Wednesday, November 13, 2019
Depan > Pendidikan > Mulai Replikasikan Metode Pembelajaran Kelas Rangkap

Mulai Replikasikan Metode Pembelajaran Kelas Rangkap

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Mulai tahun ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo akan mereplikasikan metode pembelajaran kelas rangkap (multigrade) yang saat ini diterapkan pada 8 (delapan) lembaga di Kecamatan Sukapura melalui pendampingan program Inovasi Untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) dari Pemerintah Australia. Penerapan multigrade ini akan diterapkan secara bertahap di lembaga pendidikan di Kabupaten Probolinggo.

Demikian disampaikan oleh Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE usai menerima Wakil Duta Besar (Dubes) Australia untuk Indonesia Allaster Cox bersama rombongan INOVASI Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Probolinggo di Pringgitan Rumah Dinas Bupati Probolinggo, Sabtu (20/7/2019) siang.

“Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari penerapan pembelajaran kelas rangkap. Yakni, mampu mengatasi kekurangan guru, dari sisi siswa bisa saling berinteraksi dan memacu motivasi, efektivitas ruangan serta keterlibatan orang tua, guru dan siswa itu sendiri dalam proses pembelajaran,” ungkapnya.

Menurut Bupati Tantri, dengan kelas rangkap mampu menjawab ketersediaan guru. Karena dengan kelas rangkap, jika normalnya membutuhkan dua guru, maka cukup satu orang guru saja. Misalnya dalam sebuah pembelajaran butuh empat guru maka bisa dimampatkan hanya dua guru.

“Dari sistem pembelajaran, dengan kelas rangkap siswa tidak hanya bertemu dengan teman sebayanya, tetapi juga kakak kelasnya atau kakak kelasnya bertemu dengan adik kelasnya,” jelasnya.

Berdasarkan pengalaman lapangan di wilayah Kecamatan Sukapura terang Bupati Tantri, penerapan pembelajaran kelas rangkap membawa dampak yang positif karena siswanya lebih semangat. Dimana adik kelasnya akan terpacu dengan kakak kelasnya yang wawasannya lebih luas dari adik kelasnya. Demikian pula si kakak kelasnya akan terpacu agar jangan sampai kalah dengan adik kelasnya. Atau kakak kelasnya bisa membagi wawasannya bagi adik-adik kelasnya.

“Di luar itu, keterlibatan orang tua, guru dan siswa itu sendiri dapat memastikan proses belajar dengan baik. Melihat begitu besarnya manfaat dari penerapan pembelajaran kelas rangkap ini, maka kami tidak perlu berlama-lama menimbang akan mereplikasikan kelas rangkap di beberapa lembaga pendidikan di Kabupaten Probolinggo,” tegasnya.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo Dewi Korina menyampaikan bahwa untuk tahun ini lembaga sekolah yang menerapkan pembelajaran kelas rangkap (multigrade) melalui pendampingan program Inovasi Untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) sebanyak 8 (delapan) lembaga di wilayah Kecamatan Sukapura.

“Total sekolah kecil yang ada di Kabupaten Probolinggo mencapai 93 lembaga. Untuk PAK perubahan ada sekitar 150 lembaga yang rencananya akan diterapkan multigrade. Yang jelas akan kita lakukan secara bertahap karena nanti ada proses magang di Kecamatan Sukapura dan dipilih kecamatan terdekat. Hal ini dilakukan supaya proses pelaksanaan multigrade ini dapat berjalan mulus,” katanya.

Menurut Dewi, ternyata mengajar kelas multigrade itu tidak sederhana. Karena seorang guru mengajar anak kelas 1 dan 2 di satu ruangan dengan kompetensi dasar melalui tema yang mirip tetapi sasarannya berbeda.

“Oleh karena itu, gurunya harus dilatih dan kita tidak ingin gagal. Kendala-kendala teknis sudah kita petakan. Sebagai pilot project kita pilih kecamatan terdekat dengan Kecamatan Sukapura seperti Lumbang, Kuripan dan Sumber. Walaupun semua pengawas dan kepala sekolah kita ikutkan pelatihan. Untuk pelatihan mereka tetap kita ikutkan, tetapi pendampingan fullnya ada di 3 kecamatan,” terangnya.

Dewi menerangkan banyak manfaat dari penerapan pembelajaran multigrade ini, salah satunya untuk mengatasi kekurangan guru di Kabupaten Probolinggo. Sampai saat ini jumlah guru yang pensiun mencapai 335 orang. Sehingga dihitung dengan sebelumnya, maka di Kabupaten Probolinggo terjadi kekurangan guru sebanyak 500 orang.

“Sebetulnya kami sudah mengajukan kekurangan guru tersebut melalui CPNS dan PPPK tahun 2019. Tetapi sampai saat ini kita masih belum tahu. Sementara untuk CPNS dan PPPK 2019 ada kebijakan merekrut dari honorer K2. Hanya sisa K2 bukan guru tetapi administrasi. Jadi yang kurang guru tetapi K2 yang tersisa adminisyrasi. Sedangkan K2 yang guru sudah direkrut kemarin dan tinggal tersisa 50 orang,” tegasnya.

Lebih lanjut Dewi menambahkan, dengan multigrade ini pihaknya mengaku bisa menghemat guru dan anggaran. Dengan kelas rangkap semangat anak-anak akan lebih bagus dan mampu menghemat ruangan karena anak-anak belajar dalam satu ruangan. Sehingga ruangannya bisa dimanfaatkan untuk ruang perpustakaan.

“Idealnya, satu guru itu untuk satu rombongan belajar (rombel). Tetapi kenyataannya sekarang tidak seperti itu. Karena kekurangan guru di sekolah-sekolah, satu orang guru mengajar dua kelas. Sehingga satu guru harus lari ke kelas 1, kemudian ditinggal dan lari ke kelas 2. Dan begitu secara terus menerus. Tetapi dengan kelas rangkap, mereka dikumpulkan di satu ruang untuk saling berinteraksi. Uji coba ini hasilnya lebih bagus,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal