Tuesday, October 22, 2019
Depan > Kemasyarakatan > Kuatkan Kelembagaan Kelompok Tani Melalui SL-PHT Tembakau

Kuatkan Kelembagaan Kelompok Tani Melalui SL-PHT Tembakau

Reporter : Syamsul Akbar
DRINGU – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo melakukan kegiatan penumbuhan dan penguatan kelembagaan kelompok melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) tembakau tahun 2019.

Kegiatan yang didanai oleh alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2019 ini dilaksanakan di 8 (delapan) kelompok tani di Kabupaten Probolinggo. Yakni, Kelompok Tani Karya Bakti II Desa Klampokan Kecamatan Besuk, Kelompok Tani Sejahtera Mojolegi Desa Mojolegi Kecamatan Gading, Kelompok Tani Cempiring Desa Karanganyar Kecamatan Paiton dan Kelompok Tani Sejahtera Bucor Wetan Desa Bucor Wetan Kecamatan Pakuniran.

Selanjutnya, Kelompok Tani Timor Subur Desa Tambak Ukir Kecamatan Kotaanyar, Kelompok Tani Sumber Makmur Sumber Katimoho Desa Sumber Katimoho Kecamatan Krejengan, Kelompok Tani Sandang Pangan Desa Kregenan Kecamatan Kraksaan dan Kelompok Tani Daun Mas Dua Desa Kedungrejoso Kecamatan Kotaanyar.

Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo Nanang Trijoko Suhartono melalui Kepala Bidang Perkebunan Nurul Komaril Asri mengatakan fokus kegiatan ini adalah kelompok tani yang ada di masing-masing kelompok tani. Para petani diajak agar bisa melakukan identifikasi hama dan penyakit tanaman tembakau.

“Kami mengharapkan agar petani menghindari penggunaan pestisida dan pupuk bahan kimia yang masuk ke tanah dan beralih kepada penggunaan pupuk organik. Pupuk organik ini sangat penting, karena tinggi mineral yang dibutuhkan tanaman,” katanya.

Menurut Nurul, media tanam yang porus memudahkan akar tanaman untuk melakukan penetrasi dan menahan air sehingga tidak kekeringan. Jika kandungan organiknya tinggi, maka akan banyak menyimpan air. “Dengan figur tanaman yang sehat, maka akan meminimalisir serangan hama penyakit,” tegasnya.

Nurul menerangkan pada dasarnya kegiatan ini mengarahkan petani untuk memberantas penyakit secara alami. Karena pada sisi lain bagaimana bisa meningkatkan produksi tanaman tetapi di sisi lain mampu menjaga ekosistem tanah sehat, porus dan penambahan unsur-unsur organik.

“Dengan kegiatan ini petani diajak mampu melakukan identifikasi hama dan penyakit tanaman tembakau, memantau proses pertumbuhan dan mendeteksi panen. Jadi semuanya dipantau mulai dari proses pembibitan hingga panen. Selain itu anjuran untuk menggunakan pupuk alami. Karena juga diajari pembuatan pupuk bokhasi padat dan cair serta ekologis tanaman untuk mendukung ekosistem tanah,” terangnya.

Lebih lanjut Nurul menegaskan dengan menjaga lingkungan maka juga turut serta menjaga makhluk hidup di sekitarnya. Semakin banyak makhluk hidup, maka semakin bagus tanamannya. “Kegiatan SL-PHT ini bertujuan untuk memberikan bekal ketrampilan dan wawasan supaya bisa menangani sendiri hama dan penyakit tanaman tembakau,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini Nurul mengharapkan agar mampu meningkatkan kualitas tembakau. Karena jika kualitasnya bagus, maka tembakau bisa diterima oleh gudang. Jika penanganan pasca panen tepat, harga tembakau akan bagus sehingga keuntungannya meningkat. Outputnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Dengan harga tembakau yang tinggi, harapannya bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Misalnya dengan mengajak orang lain untuk membantu dan diberikan upah yang layak. Artinya mampu menyerap tenaga kerja demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” harapnya. (wan)