Friday, December 13, 2019
Depan > Kesehatan > Canangkan Gerakan PSN Serentak, Kukuhkan Kader Jumantik

Canangkan Gerakan PSN Serentak, Kukuhkan Kader Jumantik

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengukuhkan kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik). Pengukuhan ini dilakukan sebagai upaya pencanangan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serentak di Kabupaten Probolinggo.

Pengukuhan kader Jumantik dan pencanangan gerakan PSN Serentak ini dilakukan di sela-sela Gebyar Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) Kraksaan yang digelar oleh Puskesmas Kraksaan bersama lintas sektor di wilayah Kecamatan Kraksaan, Sabtu (30/11/2019) pagi di sisi timur Alun-alun Kota Kraksaan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt) Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Probolinggo Moh. Happy, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr. Liliek Ekowati, Camat Kraksaan Muhamad Ridwan bersama jajaran Forkopimka Kraksaan dan lintas sektor di Kecamatan Kraksaan serta Kepala Puskesmas Kraksaan Nuryakub, para Kepala Desa/Lurah serta para bidan dan kader posyandu yang ada di Kecamatan Kraksaan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dr. Liliek Ekowati mengungkapkan pengukuhan kader jumantik diperlukan karena kasus DBD di Kabupaten Probolinggo menunjukkan trend naik dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir.

“Pada tahun 2018, terjadi 84 kasus dan 2019 sebanyak 415 kasus dengan 5 kematian. Sehingga perlu dibentuk kader jumantik pada saat ini yang sudah memasuki musim penghujan. Mudah-mudahan dapat memantau jentik di setiap rumah di Kecamatan Kraksaan sehingga bisa mengendalikan vektor penyakit DBD,” ungkapnya.

Sementara Plt Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Probolinggo Moh. Happy mengatakan salah satu gerakan meningkatkan kesadaran masyarakat hidup sehat yakni gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sebelum memasuki musim penghujan pada akhir tahun 2019. Sampai saat ini penyakit DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi.

“Prioritas utama saat ini adalah upaya pencegahan melalui pemberdayaan dan peran serta masyarakat yaitu gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), penatalaksanaan penderita DBD dengan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu, memperkuat surveilans epidemiologi dan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB) DBD serta memperkuat kapasitas SDM,” katanya.

Happy menerangkan jumlah kasus DBD yang dilaporkan pada tahun 2018 dari 80 kasus terdapat 4 kematian. Pada tahun 2019 ini sejak Januari sampai awal Nopember telah terjadi 415 kasus dan terdapat 5 kematian. Dalam kurun waktu 1 tahun telah terjadi peningkatan kasus DBD yang begitu signifikan. Maka untuk mengantisipasi melonjaknya kasus DBD di tahun 2020 ini, perlu mengambil langkah-langkah sebagai kewaspadaan dini terhadap kejadian luar biasa DBD.

“Upaya yang dapat kita lakukan adalah melaksanakan PSN-3M Plus yang meliputi kegiatan menguras, menutup tempat penampungan air dan mendaur-ulang/memanfaatkan kembali barang-barang bekas serta ditambah (plus) seperti menaburkan larvasida pembasmi jentik, memelihara ikan pemakan jentik, mengganti air dalam pot/vas bunga dan lain-lain,” terangnya.

Lebih lanjut Happy menambahkan gerakan PSN dengan metode 3M Plus sangat memerlukan partisipasi seluruh lapisan masyarakat, karena tempat-tempat yang berpotensi untuk menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk penular DBD (Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus) yang biasanya banyak ditemukan di lingkungan pemukiman masyarakat baik di dalam maupun disekitar rumah.

“Oleh karena itu peran keluarga perlu menjadi juru pemantau jentik (Jumantik) agar melakukan pemantauan, pemeriksaan dan pemberantasan jentik di rumah masing-masing,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal