Saturday, May 25, 2019
Depan > Kemasyarakatan > Desa Watupanjang dan Binor Masuk Nominasi Proklim Nasional

Desa Watupanjang dan Binor Masuk Nominasi Proklim Nasional

Reporter : Syamsul Akbar
PAITON – Desa Watupanjang Kecamatan Krucil dan Desa Binor Kecamatan Paiton masuk sebagai nominasi dalam lomba Program Kampung Iklim (Proklim) Tingkat Utama Nasional. Oleh karenanya, 2 (dua) desa yang dinilai peduli terhadap perubahan iklim ini didatangi oleh Tim Verifikasi Proklim Tingkat Nasional, Kamis dan Jumat (2-3/8/2018).

Tim verifikasi ini terdiri dari Yulianto Teguh Wibowo dari Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Asri Cahaya dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur dan Zaenal Ansori dari DLH Kabupaten Probolinggo.

Jum’at (3/8/2018), Tim Verifikasi Proklim Tingkat Nasional ini melakukan verifikasi di Desa Binor Kecamatan Paiton. Rombongan tim ini diterima oleh Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Rachmad Waluyo didampingi Sekretaris DLH Sumaidi dan Kasi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Sutopo, Camat Paiton M Yasin dan Kepala Desa Binor Hostifawati di Balai Desa Binor Kecamatan Paiton.

Camat Paiton M. Yasin berharap supaya Desa Binor bisa memberikan informasi baik apa yang sudah dilakukan selama ini dengan harapan apa yang diraih sesuai dengan harapan bersama. Mudah-mudahan apa yang kita lihat hari ini bisa memberikan gambaran bahwa kita siap menjadi juara, katanya singkat.

Sementara Kepala Desa Binor Hostifawati mengungkapkan bahwa selama ini pihaknya bersama segenap elemen tokoh agama dan tokoh masyarakat berupaya untuk merubah mindset masyarakat supaya tidak membuang sampah sembarangan dan BAB (Buang Air Besar) pada tempat yang sudah disediakan.

“Karena lingkungan kita harus tetap dijaga dengan baik. Sebab jika tidak dijaga maka lingkungan akan berdampak negatif. Dari situ kami tergerak untuk membangun desa ini,” ungkapnya.

Menurut Hostifawati, selama ini berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari transplantasi terumbung karang dan mengajak masyarakat untuk menggunakan jaring yang ramah lingkungan. Selain itu juga ada kubus berongga dan fish apartement untuk meningkatkan populasi ikan di laut.

“Kami juga terus upaya untuk menjaga kebersihan laut dengan melibatkan segenap nelayan. Kebersihan laut sudah dikapling sesuai perahu yang ada. Sehingga nelayan dengan sukarela membersihkan sampah yang ada sesuai kaplingnya masing-masing, ” terangnya.

Hostifawati menambahkan bahwa pihaknya juga membuat program bank sampah. Sebelum sampah dibuang, maka masyarakat melakukan pemilahan terlebih dahulu. Sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan dipilah dan dijual ke bank sampah.

“Ketika laut bersih maka saat ini sudah banyak tumbuh bermacam-macam pohon di bibir pantai. Kami juga gencar melakukan pembuatan resapan biopori sehingga airnya tidak terlalu asin. Semua ini bisa terwujud berkat keterlibatan dari pihak CSR perusahaan yang peduli terhadap lingkungan,” tegasnya.

Sedangkan Yulianto Teguh Wibowo dari KLHK RI menyampaikan di Jawa Timur terdapat sekitar 21 lokasi yang ikut serta dalam verifikasi Proklim nasional. Sementara secara nasional dilakukan di 208 lokasi. Fokusnya adalah desa yang merupakan penggiat lingkungan yang peduli terhadap perubahan iklim.

“Proklim adalah program nasional untuk mendorong partisipasi aktif dan kontribusi peran serta masyarakat di tingkat utama dalan aksi pengendalian perubahan iklim. Disini kami mengapresiasi kondisi aktif dari masyarakat,” ujarnya.

Menurut Bowo, panggilan akrab dari Yulianto Teguh Wibowo, selain silaturahim kedatangannya di Desa Binor Kecamatan Paiton adalah untuk melihat dari dekat kondisi di lapangan dan sejauh mana peran serta masyarakat.

“Lomba ini merupakan ajang untuk saling memotivasi. Oleh karenanya anggaplah sebagai share pengalaman. Kalau ada kendala diselesaikan secara detail dan bersama,” jelasnya.

Bowo menerangkan ada beberapa hal yang ditugaskan KLHK kepada tim verifikasi Proklim. Salah satunya mengidentifikasi adaptasi dan masalah lingkungan serta ingin melihat dari dekat potensi laut dengan berbagai upaya untuk menjaga kebersihannya sebagai kepedulian terhadap perubahan iklim. Isu mengendalikan perubahan iklim merupakan tanggung jawab kita bersama.

“Ternyata sudah banyak adaptasi dan mitigasi yang sudah dilakukan di Desa binor. Kunci utama untuk merubah lingkungan adalah masyarakat itu sendiri. Kalau tidak ada perubahan pola pikir maka tidak akan menjadi nominasi utama nasional, ” terangnya.

Lebih lanjut Bowo meminta agar Proklim jangan dijadikan even biasa. Tetapi kalau bisa menghimbau sebagai budaya atau kebiasaan yang baik tentang kepedulian terhadap lingkungn. “Marilah membiasakan diri dengan kegiatan baik untuk mendukung perubahan iklim,” pungkasnya.

Terpisah Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Rachmad Waluyo menyambut baik verifikasi Proklim tingkat nasional di Desa Binor Kecamatan Paiton ini. Menurutnya, upaya ini tentunya akan dapat merangsang masyarakat agar supaya melakukan upaya penyelamatan lingkungan dari segala sektor baik penyelamatan dari bahaya banjar, erosi laut maupun longsor.

“Saya memberikan apresiasi terhadap upaya yang dilakukan selama ini oleh Desa Binor Kecamatan Paiton. Memang demikian pastinya masih saja ada kekurangan. Tinggal bagaimana kita memoles agar bisa dijadikan acuan oleh masyarakat. Semoga apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Binor ini mampu memberikan dampak yang positif sehingga bisa terpilih sebagai yang terbaik dalam Proklim Tingkat Utama Nasional,” katanya.

Selanjutnya tim verifikasi ini melakukan tes wawancara dengan sejumlah masyarakat terkait hal-hal yang sudah dilakukan dalam rangka mendukung peran sertanya terhadap perubahan iklim. Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan survey ke lapangan. (wan)