik yang tidak hanya sekedar memiliki teknologi informasi dan komunikasi saja, tetapi juga harus ada jaringan internet yang stabil.

“Kalau offline atau luring itu dilakukan oleh guru dan peserta didik yang kesulitan akses internet. Guru hadir ke komunitas tempat tinggal peserta didik. Jadi guru-guru itu hadir dan mendatangi peserta didik. Tetapi bukan ke rumahnya, namun ke komunitas tempat tinggal,” terangnya.

Rozi mencontohkan, misalnya Dusun A itu ada 5 orang anak. Mereka kemudian sepakat belajarnya dimana. Apakah di musholla, gazebo, kantor desa atau bisa kalau memang dekat dengan sekolah memanfaatkan satu ruang kelas.

“Bisa tempat belajarnya di sekolah, tetapi yang dekat saja. Jadi hanya anak-anak yang memang tinggal di sekitar itu. Karena memang berbasis komunitas tempat tinggal. Proses pembelajaran berbasis komunitas tempat tinggal ini hanya berlaku untuk luring,” tegasnya.

Sementara untuk strategi proses pembelajaran ketiga adalah blended learning. Tetapi ini berlaku bagi yang sudah menerapkan daring dengan memadukan pembelajaran luring. Proses pembelajaran blended learning ini dilakukan untuk mengatasi kejenuhan dan kebosanan peserta didik.

“Contohnya untuk wilayah Kecamatan Kraksaan ini menerapkan proses pembelajaran daring. Supaya tidak bosan dan jenuh, mau pembelajaran luring berbasis komunitas tempat tinggal juga boleh. Jadi blended learning ini merupakan perpaduan antara daring dan luring,” terangnya.

Rozi menegaskan bahwa sampai saat ini di Kabupaten Probolinggo belum ada sekolah yang menerapan proses pembelajaran secara tatap muka. “Karena sesuai dengan keputusan bersama 4 menteri yang mengatur bahwa tatap muka itu hanya bisa dilakukan ketika zona hijau atau kuning. Hari ini kita masih konsisten di zona orange,” tegasnya.

Pada masa pandemi COVID-19 ini tidak bisa memberlakukan atau menyamakan dengan masa normal. Pandemi ini merupakan masa emergency, tentu ada masyarakat yang jenuh atau capek atau mungkin juga lelah membersai anak-anaknya belajar. Hal itu wajar, tetapi bagaimana kemudian yang dilakukan adalah kesehatan dan keselamatan peserta didik itu yang utama.

“Memang dikeputusan 4 menteri itu prinsip kebijakan ada 2 (dua). Disamping kesehatan dan keselatana, juga tumbuh kembang dan psikososial anak. Itu yang menjadi prinsip kebijakan di masa pandemi COVID-19,” ujarnya.

Saat ini orientasinya tegas Rozi, tidak melihat hasil belajarnya tetapi lebih fokus kepada bagaimana proses pembelajaran itu berjalan. Jadi evaluasi yang dilakukan adalah terhadap proses pembelajaran itu sendiri bukan kepada hasil belajar.

“Karena kurikulum di masa pandemi COVID-19 ini dilaksanakan tidak untuk dituntaskan, tapi malah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mengeluarkan kurikulum darurat, kurikulum yang disederhanakan atau kurikulum 2013 yang menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi,” ungkapnya.

Rozi menerangkan kalau bicara efektif atau tidak, tidak bisa dibandingkan dengan kondisi normal. Kalau dibandingkan dengan kondisi normal ya jelas tidak efektif. Tapi ini khan dalam rangka melaksanakan prinsip kebijakan pendidikan disamping kesehatan dan keselamatan juga tumbuh kembang.

“Itulah kemudian kurikulumnya saja disederhanakan bahkan ada kurikulum darurat. Maka bicaranya tidak dalam konteks efektif atau tidak, tapi apakah berjalan apa tidak. Dari hasil evaluasi sudah berjalan dengan baik daring maupun luring,” akunya.

Lebih lanjut Rozi mengharapkan apa yang sudah dilaksanakan dan disampaikan di sekolah bisa berjalan dengan lancar. “Ketika zona kita sudah berubah secara konsisten zona hijau atau zona kuning maka kita akan melaksanakan pembelajaran tatap muka terbatas sesuai dengan keputuan bersama 4 menteri yang dikenal dengan shift learning atau pembelajaran bergantian. Tentunya pembelajaran tatap muka terbatas ini harus mendapatkan ijin dan rekomendasi dari Ibu Bupati Probolinggo,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal