Friday, December 13, 2019
Depan > Kesehatan > Pemkab Gelar Workshop Kader Dalam Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak

Pemkab Gelar Workshop Kader Dalam Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggelar workshop kader dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Kamis dan Jum’at (3-4/10/2019).

Kegiatan ini diikuti oleh 1.320 orang kader dibagi menjadi 4 (empat) angkatan dari kader posyandu 33 puskesmas se-Kabupaten Probolinggo. Dalam kesempatan tersebut, para kader posyandu mendapatkan materi analisa kesehatan ibu dan anak serta pemanfaatan buku KIA, deteksi resiko tinggi ibu hamil serta pola makan dan asupan gizi pada ibu hamil oleh Dinkes Provinsi Jawa Timur dan Dinkes Kabupaten Probolinggo.

Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kabupaten Probolinggo Sutilah mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi di Kabupaten Probolinggo. “Paling tidak dengan kegiatan ini kader memahami tentang cara pengunaan buku KIA, mampu melakukan deteksi dini resiko kehamilannya serta memahami makanan yang bergizi untuk ibu hamil,” ungkapnya.

Menurut Sutilah, kondisi di Kabupaten Probolinggo dalam 6 (enam) tahun terakhir mulai 2013 hingga 2018 kematian ibu cenderung mengalami penurunan. Yakni, 15, 24, 26, 20, 14, 12 dan tahun 2019 sebanyak 14 ibu yang meninggal sampai bulan Oktober. Sedangkan kematian bayi mengalami kenaikan 201, 235, 242, 223, 190, 242 dan tahun 2019 sampai bulan September sebanyak 139 bayi.

“Turunnya angka stunting, Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi dapat dicapai melalui dukungan beberapa pihak, utamanya adalah kader karena yang paling dekat dengan masyarakat. Kader mempunyai peranan yang cukup besar dalam mengawasi, mendampingi dan mendeteksi secara dini pada ibu hamil resiko tinggi yang disampaikan pada petugas kesehatan, sehingga tidak mengalami keterlambatan,” tegasnya.

Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto mengatakan pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemauan masyarakat untuk hidup sehat secara mandiri agar pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud.

“Dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan diselenggarakan berdasarkan asas perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian serta adil dan merata dengan mengutamakan aspek manfaat utamanya bagi kelompok rentan seperti ibu, bayi, anak, usia lanjut dan keluarga tidak mampu,” katanya.

Anang menjelaskan saat ini program prioritas yang menjadi isu nasional adalah penurunan kematian ibu dan bayi, penanggulangan dan pencegahan stunting, TBS dan imunisasi. Kelima program prioritas itu sangat mendukung tercapainya pelayanan standar minimal (SPM) yang harus dipenuhi oleh pemerintah daerah.

“Masalah gizi yang banyak dialami kelompok ibu hamil yaitu Kurang Energi Kronis (KEK). Menurut data laporan gizi tahun 2017, jumlah persentase bumil KEK sebesar 8% dan pada tahun 2018 sebesar 11,6%. Terdapat kecederungan meningkat pada angka persentase ibu hamil KEK,” jelasnya.

Menurut Anang, kondisi kekurangan gizi pada ibu hamil ini akan berdampak terhadap pertumbuhan janin yang dikandung dan perkembangan intelektual anak yang dilahirkan. “Pada anak yang kekurangan gizi saat usia baduta akan tumbuh pendek dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak yang berpengaruh pada rendahnya tingkat kecerdasan, karena tumbuh kembang otak terjadi saat dalam kandungan sampai usia 2 tahun yang dikatakan 1000 hari pertama kehidupan,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal