Thursday, August 6, 2020
Depan > Informasi Layak Anak > Dispendik Gelar Bimtek Kelas Inklusi Bagi Sekolah dengan Siswa Berkebutuhan Khusus

Dispendik Gelar Bimtek Kelas Inklusi Bagi Sekolah dengan Siswa Berkebutuhan Khusus

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Sebagai upaya pengembangan kelas layanan khusus, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo menggelar bimbingan teknis (bimtek) pendidikan layanan khusus kelas inklusi bagi sekolah dengan siswa berkebutuhan khusus di aula SKB Kraksaan, Rabu dan Kamis (23-24/10/2019).

Bimtek ini diikuti oleh 56 orang peserta terdiri dari 28 kepala sekolah dan 28 orang guru BK serta 28 sekolah yang ditunjuk dan memiliki siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) di Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi didampingi Kepala Bidang Pembinaan SMP Saiful Anwar.

“Bimtek pendidikan layanan khusus kelas inklusi bagi sekolah dengan siswa berkebutuhan khusus ini digelar dengan tujuan untuk memberikan bekal ketrampilan dan pengetahuan kepada para guru BK di 28 sekolah dalam memberikan pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus,” kata Kasi Kurikulum dan Penilaian SMP Dispendik Kabupaten Probolinggo Sudarsono.

Sementara Sekretaris Dispendik Kabupaten Probolinggo Fathur Rozi mengatakan guru harus memiliki kompetensi dalam memberikan pelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Kompetensi itu adalah kemampuan yang teraktualisasi.

“Saat memasuki kelas, guru harus tahu kondisi di kelasnya bahwa ada anak berkebutuhan khusus yang harus mendapatkan pendidikan inklusi. Tujuan pendidikan inklusi memberikan kesempatan kepada peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus,” katanya.

Menurut Rozi, ada beberapa hal yang harus mendapatkan perhatian dari pemangku kepentingan. Diantaranya peserta didik, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, kegiatan pembelajaran dan lain sebagainya. Dimana sekolah harus memberikan satu ruang pembelajaran yang nyaman sehingga siswa enak belajar. “Guru harus menjadi motivator dan fasilitator bagaimana belajar itu bisa menyenangkan,” jelasnya.

Hanya saja terang Rozi masih ada beberapa permasalahan yang dihadapi dalam penerapan pendidikan inklusi. Seperti guru inklusi belum terdata dengan baik, kurangnya guru pembimbing khusus, kompetensi guru perlu ditingkatkan, minimnya pemahaman guru terhadap anak berkebutuhan khusus, guru mengalami kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar, kurang sabarnya guru dalam menghadapi anak berkebutuhan khusus dan lain sebagainya.

“Dalam penerapan pendidikan inklusi ini, harus ada perubahan mindset pola piker dari negatif ke positif. Sehingga anak-anak berkebutuhan khusus bisa diterima. Pendidikan inklusi harus menjadi jiwa sistem pendidikan kita. Guru harus memiliki rasa empati dan simpati kepada anak berkebutuhan khusus. Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka layanan khusus pendidikan inklusi dapat dilaksanakan secara maksimal,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal