Wednesday, August 21, 2019
Depan > Pendidikan > Bupati Tantri Terima Tim JMV Monev Program INOVASI

Bupati Tantri Terima Tim JMV Monev Program INOVASI

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE menerima sedikitnya 16 orang Tim Joint Meeting Visit (JMV) yang melakukan monitoring dan evaluasi (monev) Program Inovasi Untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di Peringgitan Rumah Dinas Bupati Probolinggo, Kamis (8/8/2019).

Tim JMV monev Program INOVASI di Kabupaten Probolinggo ini berasal dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Agama (Kemenag), Pemerintah Provinsi Jawa Timur, The Australian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Kedutaan Besar Australia dan Program INOVASI.

Turut menerima kedatangan Tim JMV Monev Program INOVASI ini Kepala Dinas Pendidikan Dewi Korina, Kepala Bappeda Tutug Edi Utomo, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Yulius Christian, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dr. Endang Astuti serta Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Syamsul Huda serta perwakilan dari Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo.

Direktor Program INOVASI Mark Heyward menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama selama ini dan dalam waktu hanya setahun pencapaiannya sangat menggembirakan sekali. “Saya senang juga kembali ke Kabupaten Probolinggo. Disini daerahnya hijau dan orangnya ramah-ramah. Program multigrade dan literasi ini cukup penting diterapkan di Kabupaten Probolinggo,” katanya.

Mark Heyward mengaku sangat senang bisa bermitra di Kabupaten Probolinggo. Sebab komitmennya bukan hanya kata-kata tetapi perkembangan kongkritnya bukan hanya level sekolah namun juga kebijakan penganggaran bagus dan bisa menjadi contoh bagi kabupate/kota lain.

“Tentunya nanti bisa juga menjadi wisata pendidikan disini. Karena modelnya INOVASI, maka kita akan menjadikan sebagai pilot project sehingga pembelajarannya bisa lebih baik lagi. Harapannya ke depan bisa disebarkan ke daerah lain dan menjadi dasar kebijakan nasional,” tegasnya.

Lebih lanjut Mark Heyward menegaskan bahwa model-model yang berhasil bisa menjadi contoh bagi daerah lain. Bukan hanya baca tulis tetapi menjadi pondasi bagi pendididkan berikutnya. Sebab tanpa baca tulis dan tanpa pikiran kritis nantinya tidak akan menjadi bangsa yang mampu mengembangkan ekonomi ke depannya.

“Saya kira dasarnya literasi dan multigrade menjadi solusi sekolah kecil agar kelasnya lebih hidup dan efisien pengadaan guru. Ini bisa digunakan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sekali lagi, literasi dan multigrade kunci untuk mengembangkan pendidikan ekonomi di daerah,” tegasnya.

Sementara Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE mengucapkan terima kasih atas dukungan dari pemerintah pusat dan program Inovasi Untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) yang terus berupaya memajukan pendidikan di Kabupaten Probolinggo. Banyak sekali berbagai kemajuan yang cukup pesat dengan adanya program INOVASI di bidang pembangunan pendidikan di Kabupaten Probolinggo.

“Semangat perubahan pola pikir baik itu guru, siswa dan orang tua siswa inilah yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Hal ini tentunya adalah hasil kerja keras INOVASI dan dukungan dari pemerintah pusat sehingga Kabupaten Probolinggo selalu selangkah di depan dibandingkan dengan daerah lain,” katanya.

Menurut Bupati Tantri, keberhasilan inilah yang menjadi pemicu untuk lebih semangat ke depan untuk bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Probolinggo melalui program INOVASI baik kelas rangkap (multigrade) maupun literasi.

“Terima kasih kepada tim pencari fakta yang telah menyampaikan rekomendasi. Insya Allah saya selaku Bupati akan mengawal seluruh rekomendasi itu dengan memberikan semangat kepada seluruh jajaran. Tidak hanya di lingkup Dinas Pendidikan tetapi nanti juga akan berdiskusi dengan Kepala Kemenag berkaitan dengan replikasi multigrade di madrasah di wilayah Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Bupati Tantri mengharapkan dukungan kepada pemerintah pusat dan INOVASI untuk tidak lelah memacu dan memberikan dukungan serta arahan sehingga apa yang diharapkan bersama, baik multigrade maupun literasi betul-betul mampu menjadi pemicu sesuai dengan visi misi Presiden Republik Indonesia hari ini dan 5 tahun ke depan bagaimana meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia lebih unggul dibandingkan sebelumnya.

“Saya yakin dan percaya tentunya multigrade menjadi salah satu pemecahan masalah terkait dengan keterbatasan guru. Sekali lagi terima kasih atas dukungan semuanya, INOVASI dan seluruh jajaran yang ada sehingga Kabupaten Probolinggo lebih semangat menjadi pilot project. Kita sudah berkomitmen melalui semangat hari ini akan terus kita replikasi di sekolah-sekolah lain yang memang kondisinya sesuai, apakah itu multigrade maupun literasi termasuk juga ingin saya tularkan pada kelas-kelas sistem kejar paket di Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan paparan terhasil hasil pemantauan dan evaluasi keseluruhan implementasi Program INOVASI di Kabupaten Probolinggo oleh Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud RI Dr Praptono.

Menurut Praptono, beberapa temuan di Kabupaten Probolinggo terjadi perubahan pada proses pembelajaran. Diantaranya, dari pasif ke aktif dan interaktif dan proses pembelajaran berpusat pada siswa. Adanya penggunaan berbagai media belajar dan pembelajaran kelas rangkap. “Selain itu dalam kelas literasi terdapat penataan tempat duduk secara berkelompok. Disamping adanya peningkatan peran orang tua dan masyarakat,” ujarnya.

Tantangannya, struktur gugus yang ada saat ini belum berdasarkan pendekatan zonasi dan melembagakan praktek baik yang ada sekarang ini. Memastikan dan menjamin kualitas implementasi Perbup Nomor 62 tahun 2018 tentang Gerakan Literasi Kabupaten Probolinggo dan Perbup Nomor 18 tahun 2019 tentang Pengelolaan Pembelajaran Kelas Rangkap (Multigrade Teaching) Jenjang Sekolah Dasar. Selain itu distribusi guru belum merata dan ketimpangan jumlah guru pensiun dan pengangkatan guru baru. Alokasi BOS berdasarkan jumlah siswa bagi sekolah kecil (kurang dari 60 siswa) dan penerapan multigrade di konteks berbeda.

“Kesimpulannya, kegiatan INOVASI sudah sejalan dengan kebijakan peningkatan kapasitas guru (Program PKP). Daerah program INOVASI adalah salah satu bentuk sinergi Kemendikbud dengan mitra yang memiliki potensi keberhasilan lebih tinggi karena sudah diujicoba, tersedianya SDM dan adanya sistem pendampingan. Keterlibatan berbagai pihak untuk peningkatan mutu pendidikan (Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, masyarakat, orang tua siswa, CSR dan LSM),” pungkasnya.

Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari monitoring bersama yang dilakukan pada 2 (dua) kecamatan di Kabupaten Probolinggo, Rabu (7/8/2019). Yakni, Kecamatan Paiton yang telah melaksanakan rintisan program literasi dan Kecamatan Sukapura yang telah melaksanakan rintisan program kelas rangkap (multigrade).

Di Kecamatan Sukapura, tim mengunjungi SDN Sukapura III untuk melihat implementasi program kelas rangkap. Kemudian dilanjutkan ke SDN Ngadisari II untuk melihat kegiatan KKG (Kelompok Kerja Guru) kelas rangkap di Kecamatan Sukapura. Sementara di Kecamatan Paiton, tim mengunjungi MI Raudlatul Munadhirin, SDN Alastengah dan SDN Sukodadi I untuk melihat secara langsung implementasi program literasi dan kegiatan KKG di sekolah tersebut. (wan)