Thursday, October 28, 2021
Depan > Kesehatan > Sensitivitas Antigen Rapid Test Diatas 97 Persen

Sensitivitas Antigen Rapid Test Diatas 97 Persen

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Juru Bicara Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo dr. Dewi Vironica mengatakan sensitivitas antigen rapid test (tes cepat antigen) untuk SARS-CoV-2 berdasarkan berbagai merk antigen yang diteliti menunjukkan variasi dengan rentang 0-94%, namun spesifisitasnya tinggi (>97%).

“Panduan interim WHO tanggal 11 September 2020 merekomendasikan penggunaan antigen rapid test (tes cepat antigen) bila nucleic acid amplification tests (NAAT) akses sulit atau tidak tersedia atau waktu ketersediaan hasil lama, dengan syarat tes cepat antigen SARS- COV-2 mempunyai sensitivitas 280% dan spesifisitas 297%,” katanya.

Untuk mendukung investigasi pada kelompok orang yang berisiko dan terisolasi yang terkonfirmasi positif di daerah wabah (misalnya di kelompok tertutup atau semi tertutup seperti sekolah, panti wreda, kapal pesiar, lembaga permasyarakatan, tempat kerja, asrama dan lain-lain).

Untuk memantau tren insidensi penyakit di masyarakat, terutama pada pekerja esensial dan tenaga kesehatan selama wabah atau di daerah dengan transmisi komunitas meluas. Deteksi dan isolasi dini kasus positif di fasilitas layanan kesehatan, pusat/tempat tes COVID-19, panti wreda, lembaga pemasyarakatan dan sekolah; pada tenaga garis depan dan tenaga kesehatan, dan untuk pelacakan kontak pada situasi transmisi komunitas meluas. Tracing kontak pasien terkonfirmasi positif.

“Antigen rapid test (tes cepat antigen) tidak direkomendasikan dilakukan pada tempat atau populasi dengan prevalensi penyakit yang diperkirakan rendah (misalnya: skrining di pintu masuk bandara atau perbatasan negara, skrining donor darah, bedah elektif), terutama jika tes konfirmasi NAAT tidak langsung tersedia. Persyaratan biosafety dan kontrol infeksi tidak terpenuhi. Kasus nol atau hanya sporadic. Asimptomatik, kecuali terdapat kontak dengan kasus konfirmasi,” jelasnya.

Sebelum kegiatan pengambilan spesimen dilaksanakan, harus memperhatikan kewaspadaan universal (universal precaution) untuk mencegah terjadinya penularan penyakit, meliputi selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun sebelum dan sesudah tindakan serta pemasangan APD level 3 sesuai Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) Kemenkes revisi 05 serta diwajibkan menyediakan tempat sampah infeksius.

“Hasil pemeriksaan antigen rapid test (tes cepat antigen) memiliki kesesuaian baik dengan hasil RT-PCR pada nilai Ct yang berbeda untuk masing-masing merk rapid test. WHO mengumumkan kesesuaian yang baik pada fase prasimptomatik (1-3 hari sebelum munculnya gejala) dan fase simptomatik awal (dalam waktu 5-7 hari pertama perjalanan penyakit),” terangnya.

Apabila hasil deteksi antigen hasilnya positif maka hrs dilanjut konfirmasi dengan pemeriksaan RT-PCR, lakukan karantina atau isolasi sesuai dengan kriteria serta menerapkan PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat: mencuci tangan, menerapkan etika batuk, menggunakan masker saat sakit, menjaga stamina) dan physical distancing.

Jika hasil deteksi rapid antigen negatif, maka perlu diedukasi bahwa hasil negatif tidak menyingkirkan kemungkinan terinfeksi SARS-CoV-2 sehingga masih berisiko menularkan ke orang lain, disarankan tes konfirmasi swab RT-PCR, terutama bila pasien bergejala atau diketahui memiliki kontak dengan orang yang terkonfirmasi Covid-19. Hasil negatif dapat terjadi pada kondisi jumlah virus di bawah level deteksi alat.

Kelebihan penggunaan rapid test antigen diantaranya mendeteksi komponen virus langsung, baik untuk deteksi fase akut (early case detection), tidak membutuhkan masa inkubasi untuk timbul hasil positif, tidak memerlukan spesifikasi laboratorium khusus untuk pengerjaan rapid test serta tidak memerlukan ketrampilan petugas secara khusus dalam pengerjaan rapid test.

Sementara kekurangan dari penggunaan rapid test antigen diantaranya hanya dapat mendeteksi pada fase akut padahal RT-PCR masih positif, menggunakan sampel saluran napas atas (swab naso/orofaring), ketidakterampilan petugas dalam pengambilan spesimen dapat mempengaruhi hasil, membutuhkan APD level 3 untuk pengambilan specimen, memerlukan perhatian khusus terhadap sensitivitas yang bervariasi serta uji validasi masih terbatas sehingga belum dapat menggantikan posisi RT-PCR. (wan)