Tuesday, August 11, 2020
Depan > Kemasyarakatan > Bangun Ekosistem Koperasi Sebagai Sentra Bisnis UMKM

Bangun Ekosistem Koperasi Sebagai Sentra Bisnis UMKM

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Untuk menindaklanjuti himbauan Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE agar pelaku usaha batik membentuk koperasi, Adikarya Pengusaha Batik Bordir dan Aksesoris (APBBA) Kabupaten Probolinggo melakukan dialog dengan Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo Anung Widiarto, Senin (24/2/2020).

Dialog yang dilaksanakan di Kantor Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo tersebut dihadiri oleh Ketua APBBA Kabupaten Probolinggo Mahrus Ali bersama segenap anggota APBBA serta jajaran Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo seperti Kepala Bidang Kelembagaan Koperasi Siti Khoiriyah dan Kasi Organisasi dan Tata Laksana Mochamad Iqbal Mahardiyani.

Dari dialog tersebut terungkap bahwasanya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro telah menyusun proses bisnis (probis) bertemakan “Membangun Ekosistem Koperasi Sebagai Sentra Bisnis UMKM Kabupaten Probolinggo”.

“Probis ini disusun untuk meningkatkan kemandirian dan daya saing UMKM agar dapat sejajar dengan korporasi besar. UMKM harus memiliki kelembagaan ekonomi yang kuat dalam wadah ekosistem koperasi dan sebagai langkah strategis percepatan program UMKM naik kelas,” kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Probolinggo Anung Widiarto.

Berdasarkan histori koperasi Indonesia jelas Anung, paradigma koperasi adalah ekonomi bersatu. Namun tentunya seiring perkembangan zaman, paradigma tersebut juga harus berkembang di era revolusi industri 4.0 yang notabene adalah ekonomi kompetitif. Kolaborasi semangat ekonomi bersatu dan ekonomi kompetitif akan diterapkan.

“Bersatu, membangun kekuatan dan kemandirian secara bersama-sama untuk meningkatkan produktivitas, kualitas dan daya saing di era ekonomi kompetitif. Disinilah koperasi berperan menjadi backbone (tulang punggung) bagi UMKM Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.

Menurut Anung, koperasi menjadi lembaga ekonomi yang paling mungkin mengkonsolidasikan para pelaku UMKM menjadi kuat. Mengkonsolidasikan pembiayaan dan melakukan kemitraan dengan usaha besar, bahkan mengakses pasar dalam porsi lebih berkeadilan.

“Kendala pengadaan bahan baku dan permodalan yang dihadapi oleh pengrajin batik adalah kendala umum yang banyak dihadapi oleh pelaku UMKM. Dengan metode bisnis koperasi, kendala-kendala tersebut akan dapat diminimalisir melalui koperasi,” terangnya.

Anung menerangkan ekosistem koperasi sebagai sentra bisnis dapat membangun kemitraan bisnis dari hulu ke hilir, menjaga stabilitas harga, meningkatkan produktifitas, membangun pasar dan meningkatkan kualitas produk UMKM. “Pelaku UMKM bisa fokus pada proses produksi, kualitas dan diversifikasi produk untuk dapat bersaing. Tidak lagi memikirkan bahan baku, pasar dan manajemen korporasi, karena akan ditangani oleh koperasi,” tegasnya.

Melalui model bisnis kemitraan tersebut tambah Anung, akan terbangun ekosistem koperasi dengan sentra bisnis bagi pengrajin batik dan UMKM secara umum menjadi lebih baik. Hal tersebut akan mendorong kesejahteraan pelaku UMKM dan menjaga kualitas produk UMKM. “Percepatan agenda UMKM naik kelas harus sama-sama kita lakukan dengan berbasis koperasi,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal