Wednesday, November 20, 2019
Depan > Kesehatan > Dinkes Gelar Skrining TBC Pada Populasi Umum

Dinkes Gelar Skrining TBC Pada Populasi Umum

Reporter : Mujiono
KRAKSAAN – Dalam rangka eliminasi Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Probolinggo, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar skrining TBC pada populasi umum di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Rabu (2/10/2019).

Sasaran kegiatan ini adalah para karyawan/karyawati pada OPD (Organisasi Perangkat Daerah) di lingkungan Kantor Bupati Probolinggo. Kegiatan ini diselenggarakan dengan metode pemberian sosialisasi tentang penyakit TBC, skreening peserta tanda dan gejala penyakit TBC, pemeriksaan sample dahak TBC dengan mikroskopis/TCM/Mantoux Test atau Radiologis, penegakkan diagnosa pasti pada penderita terduga TBC serta tatalaksana/pengobatan penderita TBC.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Veronica mengungkapkan kegiatan ini bertujuan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular Tuberkulosis. Selain itu, untuk sosialisasi tentang Tuberkulosis, skrining tanda dan gejala TBC di lingkungan Kantor Bupati Probolinggo serta pemeriksaan dahak pada penderita terduga TBC.

“Kegiatan penjaringan kasus TBC di lingkungan Kantor Pemerintah Kabupaten Probolinggo ini dilakukan dalam rangka peningkatan penemuan kasus TBC di masyarakat Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Liliek Ekowati mengatakan Tuberkulosis (TBC) sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya penanggulangan TB telah dilaksanakan di banyak Negara sejak tahun 1995.

“Pengendalian TBC merupakan salah satu program prioritas nasional dalam bidang kesehatan sebagai prioritas pembangunan nasional 2015- 2019 dengan 12 indikator yang dimonitor langsung oleh Presiden. Dimana, Presiden memiliki komitmen politik yang kuat untuk eliminasi TBC pada tahun 2030 dan mendorong pendekatan multi-sektor,” katanya.

Menurut Liliek, jumlah kasus TBC di Indonesia menurut laporan WHO tahun 2015 diperkirakan ada 1 juta kasus TB baru pertahun (399 per 100.000 penduduk) dengan 100.000 kematian pertahun (41 per 100.000 penduduk). Diperkirakan 63.000 kasus TB dengan HIV positif (25 per 100.000 penduduk). Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate/CNR) dari semua kasus, dilaporkan sebanyak 129 per 100.000 penduduk.

“Jumlah seluruh kasus 324.539 kasus, diantaranya 314.965 adalah kasus baru. Secara nasional perkiraan prevalensi HIV diantara pasien TB diperkirakan sebesar 6,2%. Jumlah kasus TBC MDR diperkirakan sebanyak 6700 kasus yang berasal dari 1,9% kasus TB MDR dari kasus baru TB dan ada 12% kasus TB MDR dari TB dengan pengobatan ulang,” terangnya

Liliek menerangkan penemuan penderita TBC bertujuan untuk mendapatkan pasien TBC melalui serangkaian kegiatan mulai dari penjaringan terhadap terduga pasien TBC, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan, menentukan diagnosis, menentukan klasifikasi penyakit serta tipe penderita TBC. “Setelah diagnosis ditetapkan, dilanjutkan pengobatan yang adekuat sampai sembuh, sehingga tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain,” tegasnya.

Lebih lanjut Liliek menjelaskan penderita TBC di Kabupaten Probolinggo pada tahun 2018 ditemukan sebanyak 1.709 kasus dan pada tahun 2019 Trimester 2 ditemukan sebanyak 840 kasus. Angka kematian ibu akibat Tuberkulosis pada tahun 2018 sebanyak 1 kasus dan pada tahun 2019 sebanyak 1 kasus.

“Hal ini berasal dari banyak sektor, dari masyarakat umum, sekolah, lapas/rutan, ponpes dan asrama. Untuk itulah kegiatan ini dilaksanakan untuk mengetahui dan mendapatkan penderita yang tertular penyakit TBC. Penyakit TBC menyerang kepada siapa saja, tidak memandang usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan dan kaya atau miskin,” pungkasnya. (y0n)

cww trust seal