Thursday, July 29, 2021
Depan > Pendidikan > SKB Kraksaan Gelar Diklat Berjenjang Tingkat Dasar Pendidik PAUD

SKB Kraksaan Gelar Diklat Berjenjang Tingkat Dasar Pendidik PAUD

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kraksaan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo menggelar pendidikan dan pelatihan (diklat) guru pendamping muda (diklat berjenjang tingkat dasar) pendidik PAUD Kabupaten Probolinggo, Senin sampai Jum’at (23-27/9/2019).

Kegiatan yang didukung oleh Direktorat PGTK PAUDNI Ditjen GTK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI ini diikuti oleh 40 orang peserta yang berasal dari lembaga PAUD yang ada di wilayah timur Kabupaten Probolinggo.

Sumber belajar berasal dari unsur birokrat, akademisi dan praktisi di bidang PAUD yang berasal dari Kabupaten Probolinggo (lokal). Jumlah sumber belajar sebanyak 16 orang, meliputi 1 orang pengambil kebijakan GTK PAUD dan Dikmas di Dispendik Kabupaten Probolinggo, 1 orang dari Dinas Kesehatan dan 14 orang praktisi (pendidiki PAUD).

Materi yang diberikan meliputi kebijakan pembinaan GTK-PAUD, konsep dasar PAUD, perkembangan AUD, perkembangan AUD, pengenalan ABK, cara belajar AUD, perencanaan pembelajaran, penilaian perkembangan anak, kesehatan dan gizi AUD, komunikasi dalam pengasuhan, etika dan karakter pendidik PAUD, stunting dan praktek pembelajaran dengan teman sejawat.

Kepala SKB Kraksaan Herry Eko Purnomo mengungkapkan kegiatan ini diharapkan pendidik PAUD mampu menguasai konsep dan terampil menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran di lembaga PAUD.

“Untuk kompetensi dasar, pendidik PAUD memahami dan menjelaskan konsep dan landasan hukum kebijakan PAUD, memahami dan menjelaskan konsep dasar AUD, memahami dan menjelaskan konsep perkembangan AUD, memahami dan menjelaskan konsep pengenalan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), memahami dan menjelaskan konsep pendekatan pembelajaran dan konsep bermain,” ungkapnya.

Menurut Eko, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM). Usia dini merupakan usia dimana yang tepat untuk diberikan berbagai konsep kehidupan sebagai bekal di kehidupan selanjutnya. Anak mempunyai lebih kurang 100 milyar sel otak sejak lahir.

“Sel-sel otak tersebut membutuhkan stimulasi yang tepat agar dapat saling terhubung menjadi jalinan yang padat sebagai tanda seorang anak yang cerdas. Stimulasi yang diberikan dan pola asuh orang tua serta pendidik merupakan salah satu penentu bagi pengoptimalan penggunaan otak ini,” jelasnya.

Eko menerangkan pendidik PAUD adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran dan menilai hasil pembelajaran serta melakukan pembimbingan, pengasuhan, perawatan dan perlindungan anak didik. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, pendidik PAUD harus memenuhi kualifikasi dan kompetensi yang dipersyaratkan sesuai dengan Permendikbud Nomor 137 tahun 2014 Tentang Standart Nasional PAUD.

“Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pendidik PAUD terutama pada jalur pendidikan non formal memiliki variasi beragam secara kualifikasi maupun kompetensi. Masih ditemukan pendidik yang berpendidikan dasar (SD atau SMP) ataupun SMA/SMK dan sedikit sekali yang berpendidikan diploma dan sarjana meskipun tidak relevan/sesuai dengan bidang pendidikan anak usia dini,” tegasnya.

Sementara Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Dewi Korina mengatakan diklat berjenjang tingkat dasar ini diselenggarakan dengan 40 peserta angkatan pertama. Kegiatan ini merupakan satu dari empat angkatan. Yakni, 2 angkatan dari APBN dan 2 angkatan dari APBD yang waktunya 5 (lima) hari atau 210 jam.

“Diklat berjenjang tingkat dasar yang sekarang kita lakukan ini lebih istimewa karena didalamnya ada muatan pendidikan tentang stunting. Dimana 20 instruktur yang dilatih di pusat dipilih terkait dengan kegiatan ini. Harapannya mereka kembali untuk melatih guru PAUD se-Kabupaten Probolinggo sekurang-kurangnya 2 guru PAUD setiap desa. Tetapi tahun ini kita baru bisa menyelenggarakan 160 orang untuk 4 (empat) angkatan,” katanya.

Menurut Dewi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo diharapkan oleh pemerintah pusat agar bisa bekerja sama dengan pemerintah desa dengan dibiayai oleh Dana Desa (DD) untuk bersama-sama menyelenggarakan pendidikan kepada guru PAUD. Harapannya guru-guru PAUD menjadi agen perubahan dan ujung tombak di dalam pengurangan angka stunting di desa-desa di Kabupaten Probolinggo.

“Jadi, disamping mengedukasi murid dan wali murid, mereka juga bisa menjadi pioner dan narasumber di desanya, sehingga nanti setelah pelatihan ini kami merencanakan akan memberikan surat pengantar kepada Ketua Tim Penggerak PKK Desa bahwa Bunda-bunda PAUD ini sudah di diklat selama 5 hari dan paham tentang stunting,” jelasnya.

Dewi menerangkan kalau ada kegiatan terkait posyandu dan pokja (kelompok kerja) II, guru-guru PAUD bisa digandeng sehingga harapannya stunting cepat menurun. Kemudian peserta didik paham tentang gizi dan sebagainya. “Dengan demikian, SDM bisa meningkat dan cita-cita peningkatan daya saing di Kabupaten Probolinggo secara makro bisa tercapai,” pungkasnya.

Kegiatan serupa akan dilaksanakan untuk angkatan II (wilayah barat) pada 30 September hingga 4 Oktober 2019 di Rumah Makan Dapur Padi Kecamatan Dringu. Sama dengan di SKB Kraksaan, kegiatan ini juga akan diikuti oleh 40 orang peserta dari pendidik PAUD di wilayah barat Kabupaten Probolinggo.

Selain oleh SKB Kraksaan, kegiatan diklat berjenjang tingkat dasar pendidik PAUD Kabupaten Probolinggo ini juga akan dilaksanakan oleh Dispendik Kabupaten Probolinggo sebanyak 2 (dua) angkatan dengan total peserta 80 orang pendidik PAUD di Kabupaten Probolinggo. (wan)

cww trust seal