Tuesday, June 25, 2024
Depan > Kemasyarakatan > Pj. Sekda Heri Tinjau Sentra Pengembangan Budidaya Anggur Desa Krejengan

Pj. Sekda Heri Tinjau Sentra Pengembangan Budidaya Anggur Desa Krejengan

Reporter : Syamsul Akbar
KREJENGAN – Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo meninjau pembangunan Balai Desa Krejengan dan sentra pengembangan budidaya anggur di Desa Krejengan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo pada Jum’at (8/3/2024).

Kedatangan Pj Sekda Heri di Desa Krejengan ini disambut oleh Camat Krejengan Bambang Heriwahjudi bersama jajaran Forkopimka Krejengan dan Kepala Desa Krejengan Nurul Huda yang juga sebagai Ketua Perkumpulan Aparatur Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (PAPDESI) Kecamatan Krejengan.

Peninjauan ini diawali di Balai Desa Krejengan Kecamatan Krejengan. Di lokasi ini, pembangunan Balai Desa Krejengan masih berlangsung. Bahkan Sebagian tukang-tukang masih menyelesaikan pekerjaannya.

Kegiatan ini dilanjutkan pada lokasi pengembangan budidaya anggur yang berada di lahan pekarangan Kantor Perpustakaan Desa (Perpusdes) Aqila Desa Krejengan Kecamatan Krejengan. Di lokasi ini, Pj Sekda Heri melihat-lihat dari dekat prospek pengembangan budidaya anggur yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Krejengan.

Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo Heri Sulistyanto mengatakan sebetulnya kunjungan yang tidak disengaja ini dilakukan karena ada informasi dari Camat Krejengan terkait dengan kegiatan pembangunan balai desa yang ada di Desa Krejengan.

“Alhamdulillah, teman-teman kepala desa pelan-pelan sudah mulai memperbaiki fasilitas pelayanan yang mereka kelola. Ini bentuk apresiasi kepada kepala desa yang telah mengikhtiarkan ini dan mudah-mudahan ke depan Kabupaten Probolinggo ini dari segi pemberian pelayanan khususnya yang ada di desa itu juga sudah bisa setara dengan desa-desa lain yang ada di Jawa Timur,” katanya.

Terkait dengan peninjauan ke sentra pengembangan budidaya anggur di Desa Krejengan, Pj Sekda Heri mengaku bahwa keberadaan kebun anggur ini di luar ekspektasinya. Dimana Camat Krejengan bercerita bahwa ada salah satu desa nanti yang akan dijadikan sebagai sentra pengembangan budidaya anggur di Kabupaten Probolinggo.

“Kebetulan Pak Camat Krejengan ini sebagai Penasehat Asosiasi Petani Anggur Probolinggo Raya. Kita memang masih menjadi satu antara Kota dan Kabupaten Probolinggo. Bapak Camat bercerita kalau salah satu sentra yang akan dikembangkan adalah yang ada di Desa Krejengan. Alhamdulillah tinggal menunggu hasilnya saja,” terangnya.

Sementara Kepala Desa Krejengan Nurul Huda menyampaikan pengembangan budidaya anggur ini dilakukan berangkat dari sebuah keinginan dan juga icon Kabupaten Probolinggo berupa anggur dan mangga.

“Kami melihat potensi itu sebenarnya sangat mungkin untuk dikembangkan di Kabupaten Probolinggo. Namun akhir-akhir ini terutama anggur sudah banyak mulai ditinggal. Harapan kami paling tidak icon Probolinggo ini masih tetap terjaga,” ujarnya.

Menurut Huda, hal tersebut dimulai dari hal yang kecil mulai dari skala desa. Dimana pihaknya mencoba menanam anggur dengan memanfaatkan lahan pekarangan. Harapannya di Desa Krejengan ini bisa menjadi daya tarik untuk bisa dikembangkan di desa-desa yang lain terutama di Kabupaten Probolinggo, sehingga icon anggur dan mangga itu bisa tetep dikenal di Kabupaten Probolinggo.

“Kenapa kami tertarik melakukan pengembangan budidaya anggur itu di lahan pekarangan. Paling tidak harapan kami dengan menanam anggur itu bisa meningkatkan penghasilan masyarakat termasuk memanfaatkan lahan pekarangan dan bisa dijadikan semacam lokus pengembangan. Sekaligus pembelajaran bagaimana budidaya anggur dan bisa dikembangkan di masyarakat Desa Krejengan,” harapnya.

Sedangkan Camat Krejengan Bambang Heriwahjudi yang juga Penasehat Asosiasi Pembudidaya Anggur Indonesia (ASPAI) Probolinggo Raya mengaku selalu memotivasi semua pihak baik sekolah, pramuka hingga para kepala desa untuk ikut menanam anggur. Hal ini dikarenakan berdasarkan data dari BPS maupun Kementerian Perdagangan tahun 2020 Indonesia masih impor senilai Rp 7 triliun.

“Kemudian pemerintah meminta agar importir itu mensubstitusi. Artinya sebagian baik 5 persen hingga 25 persen harus dicukupi oleh anggur dalam negeri. Dalam hal ini, petaninya dari ASPAI sehingga di tahun 2024, 2025 hingga 2027 banyak program-program dari Kementerian Pertanian mulai dari bantuan-bantuan dari DAK untuk mempercepat substitusi. Misalnya 5 persen dari Rp 7 triliun bisa bisa ketemu Rp 350 miliar itu harus beli anggur petani lokal dalam negeri,” ungkapnya.

Yudi menerangkan ini sebenarnya secara potensi ekonomi itu peluang yang cukup besar sehingga di daerah Kabupaten Probolinggo karena yang dilihat ini inten mengembangkan anggur Desa Krejengan, termasuk kepala desa dan ada kelompok petani anggurnya, nanti untuk Kabupaten Probolinggo ada di Desa Krejengan dan di Kota Probolinggo ada di Kelurahan Jrebeng Lor sebagai sentra andalannya ASPAI yang nantinya sinergi dengan Dinas Pertanian setempat

“Harapannya di Desa Krejengan bersama-sama baik di kabupaten maupun di kota bisa mencukupi permintaan Kementerian Pertanian untuk substitusi anggur sehingga kita tidak tergantung ke impor. Secara perlahan petani anggur harus mulai meningkatkan areal tanam dan meningkatkan produksinya untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri sesuai permintaan pasar,” tegasnya.

Lebih lanjut Yudi menambahkan permintaan pasar itu adalah anggur-anggur yang bagus-bagus dan manis-manis. Kebanyakan petani anggur dari ASPAI itu sudah mencukupi anggur-anggur sebagaimana anggur yang selama ini ada impor di pasar-pasar.

“Tapi juga teman-teman tetap mempertahan ciri khas anggur lokal Prabu Bestari dan lainnya. Semuanya harus seiring dan sejalan. Mempertahankan produk lokal dan mencukupi permintaan pasar. Hal itu sudah dirintis oleh ASPAI Probolinggo Raya,” pungkasnya. (wan)