Thursday, November 26, 2020
Depan > Kemasyarakatan > FKPS Berikan Pelatihan Pemulasaran Jenazah Infeksius

FKPS Berikan Pelatihan Pemulasaran Jenazah Infeksius

Reporter : Hendra Trisianto
KRAKSAAN – Forum Kabupaten Probolinggo Sehat (FKPS) bersinergi dengan Satgas Penanganan COVID-19 Kabupaten Probolinggo memberikan pelatihan pemulasaran jenazah infeksius di 24 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo.

Pelatihan pemulasaran jenazah infeksius ini akan dilaksanakan di 8 (delapan) titik yang masing-masing diikuti oleh 3 kecamatan. Sebagai narasumber berasal dari RSUD Waluyo Jati Kraksaan dan P3KM (Pemuda-Pemudi Peduli Kesehatan Masyarakat) binaan dari CSR PT POMI Paiton. Serta ke depan akan melibatkan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kabupaten Probolinggo.

Sasaran dari pelatihan pemulasaran jenazah infeksius ini adalah anggota masyarakat umum. Dimana FKPS meminta kepada seluruh Ketua FKKS (Forum Koordinasi Kecamatan Sehat) di 24 kecamatan untuk memilih relawan-relawan yang memang benar-benar mau terjun ke lapangan. Terdiri dari 6 orang pria dan 4 orang perempuan, sehingga kalau jenazahnya perempuan nanti bisa ditangani oleh tim pemulasaran jenazah perempuan.

“Ketika ada kasus kematian, maka tim relawan ini yang akan bergerak. Begitu juga ketika ada risiko keluarganya menolak juga termasuk tim relawan ini yang bisa koordinasi dan komunikasi dengan lintas sektor di kecamatan masing-masing. Kami harapkan ada tokoh masyarakat juga terlibat disana. Jadi bisa menasehati dan mengkomunikasikan dengan baik kepada masyarakat,” kata Ketua FKPS dr. Mirrah Samiyah.

Menurut Mirrah, saat ada kasus kematian maka petugas yang sudah dilatih ini juga turun ke lapangan. Saat masih di rumah sakit itu, nanti petugas dari rumah sakit yang melakukan pemulasarannya. Tetapi ketika sudah dikirimkan ke pemakaman, tim yang dilatih ini yang bisa membantu proses pemakamannya dan mensholati jenazah.

“Jadi ketika nanti jenazahnya datang dengan menggunakan ambulan, mereka yang sudah dilatih melakukan sholat jenazah yang jenazahnya tetap didalam ambulan. Setidaknya pihak masyarakat bisa ikut mensholati,” jelasnya.

Mirrah menerangkan program dari FKPS itu dilakukan dengan menangkap kebutuhan. Artinya beberapa kejadian penolakan pemakaman secara jenazah infeksius. Karena sering ada amukan-amukan massa ke rumah sakit menolak dan penjemputan paksa pasien.

“Pelatihan ini diharapkan dengan melibatkan masyarakat setidaknya permasalahan untuk penolakan dari masyarakat terkait pemakaman maupun pemulasaran bisa kita tekan bersama. Tentunya nanti juga harus disupport dari lintas sektor lainnya,” terangnya.

Lebih lanjut Mirrah menjelaskan kalau selama ini pemulasaran jenazah kendalanya ketika sampai di tempat pemakaman tenaga pemakamannya kurang. Sebab memang masih ada masyarakat yang takut untuk terjun secara langsung karena pengetahuannya masih minim. “Tetapi dengan pelatihan ini masyarakat akan semakin tahu dan semakin yakin bahwasanya proses pemulasaran dan pemakaman juga dilakukan sesuai dengan syariat agama yang dianut,” tegasnya.

Mirrah berharap masyarakat Kabupaten Probolinggo tetap mendapatkan penghormatan terakhir yang layak dan terhormat meski di masa pandemi. Yang pasti juga sesuai dengan syariat agama Islam. Untuk agama selain Islam juga mengikuti sesuai dengan kebutuhan di masing-masing kecamatan. Misal di Kecamatan Sukapura, maka diharapkan masyarakat agama Hindu untuk bergabung mengikuti pelatihan ini dan begitu juga lintas agama lainnya.

“Ketika masyarakat ikut andil berperan bersama menyelesaikan permasalahan sebuah bangsa, maka itulah sejatinya kekuatan besar yang bisa menyelesaikan permasalahan bangsa ini lebih cepat dan baik. Sebenarnya kekuatan kita untuk mengatasi pandemi ini kalau melibatkan masyarakat ini akan jauh lebih besar dan lebih kuat,” pungkasnya. (dra)

cww trust seal