Tuesday, September 29, 2020
Depan > Kesehatan > Dinkes Lakukan Deteksi Dini Faktor Resiko PTM di Pondok Pesantren

Dinkes Lakukan Deteksi Dini Faktor Resiko PTM di Pondok Pesantren

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo melakukan gerakan deteksi dini faktor resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) pada 11 pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo.

Sasaran dari kegiatan deteksi dini faktor resiko PTM di lingkungan pondok pesantren ini adalah penduduk usia 15-59 tahun baik dengan kondisi sehat, masyarakat beresiko maupun masyarakat dengan kasus PTM.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto melalui Kasi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dantonia Anugrah Permanasari mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan penemuan dini faktor resiko PTM.

“Selain itu, mengontrol dan menjaga kesehatan secara optimal baik preventif seperti penyuluhan dan kuratif missal rujukan ke puskesmas. Serta meningkatkan cakupan deteksi dini PTM usia produktif,” katanya.

Menurut Nia, PTM dapat dicegah dengan mengendalikan faktor resikonya. Yakni, merokok, diet yang tidak sehat, kurang aktifitas fisik dan konsumsi minuman beralkohol. “Mencegah dan mengendalikan faktor risiko relatif lebih murah bila dibandingkan dengan biaya pengobatan PTM,” jelasnya.

Nia menerangkan, salah satu strategi pengendalian PTM yang efisien dan efektif adalah pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat. Masyarakat diberikan fasilitas dan bimbingan untuk ikut berpartisipasi dalam pengendalian faktor resiko PTM dengan dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan deteksi dini, monitoring faktor resiko PTM serta tindak lanjutnya. Kegiatan ini disebut dengan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM.

“Posbindu PTM merupakan wujud peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan monitoring faktor risiko PTM serta tindak lanjutnya yang dilaksanakan secara terpadu, rutin dan periodik. Kegiatan Posbindu PTM diharapkan dapat meningkatkan sikap mawas diri masyarakat terhadap faktor resiko PTM sehingga peningkatan kasus PTM dapat dicegah,” terangnya.

Lebih lanjut Nia menambahkan sikap mawas diri ini ditunjukan dengan adanya perubahan perilaku masyarakat yang lebih sehat dan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan tidak hanya pada saat sakit, melainkan juga pada keadaan sehat.

Dalam menyelenggarakan Posbindu PTM diperlukan suatu pedoman yang dapat menjadi panduan bagi penyelenggaraan kegiatan bagi para pemangku kepentingan serta pelaksana di lapangan. Posbindu di era kebiasaan baru ini dilaksanakan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan demi pencegahan penyebarluasan COVID-19,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal