Saturday, May 25, 2019
Depan > Kemasyarakatan > Ketika Kelompok Tani Dan Komunitas Fotografi Bersinergi Lestarikan Keberagaman Satwa Liar

Ketika Kelompok Tani Dan Komunitas Fotografi Bersinergi Lestarikan Keberagaman Satwa Liar

Reporter : Hendra Trisianto
KRUCIL – Kelompok Tani (Poktan) Rejeki 17 binaan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya gandeng komunitas 5:am_Photography (fotografer satwa liar Probolinggo) dalam upaya pelestarian keberagaman satwa liar di areal kebun kopi dusun Pesapen desa Watupanjang kecamatan Krucil, Sabtu (04/08/2018) pagi.

Sinergitas ini diwujudkan melalui sosialisasi mengenai manfaat keanekaragaman hayati, pemasangan himbauan larangan berburu satwa liar di areal kebun kopi organik yang tercatat seluas 37,02 hektar, serta identifikasi satwa burung yang menjadi predator alami bagi hama kebun kopi.

Kus Junaidi, Kepala Desa Watupanjang sekaligus mewakili poktan Rejeki 17 saat itu menuturkan, dalam regulasi dan tata kelola perkebunan organik adalah harus mengacu pada teknik perawatan alami tanpa bahan kimia sedikitpun. Hal ini mutlak dilakukan semata-mata untuk memperoleh kualitas kopi arabika organik yang telah dikembangkan sejak tahun 2016 lalu.

“Kami berharap melalui sinergi ini kami mampu mengupayakan pelestarian satwa liar di sekitar perkebunan kopi organik kami, khususnya pada jenis burung yang menjadi musuh alami pada hama kopi,” ungkap Kus Junaidi.

Lebih lanjut Kus Junaidi mengutarakan, bahwa saat ini beberapa jenis burung umum yang di ketahui sebagai pemangsa serangga di kebun kopinya sudah jauh berkurang. Menurut ia hal ini juga disebabkan oleh maraknya perburuan burung yang akhir-akhir ini semakin tak terkendali.

“Kondisi ini menjadi kekhawatiran bagi kami para petani kopi organik, karena burung pemakan serangga itu tak ubahnya sebagai sahabat kami dalam membantu mengendalikan hama penyakit, oleh karenanya kedepan larangan berburu ini juga akan kami rumuskan ke dalam Perdes Watupanjang,” tandasnya.

Joko Prasetio, salah satu anggota 5:am_Photography menyambut baik atas langkah yang tengah diambil poktan Rejeki 17 dan Pemdes Watupanjang ini, menurutnya dalam sebuah ekosistem alam yang sehat sangat erat kaitannya dengan keberagaman berbagai jenis hidupan liar di dalamnya, baik itu vegetasi maupun satwa liarnya.

“Ketika ekosistem ini terusik maka satwa didalamnya akan meninggalkannya, dan jika itu terjadi maka selanjutnya proses rantai makanan didalamnya pun akan terganggu bahkan putus atau rusak. Contoh nya pada kebun kopi jika satwa burungnya sebagai predator alami tidak betah disini, maka pertumbuhan serangga yang menjadi hama pada tanaman kopi akan menjadi tidak terkendali,” jelas Cowie sapaan akrabnya.

Lebih lanjut Alumni ITN Malang ini menjelaskan, berdasarkan literatur yang ada di habitat yang berada di ketinggian 1.200 mdpl dengan karakter alam seperti lereng gunung Argopuro ini seharusnya akan sangat mudah dijumpai beberapa ragam satwa liar bangsa burung dan mamalia.

“Seharusnya beberapa jenis burung merbah atau cucak-cucakan akan banyak kita jumpai disini selain burung kutilang, jenis zoothera atau punglor juga tidak nampak, hanya jenis punglor yang kurang diminati penghobi tadi sempat terlihat. Selain itu burung yang sangat umum di habitat perkebunan adalah jenis prenjak juga sudah sulit kita temukan,” tandasnya.

Terkait tentang kondisi ini, anggota 5:am_Photography lainnya Nur Akhmad menambahkan, sepinya penampakan aktifitas burung di areal perkebunan kopi merupakan indikator awal bahwa ekosistem didalamnya tidak sehat. Menurut pengamatannya saat itu hanya burung yang kurang diminati penghobi saja yang masih sering terlihat, diantaranya adalah, Kaladi ulam (pelatuk), Cipoh kacat (sirpu), Kutilang, Anis sisik (punglor sisik), Wiwik uncuing, Gemak loreng, dan sepah kecil.

Oleh sebab itu, pihaknya berharap untuk diadakan pengamatan lebih intens dan lebih luas lagi agar bisa mendapatkan data yang lebih detail dan valid. Dengan memasang papan himbauan kata ia, paling tidak akan mengurangi aktifitas perburuan di kawasan kebun kopi organik ini.

“Birdwatching kali ini adalah langkah awal untuk kemudian sebisa mungkin didukung oleh Perdes yang mengacu kepada konservasi satwa liar di desa Pesapen. Harapannya adalah untuk mengembalikan keberagaman hidupan liar agar normalisasi rantai makanan tetap terjaga,” harap bapak 4 orang anak ini.

Harapan ini rupanya juga diamini oleh Sutrisno, Sekretaris Camat Krucil yang juga turut serta dalam giat tersebut. Ia menuturkan bahwa pihaknya akan selalu mensuport giat konservasi ini karena nantinya warga masyarakat lah yang akan langsung merasakan sisi positifnya, khususnya dampak ekonomi.

“Komoditas kopi Arabika organik ini tidak hanya menjadi harapan warga desa Watupanjang, tetapi juga harapan Pemerintah Kabupaten Probolinggo untuk mendongkrak perekonomian warga masyarakatnya,” kata pria berkumis tebal ini.

“Kedepan kami bersama komunitas 5:am_Photography ini akan berencana untuk menggandeng beberapa pihak yang lebih kompeten lagi dalam hal ini, untuk melakukan sosialisasi dan penyadartahuan masyarakat yang lebih luas lagi di scope Kecamatan Krucil,” pungkasnya. (dra)