Wednesday, August 21, 2019
Depan > Kesehatan > Dinkes Gelar Workshop Optimalisasi Penggunaan TCM

Dinkes Gelar Workshop Optimalisasi Penggunaan TCM

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular Tuberkulosis (TB), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Kamis (11/4/2019) menggelar workshop optimalisasi penggunaan TCM (Tes Cepat Molekuler).

Kegiatan ini diikuti oleh Pengelola Program TBC dan Pengelola Laboratorium TBC Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten Probolinggo yang terdiri dari 36 orang Pengelola Program TBC Puskesmas dan Rumah Sakit dan 36 orang Pengelola Laboratorium Puskesmas dan Rumah Sakit.

Selama kegiatan para peserta mendapatkan materi optimalisasi penggunaan TCM oleh Dinkes Provinsi Jawa Timur serta sosialisasi dan penerapan Sistem Transportasi Spesimen TBC (SITRUST) oleh Yayasan KNCV Indonesia.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto melalui Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dr. Dewi Veronica mengatakan Tuberkulosis (TB) sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya penanggulangan TB telah dilaksanakan di banyak Negara sejak tahun 1995.

“Penemuan pasien bertujuan untuk mendapatkan pasien TB melalui serangkaian kegiatan mulai dari penjaringan terhadap terduga pasien TB, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan, menentukan diagnosis, menentukan klasifikasi penyakit serta tipe pasien TB. Setelah diagnosis ditetapkan dilanjutkan pengobatan yang adekuat sampai sembuh, sehingga tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain,” ujarnya.

Menurut Dewi, pemeriksaan tes cepat molekuler dengan metode Xpert MTB/RIF. TCM merupakan sarana untuk penegakan diagnosis lebih cepat dari pemeriksaan mikroskopis, namun tidak dapat dimanfaatkan untuk evaluasi hasil pengobatan.

“Dalam menjamin hasil pemeriksaan laboratorium, diperlukan contoh uji dahak yang berkualitas. Pada faskes yang tidak memiliki akses langsung terhadap pemeriksaan TCM, diperlukan sistem transportasi contoh uji. Hal ini bertujuan untuk menjangkau pasien yang membutuhkan akses terhadap pemeriksaan tersebut serta mengurangi risiko penularan jika pasien bepergian langsung ke laboratoirum,” jelasnya.

Dewi menerangkan bahwa di Kabupaten Probolinggo ada 2 (dua) alat mesin TCM yang sudah tersedia dan melayani pemeriksaan contoh uji dahak untuk mendiagnosis TB SO (Sensitif Obat). Yakni, TB Resisten Obat dan TB pada ODHA di RSUD Waluyo Jati Kraksaan dan Puskesmas Sumberasih.

“Akan tetapi tingkat utilisasi penggunaan alat tersebut belum maksimal (± 30-40%) setiap bulannya dari target pemakaian 200 contoh uji dahak yang harus diperiksa. Oleh karena itulah dibutuhkan sebuah kegiatan untuk meningkatkan utilisasi TCM dan penemuan kasus TB,” terangnya.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka peningkatan penggunaan TCM sebagai alat penegakan diagnosa Tuberkulosis bagi Pengelola Program TBC dan Pengelola Laboratorium TBC Puskesmas dan Rumah Sakit di Kabupaten Probolinggo. (wan)