Friday, September 17, 2021
Depan > Kemasyarakatan > Produk Olahan Bawang Merah Tembus Ekspor ke Jepang

Produk Olahan Bawang Merah Tembus Ekspor ke Jepang

Reporter : Hendra Trisianto
DRINGU – Pandemi Covid-19 seakan bukan penghalang bagi dua pengusaha produk makanan olahan asal Kabupaten Probolinggo untuk terus berkiprah dalam memajukan usahanya. Tidak hanya eksis dalam pasar lokal saja, permintaan pasar ekspor pun harus mereka penuhi setiap tahunnya.

Masyarakat Kabupaten Probolinggo tentu sudah tidak asing dengan produk olahan bawang merah UD Dua Putri Solehah dari Desa Tegalrejo Kecamatan Dringu dengan merek dagang “Hunay”.

Menurut data rekapitulasi ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo bahwa sejak tahun 2019 sampai 2021, UD Dua Putri Solehah tidak pernah absen dalam mensupport pasokan pasar ekspor produk bawang goreng terutama untuk negara Jepang. Tahun 2019 tercatat sebesar 990 kilogram, kemudian tahun 2020 kapasitasnya naik menjadi 2 ton lebih dan untuk tahun 2021 sebesar 1,8 ton.

Untuk saat ini produk kebanggaan UD Dua Putri Solehah turut memberi support event “Merdeka Eksport” Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang rencananya dilaksanakan secara serentak pada 17 titik pelabuhan pada bulan Agustus ini.

Nurul Khotimah, pemilik UD Dua Putri Solehah mengemukakan, ekspor telah menjadi targetnya sejak awal usahanya berjalan. Banyak standar-standar yang sebelumnya harus dipenuhi seperti Good Manufacturing yang mengatur terkait tempat produksi, alur produksi, sanitasi dan sirkulasi, penerangan sampai keamanan produk saat proses produksi.

Nurul menambahkan sebelumnya pihaknya juga telah mempelajari seluruh prosedur dan regulasi perdagangan ekspor-impor yang didapatnya dari event trademart. Mulai dari bagaimana cara mencari buyer, prosedur dan proses tradingnya Nurul sudah cukup paham. Selain itu baru baru ini pihaknya juga menjadi binaan Bank Indonesia dan berhasil menjuarai event bergengsi yakni bothcamp supplier to ekspor.

“Salah satu kegiatannya adalah business matching dengan beberapa negara tujuan ekspor termasuk Thailand. Namun belum bisa langsung order, karena kami belum memiliki dokumen Hazard Anaysis Critical Control Point (HACCP), yang menjadi syarat utama perdagangan ekspor,” jelas Nurul Khotimah.

“Kedepannya jika dokumen ini sudah kami kantongi, kami akan langsung menghubungi para ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) yang mengurusi ekspor di berbagai negara. Kemendag RI memiliki data base yang bisa kita akses melalui ITPC terkait negara mana saja yang sedang membutuhkan produk kita,” terangnya.

Sedangkan Plt Kepala Disperindag Kabupaten Probolinggo Moch. Natsir sangat menyayangkan, karena UD Dua Putri Solehah belum memiliki dokumen dan sertifikasi khusus untuk industri produk makanan (HACCP), sehingga belum bisa melakukan ekspor sendiri. Padahal selain pengetahuan tentang ekspor impor sudah sangat memadai, dokumen-dokumen pendukung produknya sudah memenuhi syarat.

“Selaku fasilitator saat ini kami telah menjembatani komunikasi antara Disperindag Provinsi Jatim dan Scuvindo selaku konsultan yang menerbitkan dokumen HACCP tersebut. Mudah-mudahan tahun ini rampung, sehingga tahun depan harapannya UD Dua Putri Solehah mampu ekspor sendiri tanpa melalui eksportir perantara,” ungkap Natsir. (dra)