Tuesday, October 22, 2019
Depan > Kesehatan > Dinkes Gelar Monev Implementasi Program TBC

Dinkes Gelar Monev Implementasi Program TBC

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar monitoring dan evaluasi (monev) implementasi program TBC, Rabu (9/10/2019). Kegiatan ini diikuti oleh 36 orang pengelola program TBC puskesmas se-Kabupaten Probolinggo.

Kegiatan ini diselenggarakan dengan metode pemaparan materi tentang kebijakan TBC di Kabupaten Probolinggo, monitoring dan evaluasi implementasi program TBC di fasilitas pelayanan kesehatan dan validasi data TBC.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Probolinggo dr Dewi Veronica mengungkapkan kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh sebuah pelayanan penatalaksanaan kasus TBC yang baik sesuai dengan kebijakan program TBC disertai data yang valid .

“Selain itu, monitoring dan evaluasi implementasi program TBC di fasilitas pelayanan kesehatan, meningkatkan pengetahuan pengelola program TBC terkait kebijakan program TBC serta validasi data TBC,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Liliek Ekowati mengatakan Tuberkulosis (TB) saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia yang telah berkembang sejak tahun 1995. WHO melaporkan bahwa di tingkat global terdapat sekitar 9,6 juta kasus TBC baru dengan 3,2 juta kasus diantaranya adalah perempuan pada tahun 2015.

“Sebanyak 1,5 juta kematian terjadi karena TBC, dimana 480.000 kasus adalah perempuan. Dari kasus TBC tersebut ditemukan 1,1 juta (12%) HIV positif dengan kematian 320.000 orang (140.000 orang adalah perempuan) dan 480.000 TBC Resistan Obat (TB-RO) dengan kematian 190.000 orang. Dari 9,6 juta kasus TBC baru, diperkirakan 1 juta kasus TBC anak (dibawah usia 15 tahun) dan 140.000 kematian/tahun,” katanya.

Liliek menerangkan, di Kabupaten Probolinggo jumlah kasus TBC pada tahun 2018 sebanyak 1697 kasus, dimana terdapat 603 kasus diobati sampai sembuh, 553 kasus pengobatan lengkap dan 11 kasus gagal pengobatan. Pada tahun 2019 sampai Trimester 2 ditemukan sebanyak 840 kasus.

“Salah satu penyebab utama banyaknya kasus TBC di Kabupaten Probolinggo adalah belum memadainya tata laksana TBC sesuai dengan standart baik dalam penemuan kasus/diagnosis, paduan obat, pemantauan pengobatan, pencatatan dan pelaporan.

Oleh karena itu jelas Liliek, untuk meningkatkan kualitas pelayanan TBC serta mendapatkan data yang valid dan benar maka perlu diadakan monitoring dan evaluasi implementasi program TBC di fasilitas pelayanan kesehatan. “Serta, update informasi tentang kebijakan program TBC dan validasi data TBC di Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (wan)