Tuesday, October 27, 2020
Depan > Kemasyarakatan > 33 Trainer Ikuti Pelatihan Desain Bangunan Tanah dan Ecobrick

33 Trainer Ikuti Pelatihan Desain Bangunan Tanah dan Ecobrick

Reporter : Mujiono
GENDING
– Untuk menumbuhkan kecintaan terhadap sampah plastik di lingkungan dimulai sejak dini, PT POMI-Paiton Energy dan Sanggar Hijau, Global Ecobrick Alliance dan jaringan GEA trainer Indonesia menggelar Training of Trainer (ToT) di Probolinggo, Rabu hingga Minggu (24-28/4/2019) di Obyek Wisata Bentar Desa curahsawo Kecamatan Gending.

Dalam kegiatan ini, ecobrick Internasional merancang desain ToT bangunan tanah dan ecobricks di Probolinggo dengan inspirasi dari bangunan geometrik Candi Jabung. Trainer pimpin ratusan ecobrickers membangun ruang hijau Taman Mandala.

Terdapat 33 trainer ecobrick di tanah air berlatih seputar bangunan tanah dan ecobrick di Pantai Bentar ini. Dimana tujuannya untuk memantapkan proses pemanfaatan ecobrick. Selama 5 (lima) hari ToT para trainer ecobrick dilatih oleh Russell Maier dan Ani Himawati dari Global Ecobrick Alliance (GEA).

Untuk kegiatan dihari keempat dan kelima ToT di Probolinggo diselenggarakan oleh Sanggar Hijau, Global Ecobrick Alliance dan jaringan GEA Trainer Indonesia didukung PT. POMI-Paiton Energy berkreasi membuat cob atau campuran antara tanah, pasir dan jerami untuk menata ecobrick sebagai balok bangunan yang bisa dipakai berulang untuk membangun Taman Mandala di Pantai Bentar.

Para trainer menyambut kedatangan relawan yang merupakan para pegiat pembuat ecobrick atau ecobrickers yang berjumlah sekitar 200 orang. Para relawan berasal dari 20 sekolah se-Kabupaten Probolinggo, jaringan bank sampah kabupaten, pondok pesantren dari tingkat SD sampai SMA dan 10 relawan dari luar Kota Probolinggo yang bersemangat ingin ikut belajar teknik bangunan tanah dan ecobrick.

Selama tiga hari pertama para trainer belajar presentasi teori ecobrick dan bangunan tanah, bagaimana bangunan tanah yang merupakan upaya lanjutan mengikat plastik dan CO2 dengan aplikasi yang bermanfaat dan ramah lingkungan serta belajar secara teknik bangunan tanah dan kolaborasi mandala bersama relawan seluruh trainer yang akan mempraktekkan semua pelajaran.

Kolaborasi mandala berguna sekali bagaimana trainer bergerak di komunitas atau kotanya. Dengan prinsip dan arah yang jelas, metode mandala mampu menggerakkan orang banyak. Bersama relawan di hari keempat dan kelima trainer mempraktekkan prinsip mandala serta menggerakkan ratusan relawan untuk membangun bagaimana bekerja bergerak dengan banyak orang.

Dalam kesempatan ini para peserta training dibagi dalam delapan kelompok. Setiap kelompok memimpin seluruh relawan yang juga dibagi dalam delapan kelompok. Masing-masing kelompok menyelesaikan bangunan di sisi-sisi luar desain taman mandala yang memang berjumlah delapan. Trainer belajar memimpin kolaborasi, diawali dengan praktek mempresentasikan teori mengenai ecobrick dan bangunan tanah. Serta dilanjutkan dengan membuat cob, meletakkan dan menata ecobrick sampai pada tahap finishing.

Seluruh area konstruksi di Pantai Bentar dipenuhi dengan ratusan pembelajar, bergerak dengan irama gotong royong dan riang gembira dengan warna-warni per kelompok. Terlihat per group orang mengerjakan tahapan kerja. Orang menginjak-injak tanah liat dan pasir untuk membuat adonan cob di hamparan terpal, membuat bola-bola cob, menata ecobrick, hilir mudik dan bergembira menyelesaikan bangunan.

Hari kelima, masih dengan seluruh ecobrickers, trainer melakukan finishing atau penyelesaian akhir bangunan hijau mandala. Di hari terakhir ToT, segenap OPD (Organisasi Perangkat Daerah) di lingkungan Pemkab Probolinggo dan berbagai stakeholders di Kabupaten Probolinggo melihat perkembangan sekaligus menyaksikan proses akhir training dan bangunan taman.

Ani Himawati dari Global Ecobrick Alliance (GEA) mengharapkan semoga kehadiran pemerintah dan berbagai pihak menyemangati para pegiat hebat ecobrick dan pembelajar bangunan hijau akan turut menjaga bangunan yang ada sebagai aset berharga milik bersama.

“Kami berharap revolusi bangunan hijau melalui eocbrick akan berkembang di area Probolinggo dan Indonesia. Bahkan dari Indonesia akan menginspirasi dunia dengan jaringan Global Ecobrick Alliance,” ujarnya.

Russell pelatih ecobrick menjelaskan membangun dan melaksanakan program ini merupakan kolaborasi murni selama hampir 3 tahun setelah ToT pertama kali di Jogjakarta. “Saat ini pelaksanaan ToT berupa pelatihan untuk pelatih tingkat lanjut. Yakni tidak menjadi trainer ecobrik saja, tetapi dengan aplikasi bangunan hijau pertama di Indonesia dan sudah di dunia dengan metode 5 (lima) hari kurikulum,” katanya.

Negara Filipina sudah menunggu dari Indonesia di bulan Juli untuk belajar tentang ecobrick. Selama 50 tahun bahan plastik menjadi sebuah permasalahan besar di semua pihak khususnya di negara Indonesia. “Kita telah menemukan cara yang lebih tinggi levelnya, plastik bukan hanya dibuat untuk ecobrick saja melainkan dimanfaatkan ditaruh pada sebuah bangunan dengan cara yang aman,” pungkasnya. (y0n)

cww trust seal