Tuesday, October 22, 2019
Depan > Pendidikan > Dispendik Gelar Bimtek Kurikulum 2013 Pendidikan Kesetaraan

Dispendik Gelar Bimtek Kurikulum 2013 Pendidikan Kesetaraan

Reporter : Hendra Trisianto
KRAKSAAN – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo memberikan bimbingan teknis (bimtek) Kurikulum 2013 Pendidikan Kesetaraan di aula SKB Kraksaan, Senin hingga Selasa (29-30/7/2019).

Kegiatan ini diikuti oleh 62 orang peserta terdiri dari 51 Tutor Paket A, B dan C serta 11 Ketua Lembaga PKBM di Kabupaten Probolinggo. Narasumber berasal dari Balai Pengembangan Pendidikan PAUD dan Dikmas Provinsi Jawa Timur.

Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Dewi Korina melalui Kasi Kurikulum dan Penilaian PAUD, PNF Erna Sayuti mengatakan bimtek Kurikulum 2013 Pendidikan Kesetaraan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman Kurikulum 2013 Pendidikan Kesetaraan pada Program Paket A, B dan C. “Serta memberikan pemahaman kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Dirjen PAUD dan Dikmas,” katanya.

Menurut Erna, pendidikan kesetaraan merupakan pendidikan non formal yang mencakup program Paket A, B dan C dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional peserta didik. Pendidikan kesetaraan memiliki posisi yang strategis dalam kerangka pendidikan nasional secara umum.

“Berpijak pada perkembangan dan arus perubahan yang terjadi di masyarakat baik di tingkat lokal, nasional maupun global, pendidikan kesetaraan harus berkontribusi pada kemampuan peserta didik dalam mengantisipasi, menghadapi atau adaptasi serta menjawab tantangan baru selaras dengan perubahan tersebut. Dengan demikian pendidikan kesetaraan harus memuat aspek yang mendukung pada pemberdayaan dan kemandirian peserta didik,” jelasnya.

Erna menerangkan meski pendidikan kesetaraan memiliki karakteristik khusus, namun dalam pelaksanaannya hal itu tidak bisa dipisahkan dengan praktek pendidikan yang berlangsung di sekolah formal. Pendidikan formal dan pendidikan non formal atau pendidikan kesetaraan merupakan dua pilar penting untuk mencapai kualitas pendidikan nasional. Keduanya merupakan lembaga pendidikan yang sama-sama diorientasikan untuk tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Meski keduanya dalam prakteknya memiliki karakteristik yang berbeda dan juga keduanya dilaksanakan dengan strategi dan cara yang berbeda, namun kualitas lulusan dari keduanya diharapkan memiliki kualitas yang sama. Perbedaan itu penting diakui karena meski kedua jenis pendidikan ini memiliki misi yang sama. Yakni, sama-sama berupaya mencerdaskan kehidupan bangsa, namun memiliki orientasi, strategi, mekanisme, parktek dan sasaran yang berbeda,” terangnya.

Lebih lanjut Erna menegaskan penguasaan pengetahuan disini lebih ditekankan dibanding penguasaan ketrampilan. Karena tujuannya lebih kepada upaya mengatasi persoalan-persoalan dalam hidup, pendidikan kesetaraan membutuhkan strategi khusus dalam proses pembelajaran yang menekankan pada keberdayaan peserta didik yang tidak atau kurang berdaya itu dalam menghadapi masalah dan menemukan jalan keluar untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Perbedaan ini membawa konsekuensi pada muatan kurikulum dan pembelajaran yang berbeda pula dimiliki kedua jenis pendidikan tersebut.

“Strategi khusus dalam pendidikan kesetaraan sebagai pemberdayaan, mensyaratkan penyelenggara pendidikan kesetaraan, termasuk pendidiknya dapat menjangkau kebutuhan pembangunan kesadaran, kemampuan memahami masalah-masalah dalam lingkungan dan mengakomodasi kebutuhan yang lebih personal,” tegasnya.

Erna menambahkan kurikulum pendidikan kesetaraan ini berupaya mengisi perspektif pendidikan yang memberdayakan dengan harapan fasilitator memiliki perspektif yang sama dan dapat mewujudkan peserta didik yang memiliki kecapakan hidup untuk mandiri dan tampil sebagai warga yang aktif dan berkonstribusi bagi masyarakatnya.

“Tutor sebagai seorang pendidik di satuan pendidikan yaitu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) harus memiliki kompetensi-kompetensi yang berkaitan dengan mendidik, mengajar dan melatih warga belajar. Dalam profesi ketutoran kita mengenal istilah kompetensi. Kompetensi itulah yang digunakan untuk menilai apakah seorang tutor berkualitas atau tidak,” pungkasnya. (dra)