Monday, September 16, 2019
Depan > Kesehatan > Bappeda Sosialisasikan Program Pengembangan Sistem Laduni 1000 HPK

Bappeda Sosialisasikan Program Pengembangan Sistem Laduni 1000 HPK

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Probolinggo, Rabu (10/7/2019) memberikan sosialisasi program pengembangan sistem Layanan Terpadu Pranikah (Laduni) 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo.

Kegiatan ini diikuti oleh 300 orang peserta terdiri dari unsur Universitas Airlangga Surabaya Fakultas Kesehatan Masyarakat, Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan KB, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pendidikan, Bagian Administrasi Pemerintahan, Bagian Administrasi Kesra, Kemenag, petugas puskesmas dan KUA, petugas gizi puskesmas, petugas kesehatan reproduksi calon pengantin serta tokoh agama dari 33 desa di Kabupaten Probolinggo.

Kepala Bappeda Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo mengungkapkan penanganan dan pencegahan stunting itu harus ditangani bersama secara konvergensi (menyeluruh) baik bersifat kegiatan maupun sasarannya.

“Masalah stunting itu adalah masalah kita bersama yang sifatnya kompleks. Sehingga masalah stunting harus ditangani bersama oleh semua lintas sektor di Kabupaten Probolinggo. Setiap peningkatan daerah harus sudah dibedakan peran dari masing-masing untuk penanggulangan dan pencegahan stunting,” ungkapnya.

Sementara Kepala Bidang Sosial Budaya dan Pemerintahan Bappeda Kabupaten Probolinggo Handaka Murwanta mengatakan kegiatan ini dilatarbelakangi masalah gizi dan kesehatan yang masih dihadapi diantaranya anemia pada remaja dan ibu hamil. Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) serta kematian ibu melahirkan.

“Gizi prakonsepsi mendukung program percepatan perbaikan gizi melalui gerakan penyelamatan seribu hari pertama kehidupan sebagai upaya preventif dalam rangka menurunkan masalah anemia, komplikasi kehamilan, BBLR dan kematian ibu melahirkan,” katanya.

Menurut Handaka, layanan terpadu pranikah adalah pelayanan yang bersifat menyeluruh kepada calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan, yang meliputi pelayanan administratif, pelayanan kesehatan dan pelayanan konseling.

“Komponen yang terlibat diantaranya aparat desa, petugas KUA, petugas puskesmas, bidan desa, PLKB dan PKK. Sasaran programnya semua pasangan calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan,” jelasnya.

Handaka menerangkan program Laduni ini bertujuan untuk melaksanakan pelayanan pra nikah yang lebih komprehensif guna meningkatkan mutu layanan dan sistem pendataan pernikahan serta meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan pada calon pengantin wanita dalam rangka memperbaiki derajat kesehatan ibu dan anak.

“Mekanisme pelayanan program Laduni ini pertama-tama calon pengantin mendatangi kantor desa/kelurahan. Setelah mendapatkan rekomendasi dari desa/kelurahan, selanjutnya calon pengantin mendatangi puskesmas untuk mendapatkan beberapa pemeriksaan kesehatan. Jika semua dinyatakan sudah lengkap dan memenuhi kriteria, maka calon pengantin mendatangi kantor KUA atau balai nikah. Kami juga mengharapkan keterlibatan para tokoh agama agar program ini bisa berjalan dengan maksimal,” tegasnya.

Lebih lanjut Handaka menerangkan program Laduni ini dilakukan dalam rangka mendukung kegiatan penanggulangan dan pencegahan stunting di Kabupaten Probolinggo. “Kami persiapkan sedini mungkin sebelum 1000 hari pertama kehidupan. Kami akan mengadakan konseling, pendampingan dan pemantauan pada calon pengantin. Setiap calon pengantin yang akan menikah akan kita data semuanya,” terangnya.

Handaka menambahkan penanganan stunting di bidang kesehatan hanya berdampak pencegahan sekitar 30%. Sementara sisanya 70% itu harus ditangani dengan istilah gizi sensitif. “Misalnya sanitasi yang bagus, ketersediaan sumber pangan yang bergizi, pola asuh yang baik dan ketersediaan dunia pendidikan yang memadai,” tambahnya.

Melalui program Laduni ini Handaka mengharapkan semua calon pengantin sudah siap khususnya bidang kesehatan untuk berumah tangga dan melahirkan keturunan. Karena nantinya calon pengantin akan diberi bantuan obat mikro nutrient (nutrisi mikro) untuk meningkatkan kesehatan ibu di bidang gizi.

“Setiap calon pengantin diberi satu botol yang diminum dua bulan sebelum hamil hingga empat bulan setelah hamil. Dengan demikian, anak yang dilahirkan minimal sudah menjadi anak sehat, berat badannya tidak kurang dan kesehatannya terjaga,” pungkasnya. (wan)