Thursday, June 17, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Selama Pemudik Dikarantina, Petugas Medis Melakukan Observasi

Selama Pemudik Dikarantina, Petugas Medis Melakukan Observasi

Reporter : Syamsul Akbar
KRAKSAAN – Semakin hari jumlah pemudik yang masuk di Kabupaten Probolinggo dan dikarantina memang bertambah. Terus terang seiring dengan perjalanan waktu butuh persiapan yang maksimal. Karena semakin siap maka akan semakin baik dalam melakukan karantina para pemudik.

“Selama dikarantina akan dilakukan observasi selama 14 hari. Kalau selama karantina tidak ada apa-apa, ya sudah selesai dan lanjut pulang. Kalau ada gejala-gejala dan tambah sesak napas baru akan dikirim ke rumah sakit rujukan di RSUD Tongas dan akan dilakukan cek swab. Jika selama diobservasi tidak ada apa-apa berarti sehat,” kata Juru Bicara Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto.

Menurut Anang, pada prinsipnya kebijakan awal terkait tempat karantina yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo hanya bersifat sementara. Satgas Penanggulangan Bencana Non Alam dan Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Probolinggo hanya bertanggung jawab di check point saja.

“Nanti kebijakan lebih lanjut untuk karantina diserahkan kepada kecamatan. Masing-masing kecamatan nanti diterjemahkan lagi ke level desa melalui check point-check point. Selama ini di semua kecamatan sudah mempersiapkan pusat-pusat karantina untuk para pemudik,” jelasnya.

Anang menerangkan, kegiatan karantina yang dilakukan terhadap pemudik ini dilakukan karena Pemkab Probolinggo ingin memastikan bahwa orang yang akan tinggal di Kabupaten Probolinggo itu kondisinya sehat. Jadi kalau memang sakit ya diobati.

“Ada dua sisi, pemudiknya kita jaga untuk memastikan mereka sehat dan kedua lingkungan masyarakat yang akan didatangi dan dikunjungi supaya sehat. Yang kita lakukan ya mengawasi setiap hari selama 14 hari. Kalau sehat ya sudah, kalau sakit kita obati. Kalau sampai parah kita rujuk ke RSUD Tongas. Jadi kita itu mengobservasi dan membantu mereka,” terangnya.

Selama proses karantina tambah Anang, para petugas medis menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dalam level tertentu. Dimana mereka harus memakai sarung tangan, masker bahkan kalau tenaga kesehatanpun mereka memakai penutup muka.

“Alasannya, kita mencoba menjaga resiko-resiko penularan walaupun tidak mengatakan bahwa pemudik itu membawa penyakit, tetapi itu prosedur untuk melindungi diri masing-masing baik itu yang dikarantina maupun yang melakukan pemeriksaan atau yang menjaga. Terlebih sudah ada instruksi dari pemerintah kalau masyarakat sekarang wajib memakai masker,” pungkasnya. (wan)

cww trust seal