Wednesday, October 27, 2021
Depan > Pemerintahan > Reaktifasi BTS Harus Ditata Sedemikian Rupa dan Tidak Terburu-buru

Reaktifasi BTS Harus Ditata Sedemikian Rupa dan Tidak Terburu-buru

Reporter : Syamsul Akbar
PROBOLINGGO – Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE didampingi Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto menerima tamu dari TN-BTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) di Pringgitan Rumah Dinas Bupati Probolinggo, Rabu (8/7/2020) siang.

Tamu dari TN-BTS sebanyak 4 (empat) orang yang dipimpin oleh Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bidang PTN Wilayah 1 TN-BTS Sarmin ini membahas terkait dengan rencana dibukanya kembali obyek wisata Bromo Tengger Semeru (BTS) di tengah-tengah pandemi Corona Virus Disease (COVID-19).

Dalam kesempatan tersebut Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE menyampaikan bahwa obyek wisata Bromo Tengger Semeru ini merupakan sektor pariwisata yang sangat diminati dan menjadi kepercayaan dari masyarakat baik dari dalam maupun luar Kabupaten Probolinggo.

“Obyek wisata Bromo Tengger Semeru sendiri berada di 4 (empat) wilayah. Oleh karena itu, pengelolaan strategi dan SOP (Standart Operasional Prosedur) dari 4 wilayah ini haruslah sama. Sehingga penyamaan persepsi dan penguatan koordinasi itu sangat penting dilakukan,” katanya.

Lebih lanjut Bupati Tantri mengharapkan agar reaktifasi Bromo Tengger Semeru ini ditata sedemikian rupa dan tidak terlalu terburu-buru. Sekaligus memastikan kesiapan dari 4 wilayah (Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang), khususnya pintu masuk yang berada di sekitar TN-BTS.

“Kami mengharapkan protokol kesehatan dan SOP kunjungan wisata dipastikan detailnya dan disepakati oleh 4 pintu masuk di TN-BTS. Jangan sampai ada perbedaan antara pintu masuk dari 4 wilayah tersebut. Semua itu harus disepakati oleh Dinas Pariwisata dan Sub Gugus Tugas Preventif dan Promotif dari 4 wilayah,” tegasnya.

Bupati Tantri tidak menginginkan pembukaan wisata Bromo Tengger Semeru ada masalah dikemudian hari. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan SOP new normal ini kepada guide yang ada di Bromo Tengger Semeru agar memiliki pemahaman yang sama.

“Begitu wisatawan tidak tertib dalam penerapan protokol kesehatan, maka guide bisa menegurnya. SOP ini jangan dipikir sendiri tetapi dilakukan melalui pemikiran bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 antar wilayah. Kita memang harus susah-susah dulu nanti kalau sistemnya sudah berjalan dengan baik, silahkan TN-BTS membuka wisata Bromo Tengger Semeru,” terangnya.

Sementara Plh Kepala Bidang PTN Wilayah 1 TN-BTS Sarmin mengungkapkan tujuan dari pertemuan ini adalah untuk menjalin silaturahim terkait dengan rencana reaktifasi Bromo Tengger Semeru di tengah-tengah pandemi COVID-19. Termasuk juga penyampaian hasil rapat yang dilakukan bersama dengan 4 (empat) wilayah dan Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur pada awal Juli 2020 lalu. “Hari ini kita sampaikan hasil rumusannya kepada Ibu Bupati Probolinggo,” ujarnya.

Menurut Sarmin, intinya sesuai Surat Edaran dari Dirjen KSDAE tersebut bahwa selain zona kuning dan zona hijau kesepakatannya memerlukan rekomendasi dari Bupati untuk reaktifasi tersebut.

“Kebetulan yang di 4 kabupaten hasil koordinasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Provinsi Jawa Timur, hanya Kabupaten Lumajang yang berada pada zona kuning. Untuk Kabupaten Probolinggo dan Malang itu zona orange. Sementara Kabupaten Pasuruan masih zona merah,” tegasnya.

Sarmin menambahkan aktifitas ini membutuhkan rekomendasi dari Bupati selaku Ketua Gugus Tugas COVID-19 yang ada di wilayah. “Kita masih menunggu rekomendasi itu dan menunggu kematangan SOP tentang kunjungan wisata. SOP kita siapkan dan share kepada 4 wilayah. Nanti akan dibahas oleh 2 tim dan harapannya SOP itu disepakati, sehingga rekomendasi keluar dari 4 wilayah tersebut,” terangnya.

Terpisah Kepala Disporaparbud Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto menyampaikan dari sisi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo terkait SOP mulai dari hotel, restoran, infrastruktur dan lain sebagainya sudah siap. Tetapi untuk membuka obyek wisata Bromo Tengger Semeru ini perlu kesepakatan bersama 4 wilayah sehingga ada satu SOP pengelolaan wisata Bromo Tengger Semeru.

“Nanti akan ada rapat koordinasi untuk membahas SOP dari 4 wilayah sehingga menjadi SOP TN-BTS. Mulai dari hotel, rumah makan, jeep dan kudanya, SOP dari 4 wilayah haruslah sama. Jadi sebelum benar-benar dibuka, SOP TN-BTS ini benar-benar akan dimatangkan terlebih dahulu,” katanya. (wan)